Foto-Foto yang Memengaruhi

Fathurrozak
30/9/2018 02:00
Foto-Foto yang Memengaruhi
(MI/ FATHURROZAK)

RAFLI Zulkarnaen, lelaki asli Betawi ini merupakan media sosial influencer yang berfokus pada Jakarta. Cukup berbekal telepon pintar, ia berburu momen dan lokasi di sudut Jakarta untuk menghasilkan foto yang menggugah.

Dari konsistensinya mengenalkan keindahan Jakarta, para instansi pemerintah pun tak ragu menggandengnya untuk turut mengampanyekan berbagai program, di antaranya mengampanyekan informasi gelaran pertemuan IMF di Bali, Oktober mendatang.  
Muda berkesempatan ngobrol santai dengan lelaki yang akrab disapa Ijul ini pada Selasa (25/9), di kawasan Senayan, Jakarta Selatan, simak ya!

Ceritakan dong proses kamu merintis jalan menjadi influencer?

Awal mulanya tidak ada niatan untuk jadi influencer, sebutan itu kan juga bukan dari diri sendiri. Instagram mulai muncul 2012, di tahun sebelumnya suka iseng unggah foto ke Facebook, dari foto-foto ngikutin komunitas sepeda karena di 2010-2011 kan Jakarta lagi gencar-gencarnya car free day (CFD).

Nah, foto-foto dulu lebih fokus ke sepeda, atau keliling ke mana, foto sepeda, tapi lebih fokusnya latar belakang foto sepedanya itu di mana, misal Bunderan HI, atau Sunda Kelapa. Kemudian, mulai aktif menggunakan Instagram, ngikutin komunitas, sempat ikut juga kegiatan World Wide Instameet, nyari-nyari lokasi yang minimalis, instagramable, sampai akhirnya ngalir aja sampai sekarang.

Tahun 2015 merasa cocok moto di Jakarta aja, selain bujet yang memang enggak bisa memungkinkan keluar kota karena kan banyak orang foto di gunung di mana, nah gue memutuskan foto sekeliling aja, dan ternyata ada juga yang suka.

Barulah mulai nemu karakternya karena sebenarnya bujet dan keterbatasan yang lain-lain, termasuk peralatan. Follower banyak dan mulai meningkat juga di tahun itu karena konsisten unggah tentang Jakarta, traffic engagement di Instagram makin banyak. Jadi, 3 tahunan lah. Lebih seneng tuh kalau orang bisa senang dari yang kita unggah, ketimbang nambah follower.

Jadi semua gara-gara konten Jakarta?

Semuanya gara-gara Jakarta. Kan jarang banget akun personal yang nunjukin sisi bagus Jakarta, paling ya lebih ke arah pamer atau eksistensi, dan akun informatif, jarang kalau akun personal yang kontennya konsisten tentang Jakarta.

Dalam membangun karakter, kita enggak sekadar unggah tentang Jakarta, mungkin orang lihat cuma unggah konten. Namun, di balik itu di dunia nyatanya kita aktif juga, kayak misal gue ambil foto, ketemu tukang yang lagi dagang, pertama ya ngobrol dulu, beli dagangannya, jadi ada interaksi, enggak sekadar demi kebutuhan konten aja. Gue juga menggunakan semua fitur yang ada di Instagram, stories, dan lain-lainnya, bukan cuma yang diunggah ke beranda (feeds), ngebahas tentang Jakarta semua.

Terus kok bisa dipanggil sebagai influencer?

Menurut saya influencer itu bukan dinilai sendiri, melainkan dinilai sama orang. Kalau ada orang ngikutin, berarti dia itu influencer buat orang itu.

Semenjak saya konsisten unggah konten Jakarta, banyak yang ‘kepo’ ke tempat yang saya datangi, mulai keseringan kayak gitu, lalu dipanggil pembicara buat lokakarya, seminar, bahas tentang Jakarta juga.

Memang lebih duluan diundang untuk jadi pembicara jika dibandingkan dengan endorse. Tujuannya, untuk nunjukin Jakarta keren!

Perbedaan influencer dengan selebgram, bagaimana sih?

Influencer itu punya pengaruh sangat besar, maksudnya untuk ke satu orang sampai bikin berpikir dengan konten apa yang kita buat, itulah influencer. Selain itu, kita juga bisa menyebarkan konten secara luas.
Sementara itu, selebgram pengaruh untuk menggerakkan audiensinya memang kurang. Namun, dia bisa menyebarkan konten yang lebih luas.

Katanya sempat malu mencantumkan bio I Love Jakarta di Instagram?

Kalau untuk bio, awalnya agak jijik, orang pertama yang lihat juga mungkin akan bilang, Jakarta macet cuy! Ngapain sih lo bagus-bagusin.

Namun, aku enggak malu sekarang, malah banyak yang ngikutin.

Pertama, suka banyak teman luar kota atau bahkan luar negeri datang ke Jakarta, mau tahu dari yang saya lihat. Belum lama ada dari bule Spanyol minta ditemenin untuk keliling Jakarta. Baik teman dari luar kota maupun turis mancanegara yang minta temani keliling, saya enggak kenain tarif.

Seberapa penting untuk punya karakter?

Penting! Hanya, untuk membentuk karakter itu ngalir aja, di saat ngalir bisa nyobain apa pun, saya pun dulu dari yang konten sepeda, makanan, baru ketemu titik temunya yang nyaman, tentang Jakarta.

Kalau ketemu orang, kita bisa ngobrol banyak hal dan nyambung, jadi enggak cuma tahu satu topik, dan pasti akan enggak bisa ngobrol banyak.

Terpenting itu sebenarnya bukan cuma dapet uang dari medsos. Namun, juga dapet pengalaman banyak. Jangan sampai social media yang membuat kita makin dikenal, makin ngejauhin kita dari orang deket, buat eksistensi, dan akhirnya teman kita yang deket malah jauh.

Justru dengan berbagi hal positif bisa mendekatkan yang jauh, dan kenal sama orang yang enggak kita ekspektasikan, seperti diundang Presiden Jokowi. Aktif di medsos bisa dapat pengalaman banyak karena melakukan hal positif.

Terkait endorsement, bagaimana kamu memilahnya?

Saya lihat dulu apa relate sama saya apa tidak, pas enggak nih. Kedua, saya nanya apa yang saya lakukan, apa saya cuma posting atau bagaimana. Ketiga baru masalah uang/fee.

Kalau enggak mikirin ketiga itu, nanti salah. Jadi buat iklan aneh-aneh atau brand yang menurut saya tidak terlalu relevan buat saya, ya ditolak.

Saya enggak mau ngubah citra positif di akun saya sebagai akun iklan, inginnya sebagai akun yang orang tuh nyari, "ke mana ya hari ini ke Jakarta?" Itu bisa lihat ke akun saya.

Kalau soal fee, sebenarnya lebih ke apa yang saya lakuin, beda-beda. Ada yang cuma datang ke acara, ke luar kota ikut tur, atau kontennya kita yang buat sendiri atau enggak, dan berapa konten yang kita post. Misal, datang ke acara, kalau enggak ada yang kita lakuin, enggak masalah, nah kalau minta post itu sudah bisa dikenai fee.

Kayak diundang sama Jokowi, ikut tiga hari, saya tidak tanya berapa dibayar. Namun, upload sesuka saya karena saya suka sama acaranya. Kalau datang ke acara, tapi enggak suka, cuma si orangnya pingin banget untuk kita post, baru kenain rate. Ada klasifikasi sendiri sih.

Kiat kamu biar bisa stand out?

Banyak yang jago bikin konten kreatif, tapi tidak banyak yang pintar buat publish-nya. Kalau enggak bisa nyebarin karya kita, orang enggak akan tahu. Selain jago untuk konten kreatifnya, juga harus jago cara publikasinya.

Apa yang diminta dari brand?

Beda-beda permintaan. Ada yang ingin biar follower mereka bertambah, produknya laku. Namun, kebanyakan menurut saya sih, biar produk mereka lebih banyak dilihat.

Perbedaan saat memulai dan sekarang?

Selain dari teknologi, secara penggunaan juga jelas berbeda, dulu untuk fun bareng teman-teman, kita lagi foto bareng upload, buat relasi kita aja. Sekarang mulai serius ke arah bisnis, eksistensi, publikasi segala macem.

Saya lebih suka yang dulu ya orang lebih bisa fun, friendly, sekarang follower dikit enggak mau kenal ah. Padahal, seharusnya makin welcome, orang makin terkenal justru makin nutup diri. Dulu nyari temen gampang, sekarang susah.

Perbedaan juga jelas ya, sekarang lebih besar. Namun, yang saya sukai sebenarnya pengalaman. Uang bisa dicari di mana aja, tapi kalau pengalaman kan enggak, kayak tiba-tiba dihubungi sama instansi pemerintahan, itu suatu yang gila banget, kebanggaan tersendiri.

Lebih enakan kerja sama dengan pemerintah atau brand?

Pemerintah. Secara finansial, mungkin sedikit atau enggak ada malah, kalau yang dari brand ya memang besar (fee) karena mereka jelas ada untung kita juga untung. Saya sih mikir-nya, apa yang bisa saya lakukan buat negara. Selain itu, juga bisa punya akses yang tidak mungkin didapatkan, ketimbang misalnya kerja sama dengan brand.

Cara menjaga relasi dengan instansi pemerintah?

Pertama, mau kontribusi aja dulu. Jangan cuma bikin konten ketika pas dibayar aja. Jangan malu buat post yang jelek dan yang bagus, biar orang juga bisa menilai, instansi pemerintahan juga bisa evaluasi. Terakhir, jangan duit bangetlah.

Akhir-akhir ini kamu kampanye tentang Asian Para Games (APG) juga?

Saya tidak ada dibayar, tidak disuruh, saya tidak diundang, dateng aja saat ada parade saat itu, nyamperin pagi-pagi. Saya legawa buat datang sendiri karena ingin update, biar orang tahu akan ada Asian Para Games nih. Banyak yang mengira APG enggak seru segala macem. Namun, para atlet difabel yang akan berlaga juga patut diapresiasi. Saya juga lebih dapat untuk storytelling-nya.

Kampanyein terkait pertemuan World Bank dan IMF di Bali juga ya?

Diundang sama Kemenkominfo, untuk datang ke tempat-tempat yang akan digunakan buat pertemuan IMF di Bali. Kalau sama instansi Kemenkominfo, sejak Asian Games lalu, aku diajak kerja sama.

Dipilih 30 orang dari 100 lebih sebelumnya, dipilih dari yang aktif, pas di Bali selama 2 hari, nyebarin lewat Instagram, tentang informasi bakal ada IMF di Bali. Supaya tahu IMF itu apa. Seluk beluknya. Ngunjungin venue yang dipakai untuk IMF. Salah satunya Bandara I Gusti Ngurah Rai yang lagi disiapin landasan baru karena akan menyambut dari perwakilan dari 189 negara, jadi bandara diperluas. Dan ternyata duitnya dari tamu yang datang ke sini, semua bayar sendiri, dan itu saya share di medsos. (M-1)

BIODATA

Nama: Rafli Zulkarnaen
Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 26 September 1995
Profil: Media Sosial Influencer yang berfokus pada konten Jakarta
Akun Instagram: @ijoeel

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya