Main Keroncongan Yuk

Suryani Wandari
30/9/2018 00:10
Main Keroncongan Yuk
(MI/WANDA)

MUDA mendengarkan aksi anak-anak muda pencinta keroncong itu dalam perhelatan tahunan Festival Orkes Keroncong Anak Muda (FOKAM) Pilar Indonesia yang bertema Say no to drugs, say yes to keroncong di Sekolah Pilar Indonesia, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (15/9).

Seperti tiga kali penyelenggaraan sebelumnya, di tahun keempatnya ini, terdapat kompetisi musik keroncong yang diikuti grup atau orkes keroncong muda dari Bandung, Cilacap, Malang, Madiun, Jombang, Kendal, Surakarta, dan Yogyakarta.  

"Sehingga bukan sekadar meningkatkan minat dan kecintaan anak muda pada keroncong, melainkan sebagai misi berbagi nilai tentang pentingnya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran narkoba," kata Ketua Dewan Pembina Yayasan Pilar Indonesia, Iwan Kresna Setiawan.

Setiap grup membawakan dua lagu yang satu di antaranya merupakan lagu baru ciptaan setiap grup dengan tema antinarkoba. "Programnya memang bagus, membuat kami kreatif bukan hanya menyanyikan lagu, melainkan juga membuat lagunya, apalagi dengan tema narkoba membuat kami ingat untuk menjauhi barang tersebut," kata Alia Oryza Safitri, peserta dari Komunitas Keroncong Anak Jombang selepas tampil.

Sebanyak 11 grup peserta ini tampil beradu strategi, skill untuk memperebutkan piala bergilir Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.
Suasana kompetisi ini pun semakin semarak dengan berbagai acara lain, seperti Malam Apreasi Keroncong, penampilan musik kolintang oleh Children International Summer Village (CISV) Chapter Cenderawasih Sendratari hingga Drama Musikal Keroncong bertema Antinarkoba yang dimainkan siswa Sekolah Pilar Indonesia di hadapan para orangtua dan ratu keroncong Indonesia, Waldjinah.

"Inovasi ini kami buat agar anak muda mau untuk belajar dan memainkan musik keroncong. Kisah yang dibawakannya pun ringan dengan sentuhan komedi. Namun, tetap memberikan pesan mendalam," kata Julian Ichsana Argeswara, pemain cuk atau ukulele dari Sekolah Pilar Indonesia.

Julian bersama rekannya yang lain ini menampilkan kisah bertema sama, dengan mengaransemen belasan lagu, seperti Begadang dari Rhoma Irama, Bumi Emas Tanah Airku dari Gesang hingga Walang Kekek yang dipopulerkan Waldjinah.

Mereka menunjukkan bagaimana cara narkoba masuk di kalangan anak muda, yakni dikemas menjadi permen. Untung saja, warga kampung selalu waspada dan saling membantu memerangi narkoba.

Kecintaan kepada Keroncong

Meskipun sering dianggap kuno karena merupakan musik tradisional yang sudah ada sejak zaman penjajahan, para pemain keroncong ini tak peduli, bahkan misinya ingin mempertahankan budaya bangsa. Mereka telah kepincut dengan musik lembut tersebut, seperti yang dirasakan Julian yang sudah 4 tahun lalu bermain keroncong.

"Saat itu aku senangnya dengan musik pop dan jazz. Tapi, sekolah memasukkan keroncong dalam pelajaran musik. Awalnya ogah-ogahan, tapi lama kelamaan enak juga main musik keroncong," kata Julian.

Hal yang sama pun dirasakan Prabu Dylan Jacobuwono Nugroho Saputro, peserta festival keroncong dari Madiun. Berawal dari mendalang, ia terus menambah skill dirinya masuk ke musik keroncong dan mulai berlatih beragam alat musiknya. "Di tahun 2017, saya mendapatkan penghargaan dari Sekolah Pilar Indonesia dan memenangkan beasiswa selama dua bulan," kata Prabu.

Kini, Prabu pun sering tampil di acara keroncong sambil terus mengasah kemampuannya. Prabu memiliki strategi baru agar musik disukai anak muda, yakni dengan memadukan keroncong dan metal.

Harapan Prabu ini pun menjadi harapan semua orang, termasuk Waldjinah yang menginginkan keroncong terus ada dan diperdengarkan di negeri ini. "Jangan takut main keroncong. Keroncong milik kita dan hanya ada di Indonesia. Saya ingin banyak anak muda mau seperti saya," kata Waldjinah. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya