Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TUNANETRA mestinya juga punya akses pada informasi dari koran, majalah, buku, dan hasil cetakan lainnya. Maka, Maulana Bisyir Azhari dan dua kawannya, Jalu dan Gibran, bersama-sama membuat inovasi yang mereka namakan Smart Blind. Didekatkan pada lembaran kertas, rangkaian huruf yang tertera akan dibacakan. Muda menjumpai Maulana buat menyerap semangatnya, simak ya!
Ceritakan dong proses kalian menemukan smart blind ini?
Jadi, awalnya itu browsing di internet dan menemukan situs kartunet.com. Situs ini dikelola para tunanetra. Di situ saya agak kaget juga, tunanetra bisa bikin website dan blog dengan segala macam detail teknisnya.
Ternyata mereka pakai teknologi yang namanya screen reader. Jadi, misalkan di layar ada tulisan, nanti diubah ke media suara. Itu alatnya untuk laptop atau layar komputer, lalu terpikir mengapa tidak kita buat untuk media cetak? Kan buku-buku tidak semua ada di komputer atau internet. Jadi, saya ajak Jalu dan teman saya, Gibran, untuk membuat inovasi ini dan kami ikut sertakan ke Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) 2018, sekarang sudah masuk final.
Inovasi kalian meliputi apa saja?
Dengan teknologi atau alat yang sudah ada memang memiliki sedikit persamaan dalam segi fungsi, membantu tunanetra untuk membaca. Namun, kalau kita bicara screen reader, misalnya, hanya bisa digunakan untuk alat-alat seperti layar-layar digital. Untuk tulisan yang dalam bentuk foto pun tidak bisa terbaca alat tersebut. Ia hanya bisa membaca tulisan dalam format tertentu yang disebut string, nah itu yang bisa dibaca.
Namun, kalau alat kami, memfokuskan kepada media cetak karena informasi dari sana cukup banyak, misalkan dari koran atau buku.
Cara kamu mendalami kebutuhan para tunanetra?
Awalnya saya belum pernah mendalami perilaku tunanetra, alat ini sudah diuji coba seorang tunanetra, dan positif, dia sangat senang bisa membaca apa yang ada di artikel, koran, dan segala macam media cetak.
Jelaskan dong sistem kerjanya?
Jadi, pertama alat ini ambil gambar lewat alat seperti corong, lalu nanti diproses untuk dideteksi huruf-hurufnya dengan menggunakan teknologi optical character recognition. Jadi, huruf-hurufnya akan disusun sampai jadi seperti tulisan yang ada. Meskipun begitu masih ada saja eror yang masih menjadi PR untuk kami sempurnakan. Setelah itu, data akan diolah dengan membaca kata-kata tersebut dan menghubungkan dengan database kata-kata bahasa Indonesia yang tersimpan di dalam mini-PC. Data tersebut akan diubah dengan teknologi yang bernama speech synthesizer. Tombol yang pertama untuk power-nya, tombol kedua untuk mengambil gambar bisa sampai beberapa kali, tombol ketiga untuk membacakan. Sedangkan tombol terakhir, masih pengembangan, untuk play atau pause-nya, atau perencanaan untuk mulai baca.
Sejauh mana ilmu yang kamu pelajari ini mendukung proses inovasi ini?
Ini enggak ada hubungannya dengan kurikulum kami sih. Namun, teman saya yang ilmu komputer ada hubungannya sedikit sama kurikulumnya. Kalau hubungan sama jurusan kami sih paling, nyambung–nyambungin komponen-komponennya. Ada juga materi yang kami belum tahu, kita belajar sendiri. Contohnya, untuk buat desain, kita nanya teman, seperti anak-anak mesin untuk bantu.Ya akhirnya kita banyak belajar dan itu bikin kita lebih tertantang. Ribet itu kalau orang yang nggak punya passion, kalau yang kita rasakan ya tertantang.
Tantangan dalam membuat alat ini?
Software-nya kadang eror, tapi pada akhirnya kita bisa pelan–pelan manage dan akhirnya bisa jalan. Kalau kesulitan awalnya, bagaimana bisa membuat alat ini mudah dan sesederhana mungkin namun berfungsi seperti apa yang kita inginkan.
Apa misi kalian dengan alat ini, hanya untuk lomba atau untuk produksi masal?
Penginnya bisa diproduksi, tapi sejauh ini masih belum ada investor untuk memproduksinya. Target kita sih agar semua orang tunanetra bisa merasakaan manfaat teknologi ini, supaya bahan bacaan kita dengan orang tunanetra itu sama.
Tujuan kami buat alat ini biar bisa dipakai ke sekolah-sekolah, dan kalau masuknya ke sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Enggak hanya itu sih, alat ini juga mungkin berguna untuk mereka yang buta huruf.
Kita lagi ngajuin hak paten untuk smart blind ini. Kalau bisa berhasil menang perlombaan ini, kita akan terus kembangkan, buat sedemikian rupa, se-portable mungkin dan kalau akhirnya hak patennya dapat, akan update dengan hasil lombanya dan menyempurnakan lagi smart blind ini.
Bisa dijelaskan komponen apa saja yang tersusun di dalamnya?
Jadi, di dalam ada mini-PC untuk memproses semuanya, bisa dibilang inti alat ini. Lalu, di depan ada kamera, dan lampu LED yang berfungsi sebagai flash. Berikutnya ada charging controller untuk charger dan soundcard untuk output-nya. Alat-alatnya tidak sulit dicari. Untuk saat ini masih mudah dijangkau di sekitar kita sih.
Berapa banyak biaya produksi, dan jika dijual, berapa harganya?
Kalau pengeluaran kita total-total kasarnya bisa Rp1 juta lebih. Kalau kita mau produksi massal, pasti banyak yang bisa kita tekan harganya. Misalkan untuk case-nya, ini kan masih 3D printing yang secara harga jauh lebih mahal. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved