Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SULAWESI dan Nusa Tenggara Timur sudah cukup dikenal dengan tenun yang indah. Beberapa daerah sentra pengrajin tenun di sana adalah Toraja dan Mamasa Sulawesi), serta Adonara dan Lembata (Nusa Tenggara Timur).
Tidak hanya karena motifnya, tenun dari daerah-daerah itu juga terkenal karena warna yang khas. Kini ada pula koleksi tenun-tenun tersebut dengan warna yang kekinian dan juga diolah menjadi busana-busana masa kini.
Koleksi tersebut dihadirkan jenama Torajamelo, yang berkolaborasi dengan penenun daerah. Koleksi mereka dihadirkan di Museum Tekstil, Jakarta, dalam rangka Asian Games 2018 dan akan berlangsung hingga 9 September.
Dalam rilis yang diterima Media Indonesia, Pendiri Torajamelo, Dinny Jusuf mengaku gembira dapat berpartisipasi di ajang Asian Textiles Exhibition ini. "Kami tentunya bangga terlibat menjadi pendukung dalam ajang Asian Textiles Exhibition atau Pameran Wastra Asia ini. Harapan kami, kain tenun asli bukan pabrikan dapat semakin dicintai oleh masyarakat Indonesia khususnya dan menjadi warisan budaya Bangsa yang patut di lestarikan".
Keseriusan TORAJAMELO dalam membina para perempuan penenun di beberapa desa di Toraja selama 10 tahun terakhir ini membawa banyak kemajuan dengan dipamerkannya hasil karya para penenun berdampingan dengan koleksi dari negara Asia lain. Dinny Jusuf menceritakan bahwa awal berdirinya TORAJAMELO didasari kecintaannya akan kain tradisional Nusantara, khususnya kain tenun. Karena suaminya berasal dari Toraja, Dinny Jusuf ingin berbuat sesuatu untuk daerah keluarga suaminya tersebut.
Pada tahun 2014, Torajamelo bekerjasama dengan PEKKA (Asosiasi Perempuan Kepala Keluarga) dan memulai kerja di pulau Adonara dan Lembata di Nusa Tenggara Timur. Secara keseluruhan Toraja Melo bekerjasama dengan komunitas penenun yang terdiri dari sekitar 1,000 perempuan penenun. Mulai tahun 2018, ketika para penenun di keempat daerah tersebut sudah mandiri dan stabil sebagai pemasok kain tenun, maka TORAJAMELO kemudian lebih memfokuskan diri untuk meningkatkan sisi bisnis mereka.
Menurut Torajamelo sebagian besar dari 300 kelompok pengrajin etnis yang tinggal di Indonesia dapat menenun, terutama di daerah termiskin dan paling terpencil, dimana tidak banyak peluang penghasilan. Oleh karena itu, untuk komunitas seperti ini, Torajamelo mempersiapkan para penenun tak hanya semakin trampil dengan karya tenunnya saja tetapi juga mempersiapkan mereka untuk dapat menghadapi pasar dunia. Bersama PEKKA, Torajamelo mengadakan Program Pengorganisasian Masyarakat dan Peningkatan Kapasitas dengan topik seperti tren mode, desain kain dan sebagainya. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved