Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
Melantai dengan Tape dan Pulpen
SAAT era digital memudahkan kita untuk mendengarkan musik, ada saja ‘kerepotan’ yang ditawarkan Muhammad Fajrin Tio dengan gulungan pita kasetnya. Sebenarnya, dia yang repot, kita cukup santai berjoged dan menyenandungkan lirik-lirik.
Lelaki lulusan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) ini mulai sibuk memperdengarkan lagu-lagu di kasetnya sejak tiga tahun lalu. Menyadari begitu banyak koleksi kasetnya, ia pun membagi referensi musiknya pada publik, hingga kini menjadi sebagai satu-satunya cassete jockey di antara para disjoki yang lebih banyak bergelut di dunia musik digital. Musik-musik Jaipong dan disko dangdut pun jadi karakternya.
Bila diskoria kini sudah manggung dengan medium digital, Pemuda Sinarmas tetap setia dengan medium analognya. Ia tetap menikmati menggulung pita kaset di atas panggung dengan bolpoin sebagai pelengkapnya.
Kaset dan bolpoin
"Menjadi tantangan tersendiri ketika gue masih harus gulung pita dibantu bolpoin, saat perform. Gue selalu merasa gugup karena akan ada banyak kemungkinan tak terduga, seperti tapedeck macet atau kaset kusut, jadi gue harus punya rencana cadangan saat terjadi hambatan saat main. Ini juga ngelatih feeling gue buat milih lagu dari kaset," kata pria yang sempat bekerja di rumah produksi itu.
Pemilihan nama Pemuda Sinarmas untuk nama panggungnya, kata Fajrin, terinspirasi dari nama-nama toko di pinggir jalan, yang menginsipirasi.
"Terinspirasi sama kayak nama toko-toko pinggir jalan awalnya, ya kayak toko bangunan, toko listrik yang namanya misal Sinar Maju apalah, Cahaya Elektrik. Norak-norak gitu, tapi mereka berdirinya udah lama dan enggak pernah bangkrut, selalu stabil di bayangan gue. Sama kayak toko tersebut ya, gue mainin lagu lama di era sekarang, tapi masih banyak lo ternyata yang dengerin, masih bisa didengerin orang, dan enggak lekang oleh waktu."
Kini, seperti rotasi masa, musik-musik yang berseliweran di era lawas didengarkan kalangan anak muda yang saat masa lagu itu populer atau tercipta, belum lahir. "Ini seperti sedang terjadi rotasi dari skena musik yang kembali ke era-era ketika disko populer. Mungkin ini juga yang bikin disko, balik digemari oleh anak muda yang bahkan belum lahir di masa itu."
Diskoria Selekta Merayakan Lagu Indonesia
Langkah Muhammad Fajrin Tio dengan Pemuda Sinarmas ini sejalan dengan langkah duo DJ Merdy Simanjuntak dan Fadli Aat. Bedanya, duo Diskoria Selekta ini tak memakai kaset.
Awalnya, Diskoria bermain dengan pelat-pelat hitam koleksinya. Namun kini untuk keperluan efisiensi dan memperbaiki kualitas karya musik piringan hitam, mereka mengalih wahanakan dalam format digital.
"Karena banyak piringan hitam produksi Indonesia yang kualitasnya kurang mumpuni karena mengalami produksi ulang," ujar Aat saat Muda temui di Kemang, Jakarta Selatan, Selasa, (18/9).
Diskoria Selekta juga memainkan nada-nada disko, seperti Pemuda Sinarmas, pun sama-sama digandrungi kalangan anak muda. Bahkan, pendengar mereka merambah hingga tingkat SMA, yang notabene asing dengan musik yang diputar Merdy dan Aat, yaitu lagu-lagu Indonesia. "Ini bentuk sikap kami karena ada beberapa klub yang tidak memperkenankan para DJ bermain dengan komposisi musik Indonesia. Jujur saja, 10 tahun belakang musik Indonesia dilihat sebelah mata, memang sampai ada tulisannya, jangan main lagu Indonesia atau di-banned? Padahal, kalau digali lebih dalam lagi, sangat banyak musik Indonesia yang sangat layak. Makanya kami punya wacana main fullset lagu Indonesia," lanjut Aat
Aat menyakini, pop disko Indonesia akan terus bergaung. "Bahasanya relate. Ketika mendengar musik dengan bahasa yang lo kenal, pasti akan lebih punya feeling. Ini penting karena merupakan bagian dari arsip musik kita. Sebagai edukasi juga bahwa pernah ada era kaset pada zaman dahulu. Gue ingin kasih denger lagu disko zaman dulu, musisi yang enggak didengar bisa didengar, bahwa musik kita zaman dulu lebih berwarna."
Suara Disko, Jakarta hingga Jepang
Wacana Diskoria Selekta bersambut dengan konsep Suara Disko, salah satu inisiatornya, Daiva Prayudi merasa perlu merevolusi scenes party. "Kami ingin memopulerkan budaya pesta dengan lagu Indonesia. Bahwa kita punya lo, warna tersendiri," kata Daiva.
Upaya Daiva dan teman-temannya itu telah berjalan tiga tahun. Musik pop disko didengarkan kalangan belia dengan gaya yang keren. "Kalau dulu kan kayak guilty pleasure gitu. Dengerin lagu-lagu seperti itu tuh suka, tapi malu, padahal hapal," lanjut Daiva.
Lagu Indonesia yang sempat jadi nomor dua untuk urusan berpesta. Bahkan, dilarang diputar. Kini melalui upaya panjang kolektif Suara Disko bersama residen DJ mereka Diskoria Selekta, lagu-lagu Indonesia lebih banyak diapresiasi.
Lagu-lagu Yockie, Chrisye, Fariz RM, Vina Panduwinata, dan beberapa lagu dari musisi lain dikulik oleh para anak muda yang belum ada di masa itu. Pasar kini telah tercipta, memberi akses para anak muda mengulik musik-musik Indonesia. Meski lekat dengan lagu lawasnya, Diskoria Selekta tidak menutup untuk memainkan musik era 2000-an.
Setelah merasa punya pendengarnya, kini Suara Disko ingin meneruskan gerakannya ini ke area yang lebih luas. Selain ingin masuk ke kota-kota kecil yang belum terjamah, rupanya Suara Disko melalui Diskoria Selekta ingin membawa funkot (funk kota) ala Indonesia ini ke mancanegara. Oktober mendatang, Diskoria akan tur di beberapa tempat di Jepang. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved