Membawa Kemabruran ke Tanah Air

(Riz/M-2)
02/9/2018 05:40
Membawa Kemabruran ke Tanah Air
()

SEBAGAI pejabat paling berwenang dalam soal penyelenggaraan ibadah haji dan umrah, Nizar Ali paham mengenai tingginya minat berhaji di masyarakat Indonesia. Di sisi lain, ia juga paham jika tingginya minat itu belum selalu sejalan dengan tercapainya tujuan.

Bagi Nizar, menjadi haji mabrur semestinya bukan saja tecermin pada perbaikan ibadah, melainkan juga lebih jauh lagi. “Diharapkan setelah kembali ke Tanah Air, aspek dimensi kema­bruran haji bisa terbawa ke Tanah Air. Salah satu cirinya adalah apa yang dilakukan masyarakat muslim itu jauh lebih baik dari hari ke hari,” tuturnya.

Perbaikan tersebut mencakup beragam dimensi. Bukan hanya kepedulian sosial yang diwujudkan dalam bentuk, misalnya memberikan makanan pada orang lain, melainkan juga empati dan solidaritas kepada orang yang membutuhkan, hingga rasa kepedulian dan ringan tangan untuk membantu dalam segala aspek.

Pria yang menjalani studi sarjana hingga doktor di Universitas Islam Negeri (dulu Institut Agama Islam Negeri) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, ini juga menilai kemabruran berarti pula moralitas yang bagus. Wujudnya misalnya dengan menyampaikan salam yang berarti pesan perdamaian dan kesejukan.

Bicara soal kesejukan, Nizar menerapkan prinsip serupa dalam kehidup­annya.Pria kelahiran Jepara, 21 Maret 1964 tersebut menjalani hidup seperti air yang mengalir. Hal ini berlaku juga dalam soal pekerjaan dan jabatan.

“Kalau dipilih oleh atasan untuk isi jabatan tertentu itu adalah bagian penghargaan bagi diri kita, tapi kita tidak boleh meminta. Intinya lakukan yang terbaik, kalau memang kemampuannya baik maka siap melakukan tugas kalau dinilai tidak baik ya tidak masalah. Jadi, bukan mengalir tidak punya pendirian. Dalam aspek duniawi kita tidak perlu kejar dengan materi, tapi kita berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan rezeki tersebut,” jelas Nizar.

Di tengah-tengah kesibukan pekerjaan, ayah dua anak tersebut tetap menyempatkan menjalani hobi membaca dan bermain badminton. Nizar juga mengaku masih menyempatkan waktu untuk mengajar. “Kadang dua minggu sekali jadi dua sesi dalam satu pertemuan tapi hanya satu kampus saja. Tapi kalau menjadi promotor, pembim­bing disertasi, itu masih jalan karena itu bagian dari kewajiban saya,” imbuh Guru Besar Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tersebut.

Memahami hadis
Sebagai ahli hadist, baginya ada dua hal yang harus diperhatikan kalangan anak muda dalam menafsirkan hadis, yaitu tekstual dan kontekstual. Menurutnya, rata-rata pemuda memiliki ilmu yang terbatas dalam menafsirkan hadis sehingga terjebak pada tekstual saja, sedangkan baginya ilmu hadis tidak serta-merta masalah tekstualitas, tetapi juga bagaimana makna dari teks hadis itu bisa dipahami.

“Jadi, bagaimana hadis itu dipahami secara pas oleh generasi muda sehingga tidak muncul paham yang radikal karena saya baca dari perkembangan fenomena sosial kita adalah banyak pendapat-pendapat yang mengungkung dirinya sendiri karena berjibaku pada pemahaman tekstual. Hadis itu sangat terkait dengan konteks, maka tidak bisa bunyi teks lepas dari konteks. Maka yang perlu kita lakukan adalah menyosialisasikan bahwa hadis itu terikat dengan konteksnya, jadi suatu pemahaman dari dua kutub yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan berbeda dalam konteks ini,” jelasnya.

Dalam mendidik buah hatinya, Nizar mengaku tidak memaksakan kehendak kepada dua anaknya. Anak-anaknya diberikan kebebasan dalam memilih, tetapi tetap dipandu dengan diberikan pengertian-pengertian. Anak pertamanya sendiri saat ini sedang berkuliah S-2 di Universitas Indonesia dan anak keduanya sedang menyelesaikan studi di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. (Riz/M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya