Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA bagian kayu tersusun vertikal, diselingi sebatang kayu horizontal di tengahnya, membentuk perspektif baru dari sekadar potongan. Ia nampak seperti salib, tetapi juga seperti judulnya, 90°. Tidak ada yang mengira, jika ‘salib’ suci itu terlahir dari kayu kersen yang telah terbuang.
Di sudut lain, balok-balok dengan berbagai medium tersusun melahirkan keseimbangan visual. Balok kecil menopang balok bulat yang lebih besar. Begitu seterusnya hingga menjadi subyek visual yang hidup.
Kayu-kayu ini sebagian besar bukanlah dari golongan kayu ‘populer’ seperti yang orang kebanyakan memanfaatkan, melainkan sekumpulan kayu yang terbuang, dari limbah, teronggok, hingga kemudian terbentuk menjadi subyek penuh pemaknaan lewat aksara yang tergurat.
“Kali ini saya membebaskan sebab kayu yang lain juga punya sesuatu kekuatan bentuk dan urat yang berbeda-beda,” ujar Agoes Salim di sela pembukaan pameran seni rupa bertajuk Aksara Kayu di Galeri Cipta II, TIM, Jakarta Pusat, Sabtu (25/8).
Di tangannya, potongan-potongan kayu itu bukan sekadar obyek furnitur kaku, melainkan setiap potongnya menjadi liat, menunjukkan plastisitas yang mengguratkan aksara kisah hidup kayu. Sejauh mana kemampuannya untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru.
“Di Indonesia ada ribuan kayu, tapi orang tahu hanya 10 maksimal. Padahal, yang lain enggak kalah bagus. Saya ingin kembalikan ke kehidupan awal, saat beberapa kayu ini dipuja, menghasilkan buah yang mahal, seperti kelengkeng, atau mangga arumanis, yang ada di beberapa karya.”
Dalam episode kedua Senyawa Kayu bertajuk Aksara Kayu ini, perupa Agoes Salim seperti ingin memperluas kedalamannya pada kayu, baik secara material maupun pendekatannya. Kini tak banyak lagi muncul figur-figur, justru kayu itu tampak ia tampilkan apa adanya, hanya sekadar memoles dari suatu yang telah hadir dalam kayu.
“Terkadang, saya ingin menawarkan sesuatu, yang mengingatkan masa lalu kita sendiri sehingga kayu menjadi sesuatu yang hidup. Justru, saya sekarang ini menjadikan kayu sebagai teman, dan saya tidak mau mengebiri kayu itu. Sekarang saya coba menyentuh sedikit, yang sifatnya mempercantik,” katanya lagi.
Kali ini, tema besar yang ingin diangkat dari lelaki asal kota yang juga lekat dengan tradisi ukir kayu Jepara ini seolah ingin menengahkan suatu lintas masa perjalanan kayu. Lewat pemaknaan bahwa kayu juga seperti makhluk hidup yang memiliki siklusnya, berbahagia karena jadi primadona. Hingga akhirnya si kayu harus bersedih karena tinggal onggokan.
Seperti yang terjadi pada karya Putaran Waktu. Kayu yang digunakan ialah kayu jati milik sang seniman. Agoes berkisah, semasa hidup kayu itu roboh karena dimakan rayap. Jati yang ia tanam dan rawat sendiri itu pun terpaksa dibakar untuk menghilangkan rayap. (*/M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved