Misi Pemberdayaan dalam Koleksi Etnik

Suryani Wandari
09/9/2018 08:43
Misi Pemberdayaan dalam Koleksi Etnik
(MI/MOHAMAD IRFAN)

ETNIK, sekaligus modern dan provokatif, kesan itulah yang tampak pada busana brand JSL LeViCo karya Julie Sutrisno Laiskodat pada panggung Fashion Symphony 2018 presented by Iwapi Jakarta Selatan, pada Rabu (29/8) di Sheraton Grand, Jakarta Selatan.
Contohnya, gaun dengan cut out di kedua sisi pinggang yang kemudian dipadukan dengan coat panjang. Soal potongan, set busana ini memang sudah cukup banyak terlihat di dunia mode.
Namun, kesannya jadi berbeda dan istimewa karena penggunaan material kain adati. Julie memilih kain tenun Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan motif sotis berukuran kecil dan dengan latar warna hitam.
Pada set koleksi lainnya, ada pula penggunaan tenun dengan motif berukuran besar berbentuk burung dan ikan. Semuanya dikemas dalam formula gaun panjang dan coat panjang.
Pada beberapa busana, Julie juga menambahkan aksen bulu pada bagian lengan dan bahan tile pada jubah sehingga memberikan kesan ekstravagan.
Julie menjelaskan konsep busana itu sengaja dipilih karena koleksi tersebut dibuat pertama untuk pergelaran Paris Fashion Week koleksi musim gugur/dingin 2018 yang berlangsung pada Maret lalu.
Penggunaan motif NTT dan potongan mewah menurutnya sukses menarik perhatian di sana. "Koleksinya ini menarik banyak perhatian di ajang internasional itu," kata Julie yang juga Ketua Dewan Pimpinan Cabang Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (DPC Iwapi).
Koleksi tersebut, ungkapnya, tidak hanya bermaksud menampilkan keindahan kain NTT, tetapi juga misi pemberdayaan perempuan lokal dan juga memotivasi anggota Iwapi.
"Kegiatan ini diadakan untuk memotivasi anggota iwapi. Busana yang dipamerkan sekarang merupakan hasil UMKM mereka dengan menggunakan produk unggulan dalam negeri dengan kualitas global," kata Julie.
Jenama lain yang menonjolkan tenun NTT ialah House of Shiloh milik Adinda Moeda.
Namun, Adinda berfokus pada Kain Tenun Boti, yakni sebutan untuk penduduk asli Timor di Kabupaten Kie.
Meskipun jauh dari modernitas, suku Boti pun punya tenun yang tak kalah indahnya, apalagi Adinda mengemasnya dengan tampilan kasual dan kekinian.
Misalnya, padanan blus kutu baru tanpa lengan dan rok asimetris beraksen rumbai. Dengan pilihan warna cerah, koleksi ini cocok bagi mereka yang ingin menjadi pusat perhatian.
Segala suasana
Peragaan Iwapi kali itu bukan hanya menyuguhkan koleksi gaun malam, melainkan juga busana santai maupun sehari-hari. Koleksi itu juga cocok untuk beragam usia, termasuk generasi millenial.
Salah satu koleksi dengan tampilan muda dan segar ialah koleksi dari label Saroengan. Sesuai dengan nama brand, koleksi itu menggunakan bahan yang identik dengan sarung, yang kali ini bermotif kotak-kotak besar dalam warna hitam-putih.
Koleksi itu bergaya sportif dengan potongan busana berupa jumpsuit sebetis tanpa lengan hingga rok dan atasan asimetris. Saroengan tampak mengambil inspirasi dari olahraga anggar yang juga dicirikan dengan berbagai perlengkapan olahraga itu yang digunakan sebagai aksesori para model.
Sementara itu, koleksi manis yang cocok untuk acara koktail maupun formal sehari-hari hadir dari jenama Roemah Katumbiri. Kain batik dan lurik dikemas menjadi kaftan hingga padanan kain dan blus berselempang yang kini tengah tren. Dengan palet warna alam yang lembut seperti hijau muda kekuningan dan merah muda dan bata, koleksi ini menghadirkan karakter perempuan yang feminin tetapi juga elegan.
Sementara itu, Jeany Wang yang mempersembahkan karya bertajuk Bunga Simalungun. Koleksinya ini lebih feminin dan romantis karena menggunakan kain-kain transparan bermotif bunga untuk atasan yang kemudian dipadukan dengan bawahan tenun.
"Koleksi ini terinspirasi dari bunga yang ada di sekitar Danau Toba dan dataran tinggi Kabupaten Simalungun yang diterjemahkan pada warna-warna yang cerah," kata Jeany Rayani, Owner Jeany Wang. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Riky Wismiron
Berita Lainnya