Mencintai Pisau tanpa Kekerasan

ABDILLAH MARZUQI
26/8/2018 03:20
Mencintai Pisau tanpa Kekerasan
(FOTO: MI/BARY FATHAHILAH)

DI garasi yang sudah diubah fungsinya itu seke­lompok pria sekilas seperti adegan di film thriller. Mengenakan apron dari kulit, kacamata khusus, dan capitan panjang, mereka bereksplorasi dengan besi panas. Seorang memanaskan besi untuk ditempa menjadi lempengan. Selanjutnya, lempengan yang sudah berbentuk pisau ditajamkan dengan gerinda.

Peralatan mereka lengkap, mulai tungku, berbagai gerinda, perlengkapan sepuh, hingga peralatan pe­nempa. Namun, mereka bukanlah kelompok usaha pembuat pisau ataupun kelompok yang menebarkan kejahatan dengan menggunakan pisau.
Mereka justru komunitas pecinta pisau yang anti kekerasan. Mereka tergabung dalam Indonesian Blades (IB).  

“Awalnya saya suka pisau karena kegiatan luar ruangan. Walaupun tidak selalu dipakai, tapi sangat berguna. Berangkat dari situlah saya coba-coba bikin pisau,” tutur Ketua Bidang Harian IB, Cornelius Rusandhy, kepada Media Indonesia, pada Sabtu (18/8), di garasi yang berada di kediamannya di Jakarta.

Bagi anggota yang lain, alasan ketertarikan pada pisau beragam. Ada yang berawal dari aktivitas bela diri, tapi ada juga karena alasan domestik. Seperti yang dikatakan Luluk Elma. “Kalau saya suka pisau kan saya ibu rumah tangga. Otomatis aktivitas sehari-sehari, saya pakai sehari-sehari. Terus dari hobi juga kan, hobi saya masak. Jadi, otomatis pisau itu sudah tiap hari pegang. Jenisnya beda-beda lagi,” tutur perempuan berusia 38 tahun ini.

Berbagai alasan yang berbeda itu menyatukan para peminat pisau di forum Outdoor Kaskus pada 2007. Peminat yang cepat bertambah membuat mereka membentuk forum tersendiri, Pisau Indonesia, pada 2009 yang kemudian menjadi Indonesian Blades setahun kemudian.

Pada 2011, Komunitas IB membuat grup di Facebook. Sejak awal dibuka, antusias anggota baru membeludak. Sampai saat ini, anggota komunitas IB lebih dari 5.000 orang yang bergabung di media sosial.

Komunitas IB juga membuat website sendiri pada 2013. Mereka ingin berkembang. Tidak hanya untuk anggota komunitas, tapi juga untuk seluruh masyarakat. Untuk itu pula IB membuka diri untuk kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengenalkan pisau.

Sementara itu, anggota yang terdaftar dengan nomor identitas komunitas sebanyak 1.000 anggota. IB mempunyai 18 chapter (cabang) yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun, ada batasan umur pula untuk bergabung dengan mereka. “Kita lihat-lihat dulu. Intinya kita enggak mau anak-anak kecil. Harus cukup dewasa untuk bergabung,” tambah Omar.

Menghapus citra negatif  
Di sisi lain, Ketua Umum Indonesian Blades Wan Omar Jacob Saleh, menjelaskan jika alasan pembentukan komunitas tersebut bukan hanya untuk menyatukan kecintaan yang sudah ada pada pisau, melainkan juga untuk menepis citra negatif pada produk budaya yang sudah ada sejak dahulu itu.

“Orang masih takut sama pisau, sudah negatif. Jadi kita mau, menurut kita pisau itu alat yang penting, tapi di Indonesia dipersulit. Bukannya kita mau bawa pisau sembarangan kemana-mana. Ingin buat supaya orang enggak langsung takut aja lihat orang bawa pisau,” tutur pria berusia 50 tahun itu.

Sebab itulah, tambahnya, IB punya visi untuk memperjelas posisi pisau sebagai alat bantu, bukan senjata, apalagi untuk berbuat jahat. Visi ini juga diwujudkan dengan memperhatikan betul sisi keamanan saat membawa pisau.

Omar menjelaskan pisau harus dibungkus dengan bahan yang tidak mudah sobek, seperti kulit, kertas tebal, atau kotak. Pisau diletakkan pada posisi yang aman dan tidak mudah dilihat serta tidak gampang dijangkau. Jadi, untuk mengambilnya saja dibutuhkan usaha ekstra. Semisal, diletakkan dalam koper pada bagian paling bawah ketika hendak berpergian.

“Sehingga orang akan berfikir jangankan mau berbuat kejahatan, mengambil pisaunya saja susah,” tukasnya. Di garasi itu, IB memperlihatkan pula teknik pembentukan pisau yang ternyata tidak mudah. Setidaknya ada dua teknik yang umum dipakai, yakni teknik tempa (forging) dan teknik potong dengan gerinda (stock removal).

“Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan sendiri-sendiri,” terang Cornelius atau yang akrab disapa Onel.

Kelebihan teknik penempaan ialah tidak tergantung pada bentuk material bahan. Apapun bentuk dan ukuran bahan bisa dijadikan pisau. Kekurangannya, teknik membutuhkan tempat untuk tungku pembakaran dan paron tempa.

Sementara itu, teknik potong gerinda punya kelebihan yakni proses yang lebih sederhana dan pembuatannya lebih mudah, sekaligus lebih cepat. Teknik potong gerinda bergantung pada dimensi dan ukuran material bahan. (M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya