Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ENAM orang laki-laki dan seorang perempuan berdiri di depan sebuah potret hitam putih. Wajah mereka terlihat riang gembira dan ekspresif. Balutan warna di pakaian mereka, menunjukkan identitas mereka sebenarnya.
Ketujuhnya dikenal pernah dan sedang memimpin negeri ini, yaitu Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono, dan Joko Widodo. Mereka hadir dalam ekspresi berbeda versi Yayat Surya dalam karya teranyarnya berjudul Setelah Pembangkitan Besar (After Guernica).
Pelukis kelahiran Cirebon, Jawa Barat, termasuk di antara 17 seniman yang terlibat dalam Pameran seni rupa Kepada Republik #4 bertajuk Seni, Politik dan Polemik di Gedung DPR-RI, Jakarta. Pameran yang termasuk dalam rangkaian peringatan HUT RI dan HUT DPR-RI ke-73 itu dihelat hingga 31 Agustus 2018.
Lukisan Setelah Pembangkitan Besar (After Guernica) dibuat Yayat pada kanvas berukuran 200 cm x 400 cm dengan menggunakan cat akrilik. Lewat karyanya itu, Yayat menitipkan sebuah harapan.
“Pemimpin itu sekarang banyak saling menghujat, menyerang. Jadi, saya buat mereka akur dan saling tersenyum. Saya membuat visualisasi versi saya,” beber Yayat, Rabu (29/8) lalu.
Ketujuh pemimpin itu melakukan foto bersama (swafoto) di depan salah satu lukisan masterpiece pelukis kelahiran Spanyol, Pablo Picasso. Lukisan yang dibuat Picasso menggambarkan pengeboman yang terjadi di Guernica, desa kecil di Spanyol Utara, yang menewaskan sekitar 900 penduduk sipil tak bersenjata (genosida), komunisme, dan perang saudara.
“Peristiwa sama juga terjadi di Indonesia. Makanya itu, jadi latar lukisan saya dikaitkan dengan kepemimpinan tujuh presiden. Mereka saya gambarkan selfie di depan karya seni Picasso,” beber Yayat.
Pameran seni rupa Kepada Republik #4 di Gedung Rakyat DPR memang dimaksudkan untuk menangkan dan menyebarluaskan pikiran-pikiran rakyat lewat karya seni rupa.
“Di abad 21 ini, dengan semakin meningkatnya pencapaian intelektual teknologi, hubungan seni dan politik makin nampak jelas,” sebut kurator pameran, Dio Pamola. (Zhi/M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved