Mulai Gemar Jadi Berdagang

(M-4)
22/9/2018 18:45
Mulai Gemar Jadi Berdagang
(MI/BARY FATHAHILAH)

KOPI menemani perbincangan sehingga obrolan semakin hangat. Banyak orang yang kemudian menggemari minuman berkafeina tersebut. Oleh karena itu, tidak heran jika kita melihat kedai-kedai kopi menjamur di setiap daerah di Indonesia.

Kedai kopi sangatlah beragam, mulai yang kecil-kecilan, yang biasa disebut dengan warung kopi atau warkop hingga tempat nongkrong, yang biasanya berbentuk kafe atau coffee shop yang menyajikan kopi dengan cara lebih elegan.

Bisnis kedai kopi kini mulai dilirik para pebisnis yang awalnya mereka penggemar kopi hingga akhirnya terjun ke bisnis kopi. Salah satu pebisnis kopi yang diawali dengan kegemarannya terhadap kopi ialah Yuli dan Agung Nugraha.

Mereka memulai bisnis niat iseng-iseng karena gemar meminum kopi hingga tiba saatnya serius pada Maret 2017. Bisnis kopi mereka itu bernama The Buncitmen. Ada cerita lucu dan sederhana dari pemberian nama tersebut. "Jadi, kenapa namanya The Buncitmen itu karena saya dan Mas Yuli itu buncit. Sesederhana itu saja alasannya," ujar Agung yang ditemui di Jakarta, pada Rabu (8/8).

Keseriusan itulah yang pada akhirnya membuat mereka mendaftarkan diri sebagai PT dibawah payung PT Kreasindo Semesta Alam dan mereka juga telah terdaftar pada Dirjen Haki Kemenkumham. "Pada Maret 2017, kami benar-benar serius dan mendaftarkan diri ke Haki dan juga menjadi PT.”

Menciptakan pasar

Saat ini juga The Buncitmen terlah memiliki lebih dari 31 karyawan yang tersebar di kedai mereka di Cinere dan workshop mereka di Tanah Kusir.

Fokus dengan kopi lokal Indonesia menjadi sebuah pilihan The Buncitmen dalam bisnisnya. “Indonesia, nih, kaya akan kopi. Jadi, kenapa kita tidak memanfaatkan itu semua? Dari awal kami sudah memilih untuk konsisten menggunakan kopi Indonesia."

Menjalankan bisnis dengan tidak mengikuti pasaran menjadi hal yang cukup berani untuk mereka yang baru membangun bisnis dengan serius pada setahun terakhir. Agung beralasan hal tersebut diambil karena mereka ingin menciptakan pasar, bukan mengikuti pasar.

“Kita tidak mau mengikuti pasar atau konsumen, misalnya, kita buatin kopi terus konsumen protes kurang manislah, kurang ini atau itu. Kami enggak akan mau meracik ulang, kami hanya akan menyiapkan gula dan creamer. Biar aja konsumen nambahin sendiri karena rasa dari racikan itulah yang menjadi ciri khas kami," ujar Agung.

Untuk rasa dari kopi sendiri juga berbeda-beda. Ada yang pahit, asam, dan bahkan ada yang manis.

“Tingkat kenikmatan rasa kopi itu tergantung dari proses roasting dan juga penyeduhannya. Jika digiling secara halus, akan semakin terasa pahit," ungkapnya.

Walaupun tidak mengikuti pasaran, mereka terus bereksperimen dan melakukan evaluasi terhadap produk kopi yang mereka racik. “Kami juga enggak mau asal-asalan saat menyuguhkan kopi kepada konsumen. Kami terus berinovasi dan bereksperimen. Semua produk itu pasti melalui riset terlebih dahulu.”

Hal tersebut terbukti dalam memproduksi kopi The Buncitmen, memikirkan bagaimana kopi mereka bisa diminum di mana saja dan kapan saja. Jadilah kopi-kopi dalam kemasan botol dengan 10 varian, lalu ada juga kopi kerinci kayu aro celup dan botolan. “Kita tuh berinisiatif buat kemasan seperti demikian karena konsumen kita banyaknya para pekerja dan mereka hobi jalan-jalan,” ujar Agung.

Di masa mendatang The Buncitmen juga berencana akan membuat permen kopi dengan label The Buncitmen. Namun, saat ini masih dalam proses riset.

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya