Persembahan Istimewa untuk Asian Games 2018

(*/M-4)
26/8/2018 04:20
Persembahan Istimewa untuk Asian Games 2018
(DOK.DKJ)

PERTUNJUKAN Jakarta City Philharmonic (JCP) Sabtu (18/8) malam itu, di Teater ­Jakarta, Taman Ismail Marzuki, ­Jakarta, begitu berbeda dengan adanya alat musik obo (sejenis seruling) yang dimainkan Bagaskoro Byar Sumirat. Ia begitu lihai meniupkan alat musik tiup yang sangat sulit dimainkan itu.

Dibutuhkan tenaga yang kuat untuk memainkan alat musik obo disebabkan lubang untuk meniup alat musik ini sangatlah kecil. Alunan merdu nan beragam sangat terasa dimainkan Bagaskoro. ­Bagaskoro khusus diundang pada malam itu karena ia merupakan pemain obo utama di Sun Symphony Orchestra Hanoi, Vietnam.

JCP edisi ke-15 mengusung tema Ruang dan waktu dihelat untuk memperingati HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia dan menyambut pembukaan Asian Games 2018. Karya yang dimainkan pada malam itu ialah Simfoni Kecil untuk Sembilan Instrumen Tiup karya Gunoud, Konserto Ganda untuk Dua Orkes Gesek, Piano, dan Timpani karya Bohuslav Martinu.

Pada permainan kedua, Budi Utomo selaku pengaba yang mengambil alih permainan dengan orkestranya. Jam Flora karya Francaix, dan Intuisi: Sekuel untuk Orkestra dan Alat Rekam Elektronik karya komposer muda kebanggaan Indonesia Misael Elahrens Tambuwun.

Pada bagian penutup konser, Budi Utomo yang sebelumnya telah meninggalkan panggung, tiba-tiba kembali dengan ­mengenakan jaket Asian Games. “Malam ini bisa dikatakan spesial karena pelaksanaan JCP berbarengan dengan perhelatan Asian Games. Ada 130 anggota ­paduan suara yang sudah bergabung ­bersama kita malam ini, dan akan ­bersama-sama menyanyikan Bagimu Negeri,” ucap Budi.

Sontak, berdirilah sejumlah orang dari bangku penonton di bagian bawah serta lantai dua Teater Jakarta. Sebanyak 130 anggota paduan suara tersebut ternyata sudah menanti dari tadi.

Selain menghadirkan Bagaskoro Byar Sumirat, JCP juga menghadirkan Misael Elahrens Tambuwun yang merupakan pianis, edukator, dan musik terapis di John Hopkins Hospital Baltimore, Amerika Serikat. Bagaskoro memain­kan alat musik obo pada malam itu dan memainkan simfoni kecil untuk sembilan bersama delapan pemain alat musik tiup lainnya.

Mendengarkan alunan mu­sik yang dimainkan para pemain alat musik tiup itu mengingatkan pada suasana ceria dan menyuratkan suasana romantis. Bisa dikatakan, Bagaskoro sukses memukau para penonton pada malam itu dengan permainan obonya.

Menegangkan

Budi Utomo Pra­bowo selaku pengaba mengambil alih permainan kedua dengan ­memainkan konserto ganda untuk dua bersama tim orkestra yang didominasi oleh pemain biola tersebut. Berbeda dengan penampilan pertama, permainan yang kedua kali ini sangat menggebu dan menegangkan.

Penulis karya ini, Bohuslav Martinu memang mensyaratkan bahwa konserto ini ia dedikasikan untuk temannya yang mengenang hari-hari sunyi dan menakutkan yang berlalu di Schonenberg, Swiss, saat terjadinya perang. Dalam konserto itu, jelas terdengar banyak dentuman-dentuman yang menimbulkan ketegangan tersebut.

Setelah istirahat 15 menit, Bagaskoro kembali memain­kan obo tetapi kali ini ia di­iringi juga dengan pemain biola, piano, dan tentu saja pengaba Budi Utomo. Kali ini permainan yang dijalankan begitu sangat asyik karena tambahan permainan obo.

Ada suasana jenaka yang timbul dari suara alat musik obo. Seakan bangga dengan Bagaskoro. Budi Utomo, ­seusai memainkan orkestra ini ­mempersilakan para ­penonton untuk terus melakukan tepuk tangan untuk Bagaskoro. ­Bahkan, ia mempersilakannya memainkan obo sekali lagi.

Terakhir, orkestra ini membawakan Intuisi dengan ­penggabungan unsur ­elektronik yang mencekam. Hal paling misterius yang terjadi ialah adanya sepenggal lagu Lingsir Wengi pada orkestra terakhir yang dimainkan pada  malam itu. Menceritakan seorang anak kecil yang mengalami mimpi buruk dan tak bisa tertidur, bahkan ia mengalami kematian pada akhirnya.

“Bisa dikatakan, semua hal yang terjadi malam ini adalah sebuah momentum yang terjadi secara bersamaan secara kebetulan. Sesuai dengan tema, semua lagu yang dinyanyikan juga merupakan kronologis yang menceritakan sebuah awalan dari sebuah kejadian,” ungkap Aditya Prada Setiadi. (*/M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya