Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SOSOK itu berpenampilan ala bangsawan Jawa, berkain dodotan, rambut yang ditutup blangkon, dan membawa senjata berupa belati yang diselipkan di pinggang. Hamengkubuwono II sang Sultan Yogyakarta, tokoh yang diperankan itu, muncul di balik layar hitam. Ia ditemani dua orang perempuan yang berperan beda.
Muncul pula seorang perempuan membawa kotak pekinangan atau tempat untuk menyimpan bahan-bahan untuk menyirih, seperti sirih, tembakau, gambir, kapur hingga pinang untuk nantinya diserahkan kepada tamu yang datang. Sementara itu, perempuan lainnya, membawa senjata berupa senapan, bambu runcing hingga sapu lidi untuk mempertahankan kerajaannya.
Semakin lama, pentas dongeng yang merupakan rangkaian program Akhir Pekan @MuseumNasional di Museum Nasional yang juga sering disebut Museum Gajah, Jakarta, pun semakin seru dan menegangkan lo. Apalagi, pentas keempat sepanjang 2018 ini, bekerja sama dengan dapoerdongeng dan Teater Koma, kelompok seni teater terkemuka di negeri ini.
Lakon yang dibawakan kali ini, Juru(s) Ukur Sang Maareskalek Guntur, yang dikemas kocak lo sobat. Mau tahu kisah lengkapnya? Ikut Medi yuk!
Pertahanan Daendels untuk Jawa
Sobat, tahukah kalian, Indonesia rupanya bukan hanya dijajah Belanda dan Jepang saja. Ada pula Prancis, Spanyol hingga Inggris yang datang ke Nusantara untuk mengeruk keuntungan.
Pada 1808, Indonesia sedang dikuasai Prancis. Louis Napoleon, yakni adik Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis, diangkat menjadi Raja Wlanda-Prancis pada 1807. Namun, saat itu William V diberi mandat oleh Kerajaan Inggris untuk merebut kembali jajahannya, Indonesia.
Tak mau direbut kembali, Louis mengirim jagoannya, Daendels, untuk mempertahankan Jawa dari Inggris. Ia lalu mengumpulkan raja-raja di Surakarta dan Yogyakarta untuk berperang.
Tak hanya itu, Daendels pun punya cara baru, membangun Jalan Raya Pos sepanjang 1.000 kilometer, yakni dari ujung barat hingga timur Jawa, yakni dari Anyer, Banten hingga Panarukan, dilengkapi benteng dan pos kuda. Tujuannya, membuat komunikasi dan transportasi bebas hambatan. "Ia pun berhasil menghubungkan Jakarta hingga Semarang menjadi 3 sampai 4 hari saja, dari sebelumnya mencapai 2 sampai 3 minggu," kata Kak Rani, petugas edukasi Museum Nasional.
Namun, Daendels meninggalkan kenangan buruk bagi penduduk Indonesia saat itu, terutama di daerah-daerah yang dilewati proyeknya. Ia terkenal kejam karena sering melakukan penindasan kepada rakyatnya. Ia memaksa warga menjadi ribuan buruh paksa sehingga ia pun dikenal dengan beberapa sebutan. Warga Sumedang yang menyebutnya Mas Guntur, tetapi ada pula yang menjuluki 'mas galak' dan 'marsekal besi'.
Raden Ronggo melawan sendirian
Namun sobat Medi, untuk membuat jalan, tentu membutuhkan banyak pasokan kayu, Napoleon pun ingin menguasai pohon jati di Jawa Timur yang saat itu dikuasai Raden Ronggo III, cucu Kyai Wirosentiko, pendiri Kesultanan Yogyakarta.
"Sultan Ronggo III memang dipercaya Kerajaan Yogyakarta dan Solo untuk menjadi juru kunci hutan jati di Jawa Timur," sambung Kak Rani.
Raden Ronggo pun geram dan melawan. Sayang, Hamengkubuwono II yang dikenal galak dan menguasai Jawa saat itu, malah kalah gertak oleh Daendels. Raden Ronggo III pun dibiarkan sendiri melawan 4.000 serdadu yang disebut tentara Walanda-Yogyakarta, hingga akhirnya kalah.
Bukan hanya untuk jalan, kayu jati hasil rampasan dari Sultan Ronggo III, juga dibuat menjadi furnitur oleh Louis Napoleon, seperti meja hingga lemari yang dibuat dengan gaya Prancis, terlihat dari ukirannya yang memakai bentuk manusia dan berukuran cukup besar.
Jejak revolusi Prancis di museum
Seusai menonton teater, anak-anak pun langsung melihat barang yang digunakan antara 1808-1811, saat Revolusi Prancis terjadi di Indonesia. Ada bukti stempel yang digunakan Napoleon untuk membeli lahan hutan jati. Benda bersejarah itu ditempatkan di lantai 3 museum. Ada pula koin yang fungsinya sama seperti uang, alat tukar dari emas yang digunakan Napoleon. "Bedanya dengan koin lainnya, di salah satu sisi koin ini terdapat gambar Louis Napoleon," kata Kak Rani.
Mengikuti penjelasan kak Rani, kami pun bergerak mencari koleksi lainnya berupa tiruan alat transportasi untuk mengangkut barang. Rupanya dulu, untuk dapat melewati gunung yang terjal sambil membawa barang, penduduk desa menggunakan pedati, semacam andong, tetapi dikendarai sapi atau kerbau.
Ini ada alasannya karena menurut Kak Rani, kuda tak bisa melakukannya, ia hanya bisa berjalan cepat tanpa membawa beban banyak.
Tak hanya itu, di lantai 2, ada pula pekinangan yang ditampilkan dalam cerita teater tadi.
"Pekinangan ini memang sangat dekat dengan keluarga maupun kerajaan saat itu. Jika sekarang menjamu tamu pakai makanan dan minuman, dahulu mereka menggunakan sirih untuk menjamu tamu," lanjut kak Rani.
Pekinangan ini pun bermacam-macam, ada yang berbentuk kotak atau bundar dari perunggu, tembaga maupun emas.
Yuk, jelajahi semua yang dikisahkan Medi ini di Museum Nasional ya. Agar tak sulit dan mudah diingat, ikuti saja acara program Akhir Pekan @MuseumNasional. Yuk Sobat Medi, jelajahi sejarah Indonesia lewat Museum! (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved