Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
DALAM sejarahnya, sejak Negara Astina diproklamasikan oleh Prabu Bharata hingga pemerintahan Prabu Kresnadwipayana, tidak pernah ada atau terjadi gejolak politik. Pemimpin dan elite bersama rakyat bahu-membahu berjuang dan membangun bersama mencapai tujuan kemerdekaan yang luhur, yakni negara kuat dan rakyat hidup sejahtera.
Namun, setelah Astina menerima warga naturalisasi dari Plasajenar bernama Suman, negara jadi ruwet. Elite pecah menjadi dua kelompok yang diikuti oleh pendukung masing-masing. Puncaknya, terjadi perang sesama anak bangsa di tegal Kurusetra yang dikenal Bharatayuda.
Suman memecah belah persatuan bangsa Astina dengan tujuan memburu jabatan dan kekuasaan. Ia menggunakan fitnah untuk mengobrak-abrik harmonisasi dan kerukunan bangsa. Dengan senjatanya itu, Suman berhasil menjadi patih dan mengantarkan Kurawa berkuasa.
Ontran-ontran itu terjadi ketika Astina dipimpin Prabu Pandudewanata. Bahkan, Pandu dan patih petahana Gandanama pun jadi korban. Anak-anak Pandu juga tergiling penderitaan.
Mengubah isi surat
Alkisah, Prabu Pandudewanata bertanya-tanya dalam hati, ada apa dengan Raja Pringgondani Prabu Tremboko yang setidaknya sudah tiga kali tidak hadir dalam pasewakan agung Astina. Semua nayaka praja yang ditanya, tidak ada yang bisa memberikan keterangan pasti.
Pada saat yang bersamaan, di alun-alun Suman mencegat tiga tamu dari Pringgondani yang ingin menghadap Prabu Pandu. Ketiga raksasa itu adalah putra Prabu Tremboko, yakni Arimba, Brajadenta, dan Brajamusti. Mereka diutus ayahnya untuk menyampaikan surat kepada Pandu.
Suman, yang memperkenalkan diri sebagai sentana dalem (keluarga raja), bertanya apa isi surat tersebut. Arimba menjawab tidak tahu sambil mengaku bahwa dirinya hanya diperintah untuk menyerahkan surat secara langsung kepada Pandu. Ia meminta izin masuk ke istana.
Suman menjelaskan bahwa ada aturan bila ada tamu yang akan masuk ke istana Astina, apalagi akan bertemu dengan raja. Di antaranya, siapa pun tamu yang berwadak raksasa dilarang masuk ke istana. Apalagi, saat itu sedang berlangsung pasewakan agung.
Oleh karena itu, Suman meminta surat Tremboko dan berjanji akan langsung dihaturkan kepada Prabu Pandu. Arimba dan kedua adiknya dipersilakan istirahat dulu di alun-alun sambil menunggu balasan surat dari sang raja. Arimba percaya kepada Suman dan menyerahkan surat.
Suman, adik ipar Drestarastra kakak Pandu, bergegas meninggalkan tempat. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Suman membuka surat tersebut. Isinya permintaan maaf Tremboko tidak bisa menghadiri undangan pasewakan agung karena sedang ada kesibukan. Selain itu, Tremboko mengundang Pandu untuk sesekali mengunjungi Pringgondani.
Suman lalu menghancurkan surat tersebut dan menggantinya dengan isi yang lain serta memalsukan tanda tangan Tremboko. Pesan surat itu menerangkan bahwa Tremboko sudah tidak sudi sowan Pandu dan menantang perang untuk membuktikan siapa yang hebat.
Setelah dimasukkan amplop, Suman menghadap Pandu. Ia matur ada tiga tamu dari Pringgondani utusan Tremboko untuk menyerahkan surat. Namun, kata Suman, ketiga utusan merasa tidak etis menghadap langsung sang raja karena berwadak raksasa dan meminta bantuan pada dirinya.
Menjadi Patih Astina
Pandu membuka surat tersebut. Ia kaget bukan kepalang mengetahui isi surat berupa tantangan perang Tremboko. Pandu termangu. Batinnya mengusik, apakah benar Tremboko sudah miring kiblatnya, lancang berani menantang perang.
Selama ini persaudaraan Pandu dengan Tremboko sangat hangat dan erat. Hubungan antara bangsa Astina dan Pringgondani pun begitu harmonis. Tremboko sendiri menganggap Pandu sebagai gurunya. Ia banyak menyerap ilmu dari raja Astina yang sangat ia hormati itu.
Untuk memastikan, Pandu membuat surat balasan guna mengonfirmasi apakah benar Tremboko menulis surat tersebut. Pandu memerintahkan Patih Gandamana mengantarkan surat itu ke Pringgondani.
Sebelum Gandamana meninggalkan tempat, Suman diam-diam mendahului keluar istana dan menemui Arimba. Ia memberikan kabar bahwa Pandu mengutus Gandamana untuk menghancurkan Pringgondani. Ia sarankan Arimba segera kembali dan melapor kepada bapaknya.
Setelah menerima laporan putranya, Tremboko meradang. Ia merasa Pandu bertindak sewenang-wenang kepada Pringgondani gara-gara dirinya tidak bisa sowan. Maka, ia persiapkan pasukan menyongsong Gandamana.
Gandamana yang datang sendirian dihadang pasukan Tremboko di perbatasan. Belum banyak bicara, Gandamana langsung dikeroyok. Akan tetapi, semua bala tentara raksasa kalah dan lari tunggang langgang.
Di tengah peperangan itu, Suman menyiapkan sumur yang ditutup dedaunan sehingga tidak kelihatan. Gandamana yang kurang waspada akhirnya tecerbur ke sumur itu kala memburu pasukan Pringgondani.
Suman segera memerintahan keponakannya, Kurawa, menimbun sumur itu dengan batu dan tanah hingga penuh. Suman memastikan Gandamana mati konyol di tempat. Ia lalu buru-buru menghadap Pandu dan melaporkan Gandamana telah mati di tangan pasukan Pringgondani.
Untuk mengisi kekosongan patih, dan atas usulan Drestarastra, Suman diangkat sebagai patih menggantikan Gandamana. Pandu dengan emosional lalu memutuskan akan nglurug (mendatangi) Pringgondani membalaskan kematian Gandamana.
Perang Pamuksa
Namun, Pandu terkejut ketika tiba-tiba Gandamana menghadap. Gandamana lolos dari maut di dasar sumur setelah ditolong landak putih. Ia pun mendapat keterangan bahwa Suman adalah biang kerok kekacauan di Astina dan Pringgondani. Tanpa izin Pandu, Gandamana langsung menyeret Suman ke alun-alun dan kemudian digebuki hingga babak belur.
Dampak fitnah Suman lainnya, Pandu akhirnya perang tanding dengan Tremboko. Kedua kawan akrab itu baku bunuh dan sama-sama tewas. Dalam seni pakeliran, peperangan antarkedua raja itu, atau antara guru dan murid itu, dikenal dengan sebutan Perang Pamuksa.
Poin dari kisah itu adalah betapa berbahayanya fitnah. Suman mengadu domba Pandu dan Tremboko demi mendapatkan jabatan. Gandamana pun menjadi korban. Suman yang kemudian kondang bernama Sengkuni ini mempertahankan strategi licik itu selama karier politiknya.
Dalam konteks perpolitikan di negeri ini, terutama menjelang pemilu tahun depan, seyogianya semua waspada kemungkinan munculnya ‘Sengkuni-Sengkuni’ yang bergentayangan. Jangan sampai bangsa ini terbelah karena fitnah. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved