Panen Garam Sepanjang Masa

M Ahmad Yakub
26/8/2018 05:40
Panen Garam Sepanjang Masa
(MI/ M AHMAD YAKUB)

BELASAN bangunan berbentuk prisma dan limas berdiri berjajar. Dari ujung utara hingga selatan sepanjang pinggir kali. Kerangka bangunan terbuat dari bambu. Atapnya ditutup dengan plastik. Pada bagian dalam, dibuat kolam dengan alas bawah terpal plastik.    

Pada sela bangunan, terdapat pematang yang memanjang berupa kolam serupa, tetapi dibuat terbuka dan berjajar. Ukurannya disesuaikan dengan kebutuhan. Pada kolam terbuka, dasarnya juga dialasi terpal plastik. Kedalaman kolam juga variatif, antara 20 sentimeter hingga 2 meter.

Itulah pemandangan lahan tambak garam milik Arifin Jamian Maun, 56, warga Desa Sedayulawas, Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Banyak orang melihat itu sebagai pemandangan yang tidak wajar karena tidak terlihat seperti lahan tambak garam pada umumnya. Padahal, itu salah satu bentuk inovasi petambak garam di pesisir pantura Lamongan yang menyedot perhatian banyak negara.

Pasalnya, tambak garam yang dikelola Arifin mampu memproduksi garam hingga 400 ton setiap hektare (ha), sedangkan untuk tambak garam tradisional pada umumnya hanya mampu memproduksi 70 ton garam per ha.

Adapun untuk tambak garam dengan Teknologi Ulir Filter (TUF) bikinan pemerintah, hanya bisa berproduksi antara 120 ton-125 ton per ha. Sebuah angka yang cukup fantastis bukan? Lantas, apa rahasianya?

Arifin mengatakan, tambak inovasi miliknya memiliki bungker (tempat penyimpanan) yang memadai. Lahan garam miliknya merupakan lahan Solo Valley seluas 1,5 ha.

Ada area penampungan air muda seluas 1.000 meter persegi, fasilitas ulir (meja jemuran) seluas 5000 meter persegi, dan meja kristal (tempat membuat garam) seluas 700 meter persegi.

Terdapat juga bungker air sebanyak 11 unit berbagai ukuran, sedangkan untuk lahan 1000 meter persegi disisakan buat pematang tambak dan tempat instalasi pipa saluran air. Lahan itu dikelola sendiri bersama keluarganya, sedangkan pada saat panen raya, Arifin dibantu dua pekerja.

Menurut Arifin, sebelum masuk bungker, air laut yang telah melalui proses pemisahan senyawanya berbagai tahap itu bisa disimpan hingga musim panen tahun selanjutnya. Dengan ketersedian bahan baku itu, ia bisa mengristalkan garamnya setiap waktu, termasuk saat musim penghujan pun lahan tambak garamnya tetap bisa memproduksi garam.

Terobosannya juga diapsresiasi Pemerintah Provinsi Jatim dengan memberikan bantuan 10 unit rumah prisma. Beberapa waktu lalu, pejabat dari negara Thailand dan Malaysia juga menyematkan berkunjung ke lahan tambak inovasinya untuk me­nimba ilmu.

Vertikultura
Musim penghujan bagi petambak garam merupakan masa yang sulit. Garam tidak bisa diproduksi, bahkan tak jarang petani mengalami gagal panen. Namun, dengan rekayasa alat produksinnya, Arifin mampu membuat garam setiap saat, temasuk pada musim penghujan.
Sejumlah pengusaha dari Semarang dan Malang kemudian memercayakan modalnya hingga miliaran rupiah untuk dikembangkan.

Produksi garam yang dikelolanya bahkan lebih tinggi dari pegaram di Australia. Terobosan usaha Arifin ini menjadi oase kala negeri ini tengah dilanda krisis garam. Keberhasilan itu tak lantas membuat arifin puas. “Saya sedang mengembangkan teknik vertikultura,” terangnya.
Teknik vertikultura ini memungkinkan menempatkan meja produksi pada bagian atas dan bungker pada bagian bawah. “Ini untuk efisiensi lahan produksi,” sebutnya.

Sekitar awal Januari 2017, teknologi vertikultura dikembangkan. Dengan dibantu sejumlah pekerja, Afirin sedang menyiapkan lahan produksi bagi investor asal Semarang dan Malang. Sekitar 25% lahan atau 6.000 meter persegi diperuntukkan bagi tempat produksi dengan sistem vertikultura. Selebihnya, dipergunakan untuk membuat sejumlah fasilitas pendukung produksi, antara lain, bungker air muda, ulir yang fungsinya untuk mengatur sirkulasi air.

Untuk ulir ini, Arifin memerlukan lahan seluas 10 ribu meter persegi, karena masing-masing ulir membutuhkan lahan seluas 5.000 meter persegi. Dengan estimasi lahan produksi 6000 meter persegi itu, Arifin optimistis, setiap hari mampu memproduksi garam sebanyak 5 ton atau dalam setahun bisa mampu memproduksi garam hingga 1.500 ton.

Jika dihitung dengan estimasi harga garam senilai Rp2.000 per kg, dalam tahun pertama, Arifin mampu mengembalikan modal. Bahkan, investor bisa meraup keuntungan sebesar Rp1 miliar. Padahal, saat ini harga garam konsumsi sebesar Rp2.400 per kg.
Arifin mengaku tak memedulikan berapa persentase keuntungan yang diperoleh dari pengusaha. Namun, yang terpenting Indonesia tak lagi menjadi pengimpor garam. (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya