Kopi Tuli, Mari Mengobrol dan Belajar Isyarat

FATHURROZAK
02/9/2018 02:40
Kopi Tuli, Mari Mengobrol dan Belajar Isyarat
(MI/FATHURROZAK)

IA pernah pindah kuliah sebab lingkungannya kurang menerima cara berkomunikasinya. Seusai lulus, perjuangannya pun belum berhenti saat 200 perusahaan yang dilamarnya, tidak ada yang menyambut baik. Perjuangannya dalam mencari kerja selama hampir dua tahun setelah lulus dan ditolak sebanyak 200 perusahaan sempat membuatnya minder.

Namun, kini ia boleh tersenyum bersama kedua teman semasa kecilnya. Di Jalan Krukut Raya Nomor 70 Cinere, Depok, Mohammad Adhika Prakoso, 28, Trierwinsyah Putra, 29, dan Putri Sampaghita Trisnawinny Santoso, 27, merintis bisnis kedai kopi yang kini berusia tiga bulan. Tidak jauh berbeda dengan Adhi, Putri bahkan ditolak 500 perusahaan.

“Pernah sampai tahap interview, kemudian ketika ditanya HRDnya, kok suara aku berbeda? Aku bilang aku Tuli. Dia malah nanya kok enggak ditulis dari awal? Sengaja aku ingin lihat responsnya seperti apa. Dan ternyata setelah itu aku seperti ditolak secara halus,” kenang Putri saat ditemui di kedai Kopi Tuli (Koptul), Selasa (21/8). Dari pengalaman mereka yang ‘kurang’ diterima di dunia kerja inilah yang mendorong keduanya, kemudian bersama Erwin sapaan akrab Trierwinsyah, membuka kedai kopi. Menurut mereka, kopi bisa menjadi medium komunikasi.

Mengajak belajar
Desain kemasan Koptul memiliki keunikan. Tercantum deretan huruf abjad bahasa isyarat Indonesia. Ini merupakan salah satu cara Koptul memberi pengenalan pada teman dengar tentang bahasa isyarat yang biasa digunakan Teman Tuli. “Kami juga mempunyai cara untuk berinteraksi dengan pengunjung lewat menu yang tersedia. Tiga menu utama kami namai sesuai dengan tiga co-founder, yang lainnya kami namai dengan nama-nama alam, agar mereka mau tanya (menu) ini apa. Jadi ada interaksi,” tambah Putri yang juga lulusan desain  komunikasi visual DKV) di salah satu kampus di Jakarta ini sama seperti Adhi.

Penamaan menu berdasar unsur alam ini pun sebearnya memiliki makna. Menurut Putri, ketiganya pertemukan atas dasar kuasa alam. Kosu Koso ialah kopi susu dengan cita rasa lebih menonjolkan kopi yang berafiliasi pada Adhi,  Kosu Wings berafiliasi pada Erwin dan Kopi Siput yang memiliki cita rasa perpaduan avokad merupakan afi liasi untuk Putri. Selebihnya, nama-nama seperti Tanah Susu, Daun Susu, dan Matahari, untuk menggantikan nama yang sudah lazim ada di kedai kopi.

Selain penamaan yang berafi liasi pada nama ala menu mereka pun dibe huruf abjad, untuk mem dahkan pengunjung memes Adhi dan kawan-kaw mempelajari kopi sejak Ok ber tahun lalu, hingga akh nya memutuskan membu kedai pada Mei silam. “Tidak ada kesulitan sa belajar. Kami sudah riset te lebih dahulu dari BSD sam pai Bandung, dan belaja juga di Toffin.

Kalau saya kesulitannya saat menggunakan mesin espreso, juga mungkin saat pengajar memberi arahan. Saya harus ekstra fokus karena harus membaca gerak bibir yang terkadang kurang jelas, dan harus menaikkan daya visual kami. Jadi saat belajar, saya juga sering menulisnya,” tukas Adhi, lelaki berkacamata ini.

Advokasi dalam cangkir
Adhi belajar selama tiga hari di Toffin, perusahaan supplier bahan baku dan peralatan minuman, termasuk kopi yang sudah ada sejak 2007. Saat membeli mesin espreso, ketiga pendiri Koptul ini diberi ilmu bagaimana meracik menu yang akan disajikan. Namun, menurut Adhi dan Putri, mereka juga mengembangkan menunya agar sesuai dengan keinginan dan karakter mereka. Kini, melalui Koptul, Adhi, Putri, dan Erwin yang baru saja lulus ingin membuktikan bahwa Tuli bukanlah suatu keterbatasan untuk mereka berkarya. Lewat Koptul mereka juga ingin menjembatani masyarakat mengenal budaya teman Tuli, salah satunya bahasa isyarat. Koptul juga sebagai salah satu upaya memberdayakan para teman Tuli.

Kami ini tuli
Ketiganya juga lebih berkenan untuk disebut dengan istilah Tuli, bukan tunarungu. “Tuli itu memiliki identitas, kami memilik budaya kami, yaitu bahasa isyarat,” jelas Adhi yang membuka Koptul ini salah satunya bermodal tabungannya. Kedai yang dalam seharinya memiliki omzet pada kisaran angka Rp1 juta-Rp2 juta ini menganggap, ketiadaan wi-fi di kedai mereka menjadi salah satu cara agar para pengunjung mau saling berinteraksi, baik antar teman Tuli maupun dengan teman dengar. Kekeluargaan dan makna ‘dari kita untuk kita’ pada akhirnya menjadi nilai yang dijunjung para pendiri sehingga mereka yang datang ke kedai yang buka setiap Selasa-Minggu sejak pukul 12.00 WIB hingga 22.00 WIB ini pun mau saling ngobrol.

Kini, Koptul sedang dalam upaya membuka kedai keduanya di Duren Tiga, Jakarta Selatan. Ada investor yang menanamkan modalnya setelah tertarik dengan konsep dan ide Koptul. Pembagian dengan sang investor, diperkirakan 60:40.  "Kami akan merekrut karyawan dari teman Tuli. Sejauh ini baru kami bertiga, jadi nanti akan ada ditempatkan di sini (Cinere) dan di Duren Tiga.

Namun tetap ada di bawah kontrol kami, nanti kami ajari mereka untuk meracik menu,” tukas Putri yang menyebut tugas para pendiri akan di-rolling untuk menjaga kedua kedai. Kedai kopi yang berkelanjutan Salah satu yang merespons positif upaya Adhi dan kawankawan lewat Koptulnya ialah Toffin. Toffin selama ini dikenal sebagai penyuplai bahan baku dan peralatan minuman, termasuk untuk kebutuhan kedai kopi.

“Kita tidak ingin konsumen misleading. Lewat showroom kami ingin edukasi, beli mesin kopi agar sesuai kebutuhan, kalau coffee shop perlu mesinnya yang seperti apa. Kalau misal kebutuhannya skala kafe yang 30 cangkir, kan tidak harus investasi sampai gede. Di sini kita punya ruang agar barista bisa berkalibrasi, bermain dengan ekspresi mereka. Kita bantu pembeli mengembangkan, misal kalau buka kafe, banyak yang mesti dipikirin, enggak cuma kopi aja,” ungkap CEO Toffin, Tony Arifin, Jumat (10/8) di Showroom Toffi n, Pluit, Jakarta Utara. Dalam setahun, menurut Tony perusahaannya mampu menjual hingga seribuan unit mesin.

Salah satu parameter mesin yang ia pasarkan, Toffi n tidak ingin menyuplai mesin yang hanya sekadar tren. Namun, memiliki keberlanjutan pasar. Tony juga menegaskan tak ingin sekadar hubungan jual beli antar supplier dan customer, tetapi Toffi n juga ingin menjadi konsultan bagi customer baik dari sisi pengembangan menu maupun bisnis. Tony pun merespons positif upaya Koptul. “Mereka mau belajar ya, meski harus ekstra saat belajar di sini,” tambahnya. (M-1)

 

 

 

 

 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya