Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SINAR matahari memancar hangat, Sabtu (8/9). Kesibukan terlihat di sebuah rumah di Desa Papringan. Dua perempuan sibuk membatik dan mewarnai kain. Di ruangan lain, beberapa perempuan lainnya tengah melayani pengunjung yang melihat-lihat koleksi kain batik di etalase kaca.
Begitulah kegiatan Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pringmas di Desa Papringan, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. KUB Pringmas yang berdiri mulai 2013, sengaja dibentuk untuk menampung
para pembatik di desa setempat.
"Sebelum adanya KUB Pringmas, kami adalah pengobeng atau pembatik yang dipekerjakan oleh pengusaha batik. Jadi, pengusaha batik dari Sokaraja memberi pekerjaan kepada kami untuk membatik. Itu namanya pengobeng, karena kami dibayar setelah pekerjaan membatik rampung. Pengobeng tidak punya hak untuk menjual kain batik karena hanya sebagai buruh," ungkap Ketua KUB Batik Pringmas Siyarmi.
Menurutnya, sebagai pengobeng bayarannya cukup murah sebab untuk
membuat batik tulis, misalnya, maksimal hanya mendapatkan Rp20 ribu setiap lembar kain. Padahal, dalam sebulan paling banyak hanya mampu menghasilkan lima hingga enam potong.
"Tetapi saat sekarang para perajin telah meningkat penghasilannya setelah masuk menjadi anggota KUB Pringmas sebab membatik satu lembar kain dihargai antara Rp60 ribu hingga Rp70 ribu," katanya.
Setelah lima tahun, kini jumlah anggota KUB Pringmas telah mencapai 30 orang. Semuanya perempuan dan berasal dari Desa Papringan. KUB Pringmas tidak hanya mewadahi anggotanya dalam berkarya membuat batik, tetapi juga memasarkan sendiri produk yang dihasilkan.
Produk unggulan mereka ialah batik tulis. Untuk batik tulis dengan pewarna sintetis dijual seharga Rp500 ribu hingga Rp600 ribu.
"Sedangkan untuk pewarna alami mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Batik tulis pewarna alami inilah yang menjadi produk unggulan kami," jelasnya.
Batik dengan pewarna alami merupakan produk terfavorit yang dicari wisatawan asing. Mereka menyukainya karena bahan pewarnaannya berasal dari dedaunan dan kayu-kayu alam.
Rajin pameran
Setelah membentuk KUB Pringmas, hasil penjualan produk batik Pringmas terus meningkat. Kini, omzet penjualan batik telah mencapai Rp200 juta per tahunnya.
"Apalagi, kami kerap diajak oleh Bank Indonesia (BI) yang menjadi
pendamping awal KUB Pringmas memberikan kesempatan untuk pameran produk
ke mana-mana," katanya.
Salah seorang perajin yang juga anggota KUB Pringmas Iin Susiningsih,
41, mengatakan pada 2016, KUB Pringmas diajak BI pameran di India. Itu menjadi pengalaman luar biasa baginya.
"Karena saya sama sekali tidak mengira bisa bepergian ke luar negeri. Di sana, saya diminta untuk demo bagaimana caranya membatik. Dengan adanya pameran itu membuat kami semakin bersemangat untuk berkarya dengan produk batik yang berkualitas," kata Iin.
Pada Februari lalu, pihaknya juga diajak pameran pada saat BI bersama
IMF menggelar High Level International Conference di Jakarta. Bahkan, mereka mendapat informasi kalau pada pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali Oktober mendatang, KUB Pringmas bakal diundang untuk pameran.
"Tentu saja, kalau jadi diundang, kami sangat senang dan bakal mempersiapkan sebaik-baiknya," ujarnya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved