Yuk, Belajar Disiplin dengan Matematika

Rosmery Sihombing
30/9/2018 01:00
Yuk, Belajar Disiplin dengan Matematika
(DOK GAKKEN)

DI sebuah ruang kelas, ada enam murid kelas 2 dan 3 sekolah dasar (SD), dan dua guru (sensei). Sebelum memasuki kelas, anak-anak berbaris rapi. Secara teratur mereka berjalan memasuki kelas dan tidak lupa menyalami serta mencium tangan guru di depan pintu masuk.

Sebelum memulai pelajaran matematika, murid-murid terlebih dulu mengucapkan tujuh janji, yang di antaranya berjanji untuk tidak menyontek, berisik, dan disiplin.

Bila ada murid yang tidak mengerti dia mengacungkan tangan dan maju ke meja guru untuk bertanya langsung. Begitu juga saat mengerjakan lembar kerja (worksheet). Murid diharuskan membaca dahulu (dengan suara keluar bukan dalam hati) setiap perintah dalam lembar kerja.

Itu penting, selain murid belajar berhitung, murid juga membaca. Setelah selesai, para murid pun antre saat memberikan ke gurunya. Bila jawaban mereka benar, guru akan memberi stiker.

Sebelum pulang, para murid juga harus merapikan meja dan kursinya, serta memungut sampah di atas meja.

Di lembar kerja, murid mengerjakan penjumlahan dan pengurangan. Misalnya, ada gambar dua ekor burung dan tiga ekor burung. Pertanyaannya menjadi berapa ekor burungkah jika digabung? kemudian ada tanda titik-titik untuk diisi, lalu kotak kosong yang juga harus diisi jawabannya.

Terkesan soal tersebut mudah, tetapi yang kerap dilupakan ialah murid hanya menuliskan jawaban di satu kotak jawaban.

Perlu diperhatikan, setiap murid mengerjakan lembar kerja berbeda-beda sesuai kompetensi pembelajaran mereka. Guru yang belajar dari guru matematika di sekolah itu juga memilih lembar kerja yang sesuai setelah menilai tingkat pemahaman anak.

Guru juga tidak memberi tahu jawaban, tetapi memberi pertanyaan dan saran yang membuat anak paham, bisa berpikir, dan belajar sendiri.

Dari jepang ke pare-pare

Demikian sedikit gambaran murid-murid kelas 2 dan 3 SD yang ikut program after school (AS) dari Gakken Educational Co Ltd, di sebuah SD negeri di Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

"Mengisi jawaban sesuai perintah itu yang penting. Di situ yang kita nilai ialah disiplin murid dalam menjalankan perintah, bukan hanya menjawab dengan benar," ujar Global Business Office Sales Department Gakken Educational Jepang, Teppei Shioda, beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Program AS itu, lanjutnya, sudah berjalan di seluruh SD di kota Parepare sejak Februari 2017 dengan menggunakan materi dan metode pembelajaran Gakken Classroom.

Menurutnya, program AS ialah belajar matematika untuk murid kelas 2 dan 3 SD, selama 1 jam dalam empat hari seminggu. Indonesia, tambah Teppei, ialah negara pertama yang ditawari program AS oleh Gakken Educational.

Dalam acara tersebut hadir pula Miwa Kanai, Senior Manager, Global Strategy Division, Gakken Holdings Co Ltd. Mengutip pendapat ‘mengapa Indonesia?’ Menurut Miwa, Presiden Direktur Gakken Educational, Toru Tsuchiya sangat ingin memberikan anak-anak Indonesia tiga filosofi dalam belajar, yakni joy of learning (kesenangan belajar), self confidence (percaya diri), dan zest for living (semangat untuk terus maju).

"Untuk itu hal yang penting tidak hanya apa yang kita ajarkan pada anak, tetapi bagaimana anak-anak belajar. Pendidikan akan semakin menitikberatkan pada cara belajar dan cara berpikir," jelas Miwa.

Pelajaran moral

Lebih lanjut, Teppei mengatakan, bahan ajar dan metode Gakken juga sangat mementingkan tokuiku atau pendidikan moral.

"Contohnya, dalam mengerjakan lembar kerja, kami bukan cuma mementingkan hasil jawaban murid yang benar, tetapi juga ada pendidikan moral di sana, yaitu disiplin, menjaga lingkungan, sopan santun, budaya antre, dan saling menghormati," jelasnya.

Untuk itulah, tambah Teppei, selama setahun  menyelenggarakan proyek percontohan di Kota Parepare, program AS telah berhasil meningkatkan kompetensi akademik dasar dan sikap belajar pada banyak anak-anak di kota itu.

"Sebagian besar orangtua yang kami tanyai, mereka mengatakan merasakan manfaat AS bagi anak-anak. Program AS tidak hanya meningkatkan kompetensi akademik siswa, seperti membaca, berhitung, tetapi juga nonakademik, yakni percaya diri, disiplin, semangat belajar," jelasnya.
Gakken Classroom telah dikembangkan sejak 1980 dan saat ini merupakan bimbingan belajar nomor satu di bidang matematika SD di Jepang. Kini terdapat 15 ribu kelas dengan 420 ribu murid. Program tersebut juga ditawarkan di Thailand, Myanmar, India, dan Korea Selatan. (Ros/M-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya