Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ULAT sagu adalah makanan khas asli masyarakat Papua yang didapat dari pohon sagu yang sudah tua. Bentuknya sama ulat biasa berwarna putih bersih, kepalanya hitam, bisa dimakan mentah dan dimasak dengan cara digoreng. Satu porsi ulat sagu yang didapat dari pohon sagu lapuk biasanya disajikan dengan makanan khas lainnya, seperti papeda yang terbuat dari sagu, singkong, ubi jalar, dan keladi.
Bagi masyarakat hukum adat Kombai di Papua, ulat sagu tak hanya untuk dimakan. Mereka memiliki sebuah ritual khusus bernama Pesta Ulat Sagu, sebagai salah satu kearifan lokal setempat.
Pesta ulat sagu adalah ritual adat yang dikhususkan sebagai sebuah tanda ungkapan syukur dan terima kasih atas kebaikan dan kasih sayang dari Tuhan, leluhur, alam semesta, dan sesama orang Kombai. Pesta ulat sagu dalam bahasa Kombai disebut sebagai Yame.
Yame adalah sebuah pesta besar karena melibat banyak orang, baik dari dalam komunitas masyarakat adat Kombai maupun dari luar komunitas. Dalam pelaksanaannya, diperlukan kerja sama dan solidaritas persaudaraan yang tinggi dalam komunitas maupun di luar komunitas.
Pesta Ulat Sagu dimulai dengan ritual memanah babi yang dikorbankan untuk leluhur. Babi ini dikurung dalam sebuah potongan-potongan kayu yang memiliki celah dan orang yang memanah babi ini haruslah seorang perjaka.
Yang menyediakan babi merupakan tugas tuan rumah dari pesta. Babi akan dikurung di tempat yang akan diadakannya pesta dan ketika darahnya sudah mengalir di tempat tersebut, tempat tersebut sudah bisa dipakai untuk pesta.
Selanjutnya, undangan akan disebar kepada kampung-kampung atau komunitas-komunitas dengan cara menyebarkan rokok kepada mereka. Rokok ini merupakan tanda dari sebuah undangan agar mereka datang ke acara Pesta Ulat Sagu.
Tuan rumah dari pesta tersebut juga harus menyediakan logistik yang berupa sagu dan ulat sagu yang menjadi jamuan dan makanan utama pada acara pesta ulat sagu. Hal selanjutnya ialah pembersihan terhadap tempat pesta. Pembersihan yang dilakukan ialah membabat pohon-pohon kecil tetapi tetap mempertahankan pohon besar.
Ketika pesta telah usai, mereka akan melakukan barter yang dilakukan di pasar tradisional. Mereka menukar barang dengan barang dan tidak menggunakan uang. Ketika proses barter selesai, pesta telah selesai dilaksanakan.
Kepala Pesta Ulat Sagu, Yambumo Kwanimba, mengatakan sagu ialah komoditas berharga dalam Pesta Ulat Sagu. “Sagu merupakan makanan sehari-hari suku Kombai dan Korowai sehingga pelestarian hutan berarti juga melestarikan sagu,” ujarnya, saat ditemui di acara Diskusi Lingkungan Rakyat (Lingkar) Papua di Jakarta, beberapa waktu lalu.
Sagu mempunyai banyak fungsi dalam pesta. Daun sagu digunakan untuk membuat atap rumah pesta dan pakaian adat, pati sagu dan ulat sagu sebagai bahan pangan dalam pesta.
Aspek sosial
Secara dialeg bahasa dan sebaran topografi, masyarakat hukum adat Kombai terbagi ke dalam lima kelompok, yakni kelompok Kombai Tule, Kombai Hali, Kombai Tejan, Kombai Numbeaga, dan sub-Wanggom.
Selain aspek pangan, Pesta Ulat Sagu juga bermakna sosial. Pesta ini akan memperlihatkan bagaimana mereka sebagai satu kesatuan suku bekerja sama dalam saling menjaga kebutuhan makan antarsuku. Mungkin ada satu keluarga yang bisa panen sedikit, itu akan ditutupi mereka yang bisa panen banyak.
Seluruh anggota suku saling membantu, termasuk memilih tempat Pesta Ulat Sagu. Suku Kombai cukup istimewa karena bertempat tinggal di rumah-rumah yang dibangun di atas pohon setinggi lebih dari 50 meter.
Namun, untuk keperluan pesta, mereka tidak memilih pohon-pohon yang besar. Mereka akan membangun rumah pesta yang disediakan untuk kampung-kampung dan komunitas lain. Mereka juga menyediakan rumah tamu untuk tamu yang diundang dari pemerintah dan media.
Rumah pesta ini pun dibuat memanjang dan dibuat bilik-bilik untuk menandakan tempat-tempat bagi komunitas-komunitas. Di dalam bilik-bilik ini akan disediakan sagu dan ulat sagu untuk komunitas-komunitas yang datang.
Para komunitas, tamu, dan tuan rumah pesta akan menari dan berpesta yang dilakukan sedari sore sampai pagi hari.
Tamu yang diundang diperbolehkan untuk memakan sagu dan ulat sagu tersebut. Mereka dipersilakan untuk kembali lagi menari dan berpesta hingga selesai pesta.
Akan tetapi, saat ini masyarakat Kombai sedang diresahkan dengan adanya ekspansi hutan di sekitar tempat tinggal mereka, mulai Hutan Tanaman Industri (HTI), Hak Pengusaha Hutan (HPH), serta konversi hutan menjadi sawit.
Beberapa perusahaan pemegang Hak Pengelolaan Hutan di masa Orde Baru yang telah beroperasi dari 1980-an telah meninggalkan areal konsesi mereka di wilayah adat masyarakat Kombai. Saat ini masyarakat adat Kombai pun berjuang agar dapat memiliki hak pengelolaan hutan melalui skema Perhutanan Sosial (hutan adat).
“Karena masih ada ritual adat di hutan, dan itu masih berhubungan erat dengan sumber daya hutan, misalnya sagu, kalau hutan terancam, maka sagu terancam, jadi sumber penghidupan masyarakat itu adalah hutan. Bayangkan kalau festival itu masih dilakukan, berarti butuh sagu dalam jumlah banyak, kalau ada konversi lahan, maka akan ada ancaman terhadap pangan dan budaya dari suku Kombai,” beber Kristian Ari, selaku perwakilan Perkumpulan Silva Papua Lestari.
Untuk meminta dukungan, masyarakat suku Kombai berencana mengundang pemerintah dan wisatawan, untuk datang ke Pesta Ulat Sagu di kampung Uni, Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Provinsi Papua, pada 26 September 2018.
Mereka berharap masyarakat luas peduli dan memperhatikan hutan yang selama ini mereka pakai untuk kehidupan mereka. “Mereka ingin menyampaikan bahwa jika hutan tidak ada, maka kebudayaan mereka pun akan hilang,” pungkas Kristian. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved