Relawan Asian Games, Kenangan yang tidak Bisa Lepas

Fathurrozak
09/9/2018 08:54
Relawan Asian Games, Kenangan yang tidak Bisa Lepas
(Yose Hendra)

PESTA olahraga se-Asia baru saja usai. Banyak rekor terpecahkan, juga kebanggaan yang hingga kini masih terkenang. Seperti cerita para relawan Asian Games yang selangkah lebih dekat dengan para pahlawan arena.
Siapa yang bisa mengira wajah bersahabat di lapangan terkadang berubah masam bila mereka kalah? Lalu ada berapa jenis makanan yang harus disiapkan untuk para atlet daratan Asia ini?
Muda mewawancarai anak-anak muda yang menjadi relawan ini, simak ya!
Dari Cilacap ke ruang makan
Perempuan yang tinggal di Solo, Jawa Tengah, sempat harus pulang terlebih dahulu ke Cilacap untuk mengurus berkas surat keterangan berkelakuan baik dari kepolisian. Motivasinya mendaftar sukarelawan Asian Games saat itu bisa dikatakan impulsif saja. Namun, dari ketiba-tibaan itu, ia mencecap pengalaman yang menjadi kepingan sejarah Indonesia.
Nabilah Puspita dapat jatah Volunteer Deputi 3 Departemen Katering, lokasi kerjanya di Dining Hall Kampung Atlet.
"Middle shift jadi dari jam 15.00 WIB sampai 23.00 WIB. Di sini, kita lebih ke arah untuk servis, diposisikan di masing-masing station yang ada, dan membantu para koki di meja yang menghidangkan makanan."
Sebagai salah satu yang bertugas di departemen katering, Nabilah tentu tak asing dengan logistik para atlet, meski diberlakukan swaservis. Menurut penuturannya, menu yang ada di ruang makan atau dining hall sangat beragam. Total menu makanan dan minumannya ada 12-13.
"Namun, total station-nya lebih dari itu karena tiap satu menunya bisa lebih dari dua hingga tiga station. Mulai dari roti, sereal dan susu, teh dan kopi, pencuci mulut, salad hingga ke makanan beratnya. Di bagian ini, tersaji makanan dari semua wilayah Asia hingga internasional. Lalu, ada pula sup, piza, dan buah-buahan," menurut kesaksiannya.
Mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo ini pun jadi paham liku pekerjaan yang berhubungan dengan pelayanan. Ia menandaskan, ada tiga ucapan ampuh: tolong, terima kasih, dan maaf.
Menjadi relawan di Asian Games tentu tidak seenak bayangan orang di luar, yang mungkin menganggap bisa bertemu dan ajak foto atlet, atau bisa makan sepuasnya. Harus ada etika yang dijaga dan sesuai dengan prosedur kerja.
Pertama bertemu dan terakhir berjumpa
Seperti tugas Mohamad Akyas dan kawan-kawannya. Mahasiswa Jurusan Ilmu Falak Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Jawa Tengah, ditunjuk sebagai koordinator di Terminal 2 dalam Departemen Arrival Departure and Hospitality. Departemennyalah yang pertama kali bertemu dengan para delegasi.
"Tugas yang kami lakukan adalah memastikan kedatangan dan keberangkatan para tamu dan atlet dilayani dengan baik. Pada saat arrival, kami sambut dengan senyuman ramah dan membimbing mereka melalui jalur khusus Asian Games," ujar Akyas.
Akyas kemudian mengantar mulai proses akreditasi, imigrasi, bagasi, bea cukai, dan terakhir, transportasi. Kemudian ketika mereka akan pulang ke negaranya, tim menjemput di depan pintu keberangkatan, mengantar ke dalam bandara, serta melakukan check in dan imigrasi. "Jadi, kami adalah relawan yang pertama kali bertemu dengan para tamu dan atlet serta menjadi yang terakhir kali berpisah dengan mereka, sebelum kembali menuju negaranya masing-masing," jelas Akyas.
Keluarkan modal di awal
Keduanya mengaku, para relawan yang berasal dari luar Jakarta juga harus bolak-balik Jakarta sejak seleksi hingga pelatihan. Sebelum menunaikan tugas, mereka yang dari daerah juga sudah harus menemukan tempat tinggal karena tidak difasilitasi. Biaya hidup seperti makan pun harus mereka persiapkan sebab Inasgoc baru mencairkan ketika menjelang helatan usai.
Tentu kesukarelawanan yang dilakukan teman-teman bukan tanpa makna. Akyas, misalnya, sebagai koordinator di bandara, ia belajar memimpin.
"Kami berkerja sama dengan polisi wanita, serta korps tentara perempuan, seperti Korps Wanita TNI Angkatan Darat (Kowad), Korps Wanita Angkatan Laut (Kowal), dan Wanita Angkatan Udara (Wara), dalam prosedur militer. Saya sangat berterima kasih kepada mereka, koordinasi yang mengharuskan serba cepat ini sangat membantu."
Bukan saja Akyas, Nabilah pun membawa bekal berharga seusai Asian Games. Di lokasinya bekerja, tamu dan atlet harus membuang sampah sendiri.
"Bahkan membuangnya harus berdasarkan klasifikasi jenis sampahnya. Saya jadi membayangkan bagaimana jadinya jika semua masyarakat Indonesia dapat melakukan hal seperti itu. Tentunya itu pelajaran yang sangat berharga."
Saksi emosi
Pelajaran tentang kebersihan ini juga menjadi catatan Theola, relawan yang mengisi pos Deputi 1 Divisi Venue & Environment. Ia bertugas di Tennis Indoor GBK untuk cabang olahraga voli.
Ia harus datang paling awal dan pulang setelah venue sepi. Ia punya tugas untuk memastikan kondisi venue, termasuk kebersihan di tiap sudut area.
"Banyak banget belajar dari mereka, termasuk kebudayaannya. Kayak Jepang, bukan pencitraan lo, mereka ini bersihnya. Memang benar-benar bersih. Buang sampah saja bersih rapi. Habis pakai ruang ganti atlet mereka pulang ke Kampung Atlet, itu ruangan sama rapinya seperti waktu mereka masuk ke ruangan," kenang Theo.
Ia mungkin sedikit lebih beruntung karena punya kesempatan akses lebih mudah berinteraksi dengan para atlet dan ofisial. Berbeda dengan Nabilah.
Theo dan kawan-kawannya merupakan pihak pertama yang diajak euforia bila tim bertanding menang. Sebaliknya, mereka juga akan jadi sasaran kekesalan emosi bila tim kalah.
"Ekspresi atlet kalau kalah, marah, murung, keselnya bisa ke kami. Jadi cuekin kami, agak judes, tapi wajar lah. Namun, kalau mereka menang, ya orang pertama yang mereka lampiaskan ya kami. Nanti mereka nyanyi-nyanyi dalam ruang ganti kalau enggak di lobby athlete lounge, joget-joget karena menang. Sama suka kasih pin dari negaranya ke kami," kelakar Theo.
Senyum dan inspirasi
Meski pekerjaan para relawan ini menyita tenaga juga harus pandai mengatur waktu agar tugas yang diberikan tidak terbengkalai, toh para relawan ini bangga menjadi bagian dari sejarah Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggara hajat olahraga se-Asia empat tahunan ini.
Tentu selama sebulan mereka melewati momen-momen berharga untuk bekal pengembangan diri ke depan. Theo, yang bertugas di venue punya momen mengesankan yang tak bisa ia lupakan.
Ia mengingat saat pertandingan voli yang mempertemukan Jepang dengan Qatar, tim yang sama-sama kuat dan belum pernah menelan kekalahan. Mahasiswi Universitas Kristen Indonesia ini pun membayangkan bila salah satunya mengalami kekalahan. Qatar pun akhirnya memenangi pertandingan dengan skor 3-2.  
"Biasa itu tim kalah emang selalu ke ruang ganti duluan. Jepang masuk duluan, mukanya langsung lesu tuh. Kami semangatin, good game, ganbatte!!! Pemain nomor punggung 12 masuk koridor atlet lounge langsung teriak, hhhhhaaaaahhhhhh dengan muka merah dan penuh amarah jalan ke ruang ganti Jepang.
Itu momen yang enggak pernah saya lupakan," cerita Theo.
Ia pun jadi belajar, betapa mati-matiannya para atlet berjuang. Mereka tidak menampakkan emosi kekecewaan di depan penonton.
Akyas juga punya momen berkesan yang membuatnya haru. Saat satu tim voli pantai dari Afghanistan yang ia antar untuk transit ke Palembang ada masalah tiket.
"Dari lima orang hanya tiga yang namanya sesuai dengan pemesanan. Jadi, ada dua orang yang tidak bisa mencetak tiket check in. Waktu itu saya sempat khawatir, takut mereka tidak bisa terbang ke Palembang. Kemudian saya menghubungi Chief de Mission Afghanistan untuk mengurus tiket ini dan akhirnya selesai dengan membeli ulang. Selanjutnya, saya diminta untuk mengantar sampai garbarata, dan di depan gate pengecekan tiket, sang pelatih memasangkan pin Afghanistan di baju saya, jujur ini adalah pengalaman yang sangat mengharukan."
Sementara itu, momen berkesan bagi Nabilah ialah ketika setiap para tamu yang mengambil makanan di station yang ia jaga, mengucapkan kata thank you atau terima kasih, dan melempar senyum.
"Rasanya hati saya adem sekali. Memang ya, kata terima kasih itu punya daya magisnya tersendiri."
Ia melanjutkan, momen lain yang juga berkesan untuknya ialah ketika ia harus bertugas saat Indonesia merayakan hari kemerdekaan.
"Waktu itu ada orang India, entah atlet atau ofisial, saya lupa. Dia mengambil yoghurt di tempat saya jaga, kemudian seperti mengajak saya bercanda dan bilang, I just want to make you smile, dilanjut because you look tired.
Setelah itu, di akhir percakapan, ia mengucapkan, Happy Independence Day!
Uh, Nabilah berujar, hatinya langsung buyar. Rasanya beban-beban yang ada di pundak langsung terangkat ke atas, hilang. Senyum langsung terangkat otomatis.
Mungkin juga karena itu satu-satunya ucapan selamat yang saya dengar dan terima dari sekian banyak tamu yang datang ke station saya sehingga saya jadi lebih sedikit sentimental mendengarnya.
Daftar jadi relawan yuk!
Nah, Muda. Kalian juga bisa lo, ikut berkontribusi untuk negara kita, dengan menjadi bagian dari salah satu penyelenggaraan acara kenegaraan. Bila ada kesempatan untuk sukarelawan, tidak ada salahnya kamu mendaftar untuk menjadi bagiannya.
Namun, sebagai anak muda, kita juga bisa berkontribusi kok meski enggak harus menunggu keikutsertaan kita dalam suatu acara kenegaraan.
Baik Nabilah maupun Theola sama-sama sepakat, cara paling sederhana, tetapi sulit dilakukan sebagai bagian kontribusi kita ialah soal menjaga kebersihan.
Nabilah berpesan, buang sampah di tempatnya merupakan yang perlu dikampanyekan secara intensif agar menggeser kebiasaan buruk. Demikian pula Theo, ia berpesan, bila menonton pertandingan, buanglah sampah di tempatnya.
Itu pula yang menjadi pelajaran berharga mereka seusai Asian Games. Para atlet telah pulang, para sukarelawan juga telah berkemas.
Kini, kita siap menyambut datangnya Asian Para Games, yuk ambil pelajaran dari kisah para relawan ini! (M-1)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya