Film Adaptasi,Kenapa Tidak?

Ardi Teristi Hardi
23/9/2018 06:25
Film Adaptasi,Kenapa Tidak?
(GRAFIS NOVIN)

INDUSTRI film di Indonesia terus meningkat, baik dari kuantitas, kualitas, maupun jumlah penonton. Dari sekian banyak judul film yang dirilis, belakangan banyak film yang skenarionya hasil adaptasi dari novel, komik, maupun cerita pendek.

Ternyata film-film adaptasi ini menarik banyak penonton. Sebut saja Laskar Pelangi, Ayat-Ayat Cinta, Teman Tapi Menikah, 99 Cahaya di Langit Eropa, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Dilan 1990, hingga Wiro Sableng. Bahkan, Dilan 1990 menjadi salah satu film terlaris dengan 6,3 juta penonton.

Melihat suksesi film adaptasi, kenapa tidak membuat film adaptasi? Menurut produser film dari Maxima Pictures, Ody Mulya Hidayat, membuat film dari naskah orisinal lebih repot daripada dari naskah adaptasi. "Untuk naskah orisinal, kita harus membangun dan mempromosikannya lebih lama," kata produser film Dilan 1990 itu  dalam workshop Memfilmkan Buku dan Membukukan Film di Jakarta Convention Center, Sabtu (15/9).

Bukan berarti Ody antimemproduksi film-film dari naskah orisinal. Ia pernah memproduksi film dari naskah orisinal, seperti LDR, Crazy Love, dan Walaikumsalam Paris.

Lebih lanjut, ia mengatakan, produksi film seperti perjudian. Pasalnya, tidak ada jaminan film yang diproduksi akan laris di pasaran. Dengan mengangkat novel ke layar lebar, paling tidak bisa diperkirakan jumlah penonton yang bakal menonton walaupun itu juga tidak pasti karena ada ekspektasi tersendiri dari penonton yang sudah membaca bukunya.

Seperti film Dilan 1990 yang diperkirakan jumlah penontonnya sekitar 3-4 juta, nyatanya mencapai 6,3 juta penonton. "Bisa 6 juta penonton karena ada yang nonton sampai 18 kali. Kelipatan orang menonton dan segmennya yang luas, lintas generasi, adalah bonus," kata dia.

VP Operation PT Mizan Publika, Putut Widjanarko, mengatakan, tidak semua buku sukses difilmkan.

"Yang bisa diusahakan, skenario, pemain, produksinya bagus, promosinya harus jalan," kata dia.
Film Laskar Pelangi dan Garuda di Dadaku, kata Putut, contoh buku dan film yang sukses di pasaran. Namun, buku 9 Summers 10 Autumns dan Negeri Lima Menara termasuk buku laris, tetapi filmnya tidak sukses.

<b>Menghadapi penulis<p>

Meski memiliki rumah produksi sendiri, Mizan tidak bisa langsung memproduksi filmnya. Pasalnya, hak ciptanya tetap ada di penulis sehingga mereka berhak memilih produser film untuk buku mereka.

Ia mencontohkan, novel Dilan 1990, Dilan 1991, dan Milea yang produksi filmnya jatuh ke Maxima Pictures. Padahal, Mizan dan banyak rumah produksi lain telah mengajukan diri membuat film tersebut.
Pendekatan kepada penulis penting karena mereka memiliki karakter sendiri-sendiri ketika karyanya diadaptasi ke film. Misalnya, film Laskar Pelangi dan Perahu Kertas, Andrea Hirata dan Dewi Lestari berbeda dalam keterlibatan produksi film. Andrea Hirata mempercayakan interpretasi ke tim produksi film, sedangkan Dewi Lestari menjadi bagian penulis skenarionya.

Ody juga mengaku untuk mendapatkan hak cipta film dari Pidie Baiq dalam Dilan 1990 dan Tere Liye dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu tidak mudah. Ody melibatkan Pidie sebagai sutradara dalam film Barisan Anti Cinta Asmara sehingga ia bisa mengetahui seluk-beluk pembuatan film sehingga bisa mempercayakan produksi film Dilan 1990 kepadanya. Sementara itu, Ody melibatkan Tere Liye mengendalikan proses produksi.

Bagi Ody dan Putut, diskusi antara tim produksi film, penulis, dan penerbit penting agar terjalin simbiosis mutualisme.

<b>Tidak habis<p>

Dihubungi terpisah, penulis skenario film Salman Aristo melihat film adaptasi biasa. Di Indonesia sudah ada sejak 1926 saat film Loeotoeng Kasaroeng.

Meningkatnya film adaptasi, bukan berarti saat itu kekurangan naskah film orisinal. Secara bisnis, memproduksi film adaptasi mungkin lebih menguntungkan daripada naskah film orisinal.

Senada dengan Salman, sutradara film Fajar Bustomi, mengatakan, rata-rata produser tidak mau gambling sehingga mereka membuat film adaptasi. Misalnya, sebuah buku terjual 50 ribu eksemplar, pembacanya diperkirakan dikali 4. Bila difilmkan harapannya ditonton paling tidak sekitar 200 ribu orang.

"Biaya untuk memproduksi film besar. Itu (membuat film adaptasi) dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan kerugian," kata dia.

CEO Bentang Pustaka, Salman Faridi, menambahkan, sudah ada lebih dari 20 judul buku terbitan Bentang yang diadaptasi ke film. Alih media dari buku ke film itu saling melengkapi, bukan menggantikan. Film adaptasi sering menjadi trigger membuat buku-buku sejenis laku atau sebaliknya.

Ia mencontohkan, film The Conjuring telah membuat buku-buku bertema horor laris di pasaran. Di sisi lain, larisnya buku Harry Potter atau Twilight, membuat filmnya juga banyak penontonnya.

"Di Indonesia, ketika film Laskar Pelangi tayang, penjualan bukunya (yang telah best seller) terdongkrak lebih banyak lagi," kata dia. Fenomena itu terjadi karena tidak semua penonton film pembaca buku.

Begitu filmnya meledak, mereka baru mencari bukunya.

Selaku penerbit buku, Salman berharap semakin banyak alih media buku ke film. Ada semacam conversational capital (modal percakapan) yang cukup besar (antara film dan buku). Film adaptasi bisa mendongkrak penjualan buku atau sebaliknya serta melecut munculnya banyak penulis baru. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya