Orkestra Hutan Hujan Kehje Sewen

FATHURROZAK
02/9/2018 06:20
Orkestra Hutan Hujan Kehje Sewen
(MI/FATHURROZAK)

SEUSAI menembus deretan kawasan industri dan perkebunan sawit, mata terbelalak saat perahu berlayar melawan arus, dikelilingi rimbun hijau pepohonan, mengantar ke rumah saudara terdekat kita, orang utan.

Aliran Sungai Telan (Telen, pelafalan warga lokal) yang deras dengan air cokelatnya itu menjadi pintu masuk menuju rumah satwa liar bernaung, dan ragam flora tumbuh di daratan Borneo. Kawasan yang terbagi di tiga negara, Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Indonesia boleh berbahagia sebab memiliki daratan terbesar bagian Borneo di belahan Kalimantan, nama yang dicatut dari bahasa Sanskerta, Kalamanthana: pulau yang cuacanya sangat panas. Toh, di tanah tropis ini, tumbuh hutan hujan, jiwa untuk semua makhluk hidup.

Salah satu yang kami tembus ialah hutan hujan Kehje Sewen, yang memerlukan waktu total perjalanan lebih dari 16 jam, dan melibas lebih dari 494 kilometer, dari titik awal keberangkatan Samboja Lestari, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Kawasan yang punya sekolah untuk merehabilitasi orang utan sebelum kembali ke rumah mereka, hutan.

Ekspedisi yang bermula sejak Senin (27/8) ini merupakan upaya ke-17 pelepasliaran orang utan oleh Yayasan Borneo orang Utan Survival (BOS) yang mendapat suntikan dana sebesar Rp250 juta dari Bank Central Asia (BCA) untuk merilis sebanyak enam orang utan, terdiri dari empat jantan, dan dua betina yang semuanya masih remaja.

Perjalanan panjang malam hari dipilih untuk mengurangi tingkat stres orang utan saat perjalanan. Mereka dibiarkan dalam kondisi sadar agar bisa menjaga diri saat di perjalanan. Beberapa kali kami harus menepi agar tim medis bisa memberi makan dan mengecek kondisi orang utan.

Sebagai donatur, BCA menganggap perlu mendukung program pelepasliaran spesies yang tersebar di Sumatra dan Borneo ini. Kepala Kantor cabang BCA Samarinda, Vincentius Dwi Anto Kusdiyono, menganggap keberadaan orang utan memberi ragam manfaat. "Salah satunya memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang dikonsumsi orang utan."

Untuk merilis orang utan kembali ke hutan, tentu tidak sembarangan. Penentuan titik rilis juga perlu diperhatikan. "Kita mencoba membuka kandang ke lokasi yang kaya pakan, kalau bisa juga yang lagi sepi orang utan lama, makanya kita harus cari terus lokasi, nah kalau bisa buka kandang juga tidak terlalu jauh dari kamp. Kalau langsung jauh nanti yang memonitor akan repot," ungkap Communications Officer BOS, Niko Hermanu.

Persyaratan merilis
Ia melanjutkan, orang utan yang akan dirilis juga memiliki kualifikasi tertentu. "Usianya kira-kira sekitar 8-9 tahun, kondisi kesehatannya juga mereka tidak punya penyakit, sudah punya keterampilan untuk hidup di hutan, dan secara perilaku menunjukkan liar, seperti tidak minta makan ke manusia dan bergaul ke sesama orang utan."

Bermalam di Nles Mamse
Selasa (28/8) pagi tim ekspedisi yang terdiri dari BOS, BKSDA Samarinda, BCA, dan Media Indonesia tiba di bibir hutan Kehje Sewen. Kami masih harus berjalan kaki menanjak sekira 1,5 kilometer dari kamp Nles Mamse milik BOS menuju titik rilis. Napas yang masih terengah-engah sekejap lenyap saat makhluk berambut cokelat itu perlahan keluar dari kotak besi, dan perlahan memanjat pohon di hadapannya. Suatu momen istimewa, menyaksikan Restu, orang utan jantan remaja itu kembali ke habitatnya, di hutan hujan seluas 86,450 hektare.

Restu bersama pejantan lainnya, Riva, Bieber, Mads, dua betina Josta, dan Menur. Keempat jantan telah lulus dari Sekolah Hutan 2 di kawasan Samboja Lestari, sedangkan dua orang utan betina lulus dari sekolah hutan di sekitar Kehje Sewen, yang semuanya ada di bawah naungan Yayasan Borneo orang Utan Survival (BOS).

Seusai rilis, tim pun turun untuk beristirahat di kamp. Kecuali, para petugas PRM (Post Release Monitoring). Mereka tetap bertahan di dalam hutan untuk mengikuti dan memonitor perilaku primata yang berciri soliter ini, hingga mereka membuat sarangnya.

Malam tiba. Hujan pun menghampiri kami. Sementara itu, tim PRM belum muncul batang hidungnya. Orkestra jangkrik dan serangga lain yang ada di hutan, deras aliran Sungai Telan, dan keroyokan hujan menjadi musik malam sebelum kami memejam mata di bibir Kehje Sewen. Pukul 24.00 Wita, lampu padam sebab sumber listrik di sini berasal dari mesin generator dan panel surya.

Menyaksikan orang utan bangun tidur
Untuk menjawab penasaran cara kerja tim PRM, saya pun mengiringi mereka yang sudah sibuk sejak pukul 04.49 Wita, Rabu (29/8). Perlengkapan seperti GPS, senter, HT, bekal logistik, dan form pencatatan data sudah rapi. Kaus kaki panjang juga telah dikenakan. Mereka beramai-ramai menuju 'tanjakan penyesalan', sebutan untuk tanjakan yang kemiringan sudutnya hampir 90 derajat menuju hutan.

Pukul 05.30 Wita langit masih gelap, rombongan tim PRM tiba di lokasi dan berpatroli sesuai tugas. Tiap-tiap orang utan dimonitor oleh minimal dua orang. Dalam tugasnya, PRM diberi tugas untuk mencatat seluruh perilaku orangutan tiap dua menit sejak bangun tidur hingga mereka kembali bersarang, khususnya bagi mereka yang baru saja dirilis, dan akan mendapat observasi rutin selama sebulan.

Saat itu saya mengikuti tim PRM Siti Nur Badriah dan Ba, yang mendapat giliran memonitor orang utan Restu. Agak sulit menemukan sarang Restu, sebab dalam laporan seusai monitor hari pertama rilis, Restu tak kunjung membuat sarang hingga malam tiba dan tim PRM memutuskan turun karena kondisi cuaca hujan dan tidak memungkinkan untuk diteruskan.

Restu akhirnya membuat sarang
Menjelang pukul 06.00 WITA, akhirnya sarang Restu dapat ditemukan. Sarang dengan ketinggian 20 meter di atas pohon Macaranga, dengan diameter tidak terlalu lebar, menjadi sarang Restu. Tak lama ia pun bergerak dari sarangnya dan memakan buah pohon Macaranga.

"Tugas kami tidak cuma memonitor orang utan yang baru saja rilis, namun orang utan yang sudah lama rilis di Kehje Sewen ini juga tetap kami pantau. Biasanya kami memonitor sesuai prioritas. Seperti keenam orang utan yang baru saja rilis, itu pasti kategori prioritasnya A. Namun, tidak jarang juga kami juga melakukan fenologi, yaitu mendata flora yang ada di sini," ungkap Siti yang sesekali melihat Restu di atas pohon, Rabu (29/8).

Saat saya pamit dengan tim PRM untuk turun hutan pukul 07.00 WITA, lanskap Kehje Sewen bak nirwana di atas Sungai Telan. Separuh harmoni hutan hujan dengan rimbun flora, kabut tipis melayah turun, cahaya Matahari masuk dari celah-celah, kicau burung, suara primata Oa saling bertaut, menjadi orkestra pagi di hutan hujan Kehje Sewen, yang sulit untuk saya lupakan saat kembali ke keriuhan urban.

Tentu, dengan kehadiran keenam orang utan yang baru dirilis ini, kelak akan memperindah harmoni orkestra Kehje Sewen. Mereka, orang utan bukan sekadar memberi manfaat pada ekologi,selayaknya kita manusia, orang utan juga memiliki hak untuk menikmati alam yang indah ini.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya