Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PERHELATAN Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang pada 18 Agustus-2 September lalu berjalan sukses, baik dari segi penyelenggaraan maupun prestasi. Apresiasi datang dari berbagai pihak. Bahkan, penyelenggaraan Asian Games ke-18 ini menuai pujian dari berbagai media asing.
Dalam pemberitaan selama perhelatan pesta olahraga terbesar di Benua Asia itu, kata sukses menjadi salah satu unsur bahasa yang paling kerap terdengar ataupun tertulis di media massa, baik cetak, televisi, maupun daring. Kata sukses yang juga bermuradif dengan adjektiva berhasil memang sangat melekat dalam pemberitaan terkait dengan pertandingan atau perlombaan cabang olahraga.
Untuk kali ini, penulis ingin menyoroti penggunaan kata berhasil oleh para jurnalis. Dalam penyajian berita, kata berhasil kerap digunakan di tempat yang salah. Misalnya, dalam sebuah judul di media daring tertulis 'Medali Emas Berhasil Diraih Atlet Panjat Tebing'. Sekilas, kalau kita baca, memang tidak ada masalah dengan kalimat judul tersebut. Akan tetapi, kalau kita lebih teliti lagi, menempatkan kata berhasil di judul itu sama sekali tidak tepat, bahkan terkesan mubazir. Justru dengan menghilangkan kata berhasil, judul itu bisa menjadi berterima, dengan struktur kalimat yang berbentuk pasif, 'Medali Emas Diraih Atlet Cabang Panjat Tebing'.
Sejatinya, kata berhasil lebih tepat atau berterima jika dilekatkan dengan kata kerja aktif. Misalnya kalimat 'Atlet cabang panjat tebing berhasil menyumbang medali emas bagi kontingen Indonesia'. Dalam kalimat itu, kata berhasil diikuti kata kerja aktif menyumbang. Jadi, bentuknya pun merupakan kalimat aktif.
Logika siapa yang berhasil di kalimat itu juga tersirat jelas, yakni atlet cabang panjat tebing. Bandingkan dengan judul 'Medali Emas Berhasil Diraih Atlet Panjat Tebing'. Siapa yang berhasil?
Seperti diketahui, pelaksanaan Asian Games 2018 juga diliputi suasana duka yang dirasakan saudara-saudara kita di Lombok, NTB. Warga di sana tengah berduka karena tempat tinggal mereka luluh lantak akibat gempa.
Terkait dengan pemberitaan peristiwa itu pun banyak juga yang menggunakan kata berhasil. Misalnya, 'Korban gempa berhasil dievakuasi dari reruntuhan bangunan rumah'. Lagi-lagi penggunaan kata berhasil di kalimat itu pun tidak berterima.
Logikanya sebenarnya sederhana, siapa yang berhasil mengevakuasi korban? Yang pasti bukan korban gempa yang berhasil. Jadi, kalimat tersebut akan sangat berterima jika diubah menjadi bentuk aktif, seperti 'Tim SAR gabungan berhasil meng-evakuasi korban gempa dari reruntuhan bagunan'. Di situ jelas bahwa ada unsur keberhasilan dari tim SAR gabungan dalam mengevakuasi korban gempa.
Memang, terlepas dari beberapa konteks di atas, kata berhasil juga sangat terkait erat dengan rasa bahasa atau kata. Dalam menyampaikan informasi, kita juga mesti mempertimbangkan rasa dari sebuah kata. Apakah kita akan rela dengan sebuah kalimat berikut ini, 'Perampok berhasil menggasak harta benda termasuk membunuh korbannya'. Secara gramatikal tak ada masalah, tapi secara rasa, kata berhasil di situ sangat mengusik nurani kita. Siapa yang berhasil?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved