Menjadi Rujukan Riset

(YK/M-4)
26/8/2018 06:00
Menjadi Rujukan Riset
(MI/ M AHMAD YAKUB)

MENGOLAH garam sebenarnya telah digeluti keluarga Arifin sejak zaman Kolonial Belanda. Saat itu membuat garam merupakan tindakan terlarang. Namun, almarhum ayahnya tetap membuat garam dengan sistem rebus. Dengan cara tersebut, garam tetap bisa menjadi gantungan hidup keluarganya.

Pria yang tak lulus perguruan tinggi ini, mulanya menekuni dunia sastra dengan menulis sekitar 300 buku. Begitu bosan menulis, bersama istrinya nekat menjadi petani garam konvensional pada 2011.

Ia pun membuat terobosan membuat garam dengan media terpal plastik. Jika dengan bertani garam dengan cara konvensional, produksi garam hanya mampu menghasilkan 60 ton-70 ton setiap ha. Dengan cara geo-memberant atau dengan system TUF yang dilakoninya, panen petani bisa naik hingga 120-125 ton per ha.

Mula-mula, dibuatnya rumah prisma ukuran 10 meter persegi x 10 meter persegi dengan penutup mika plastik. Tak berselang lama dinding plastik itu jebol. Lalu, dia beralih ke plastik jenis geo protect yang mampu bertahan hingga lima tahun.

Selain membuat meja kristal, rumah bambu berdinding dan atap plastik itu juga dibuat bungker. Bangunan penyimpan air laut sebagai bahan baku utama garam ini disimpan di bungker setelah melalui sejumlah proses hingga air menjadi tua atau kekentalannya memenuhi syarat.

Dengan itu, Arifin bisa menyimpan air tua dalam bungker seluas 5.000 m2 sebagai cadangan bahan baku hingga mencapai ribuan meter kubik. Karena tidak ada hujan sepanjang Juli-Agustus, tujuh unit meja kristalnya mampu memproduksi 3 ton per hari. Bulan berikutnya, ada penurunan sedikit demi sedikit hingga tercapai angka 400 ton.

Saat ini, rumah prisma yang dikelolanya menjadi tempat riset dan pengembangan produksi garam di Jatim. (YK/M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya