Daya Rasa Perupa Lintas Daerah

RUTA SURYANA
02/9/2018 05:20
Daya Rasa Perupa Lintas Daerah
(DOK. BENTARA BUDAYA BALI)

DI atas dua bidang kain kanvas yang berjejer rapi di lantai, terlihat goresan yang menyerupai layaknya rangkaian sebuah radio atau produk elektronik umumnya. Terdapat juga sejumlah selang warna mencolok: merah, putih, dan hitam yang saling berhubungan.

Instalasi seni berjudul Goresan Doa karya perupa Rusdi Hendra yang tengah dipamerkan di Bentara Budaya, Gianyar, Bali, menyampaikan sebuah pesan kebersamaan. Satu komponen terhubung dengan yang lainnya sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Begitu juga manusia, perlu ada kebersamaan.

Rusdi Hendra, 25, termasuk di antara 34 perupa asal Sumatra Barat, Yogyakarta, dan Bali yang terlibat dalam Pameran bertajuk Japuik Tabao Jilid 2. Sebanyak 44 karya dipamerkan sejak 25 Agustus 2018 hingga 31 Agustus 2018.

Sebelumnya, pameran Japuik Tabao jilid pertama digelar pada 2016 di Taman Budaya Yogyakarta. Japuik Tabao mengandung makna ‘apa yang kita tuju atau yang diinginkan akan tercapai’. “Secara harfiah, japuik berarti ‘jemput’ dan tabao bermakna ‘terbawa’.

Dalam proses mempersiapkannya, Japuik Tabao hadir dengan sabiduak sarangkuah dayuang yang artinya ‘berkumpul, tanpa membeda-bedakan, saling rangkul satu sama lain dan saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan’.

Sebagian besar dari 34 perupa itu memang berangkat dari berbagai kota kelahiran di Minangkabau, di antaranya untuk mendalami seni rupa di ISI Yogyakarta dan ISI Padang Panjang. “Kami sepakat dalam pameran kali ini untuk mengusung tema kebersamaan, saling rangkul dan bekerja sama,” ujar Rusdi yang ditunjuk sebagai ketua panitia pameran.

Keluar dari fungsinya
Karya Sepenggal Cerita milik perupa Prisman Nazara, 25, juga cukup unik. Instalasi berwujud potongan kayu berbahan kertas jenis HVS yang dibuatnya menggunakan kreativitas seni melipat, ditambah teknik pewarnaan cat tekstil. Ribuan lembar kertas HVS itu pun mampu disulap menjadi sebuah karya artistik berwujud potongan kayu besar lengkap dengan lekukan dan serat-seratnya.

Pemuda kelahiran Padang itu coba membuat manfaat lain barang kertas keluar dari fungsi dasarnya. Kertas yang tadinya digunakan sebagai media menulis, kini berubah wujud dan fungsi. “Karya ini butuh waktu tiga bulan dan tiap hari saya kerjakan,” aku Prisman yang mengakui, karya­nya itu masih bagian dari tugas di kampusnya ISI Yogyakarta.

Prisman belum bisa memastikan berapa lama karyanya itu bisa bertahan. Itulah sebabnya, karya sejenis pertamanya yang juga berbahan kertas belum berani dia lepas ketika ada yang tertarik untuk membelinya.

Secara visual, karya-karya perupa dari lintas daerah di Sumatra Barat, Yogyakarta, dan Bali di pameran itu coba mengungkapkan kedirian mereka lewat luapan ener­gi kreatif. Mereka berin­teraksi dengan medium, improvisasi atas material hingga menjadikan media untuk berdoa.

“Visualitas kekaryaan mereka mengedepankan daya rasa. Merasakan sesuatu, menampilkan kemampuan dalam menyatakan perasaan spontan, secara fantasi, yaitu serangkaian kejadian atau gambaran perilaku yang dikhayalkan agar siap untuk kejadian yang akan datang untuk diantisipasi,” sebut seniman asal Yogyakarta, Ristiyanto Cahyo Wibowo, saat menuliskan kata pengantarnya dalam katalog pameran. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya