Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEMBURAT warna-warni langit tercipta saat awan yang saling berarak menggiring pada suatu kisah di suatu kampung bernama Kutowaringin yang sejuk karena rindang pohon beringin di suatu sudut.
Pohon beringin itu jadi tempat bernaung Kang Gimin dan Yu Siti berjualan. Awalnya pohon itu menenteramkan. Hingga kabar menggegerkan datang dari mulut pak kades, bersama dukunnya. Agnes, anak pak Kades yang sedang menunggu waktu untuk jadi bintang sinetron, justru kesurupan. Menurut si dukun, kesurupan Agnes karena setan yang bermukim di pohon beringin itu.
Oleh sebab itu, pohon yang meneduhkan dan mungkin mengilhami sebagian warga, harus ditebang. Nada penolakan jelas bermunculan dari beberapa warga. Sebenarnya, mereka tidak kerepotan bila mau mengusir si setan, tetapi jangan sampai menebang beringin yang telah jadi identitas kampung mereka itu.
Tidak ada waktu. Penebangan pun harus dilakukan. Namun, sepertinya pak kades dan juga si dukun justru membuat blunder. Seusai penebangan, berbagai rentetan kesurupan bermunculan. Suara-suara aneh bermunculan dari tempat bekas beringin itu hidup, tempat Kang Gimin dan Yu Siti berjualan, yang kini jadi gersang.
Si dukun kemudian bernegosiasi kepada setan, yang mengharuskan tiap warga menanam beringin di halaman rumah. Warga dikumpulkan pak kades, tetapi mereka toh seperti mau tak mau menjalankan instruksi aparat pemerintah desa, hasil negosiasi dengan kaum setan.
Warga khawatir jika menanam beringin, setan justru makin banyak. Meski pak kades sudah menawari bibit dan penanamannya dimodali pemerintah desa.
Singkat cerita, Agnes kini telah sembuh. Ia memang tidak menjadi pemain sinetron, tetapi ia tetap jadi bintang, dari panggung ke panggung, menjadi biduan dangdut yang terkenal dengan goyang kesurupannya itu.
Sejurus dengan sembuhnya Agnes, kini, beringin ada di mana-mana meski Beringin tua dan dedengkotnya sudah tiada. Setan-setannya beranak-pinak, mendiami di tiap sudut beringin, mengintai setiap manusia di Kutowaringin.
Lebih ke film
Demikianlah sekelumit kisah yang ditampilkan Wayang Tavip dalam lakon Beringin Setan di Teater Kecil, TIM, Jakarta Pusat, Rabu (22/8).
Lakon ini diadaptasi dari cerpen Budi Ros yang ditulis medio 2000-an. Budi yang biasanya bermain secara flamboyan sebagai aktor panggung, kini belakangan mulai mendapat sematan nama Ki, di depan namanya. Mendalang Wayang Tavip yang indah melahirkan warna-warni itu.
Menurut Budi, ia memerlukan transformasi saat ia berperan sebagai aktor teater, dan saat mendalang. “Dulu saya main (aktor teater) kan alatnya cuma badannya sendiri, kalau di sini (mendalang) alatnya ya wayang, plastik-plastik itu. Untuk olah vokalnya juga lebih dari sekadar ketika saya main di teater,” ujar Budi yang intens mendalang sejak 2010 ini.
Kalau soal cerita, imbuhnya, imajinasi yang ada di cerpen itu kiranya bisa digambarkan. Pemberian nama wayang tavip sendiri berasal dari ide Nano Riantiarno, sutradara Teater Koma. Ide itu muncul saat M Tavip, pencipta Wayang Tavip tengah menempuh tugas tesis S-2 di ISI Surakarta, Jateng.
“Kalau kita nonton wayang kulit kena cahaya, sementara seni rupanya kuat banget tapi cuma dilihat hitam putihnya aja. Saya berpikir bagaimana bayang-bayang itu bisa dilihat penonton, akhirnya ini menyangkut media, lewat plastik transparan. Jadinya wayang ini lebih ke film, lampu-lampunya juga menggunakan sampai 15 lampu dipakai buat adegan efek,” kenang M Tavip yang menciptakan Wayang Tavip pada 2008. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved