Mari Menghadap ke Laut

SURYANI WANDARI
26/8/2018 02:20
Mari Menghadap ke Laut
(DOK PRIBADI)

PULUHAN karung goni besar  menumpuk di area penimbangan,setelah diaudit, sampah-sampah di dalamnya siap diangkut Dinas Lingkungan Hidup untuk dibuang pada tempat pembuangan sampah akhir (TPA). Tak lama untuk mengumpulkan sampah ini, kurang lebih 30 menit saja.

Setelahnya, Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kota Bitung, Sulawesi Utara, kemudian bersih tanpa sampah tersisa. Tentu saja, lebih dari 1.500 orang turut membantu ‘Menghadap laut’, yaitu gerakan mencintai, peduli, dan menjaga laut yang dilakukan sukarela, pada Minggu (19/8). Diadakan Pandu Laut Indonesia, gerakan kolektif independen ini dibina langsung Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Gerakan ini sekaligus merayakan HUT ke-73 RI untuk menunjukkan kepedulian masyarakat pada laut, apalagai Indonesia bercita-cita sebagai poros maritim dunia. “Sudah banyak yang dilakukan, tapi masih banyak juga pekerjaan kita untuk menjadikan laut sebagai masa depan bangsa dan poros maritim dunia. Kita perlu melihat, menghadap, dan melakukan sesuatu terhadap cita-cita ini,” kata Susi saat membuka acara ini.

Keinginan Susi ini sejalan dengan harapan masyarakat Bitung yang juga hadir dalam acara bersih-bersih pesisir laut ini. Ada Febrio Ahmad, mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, yang menyatakan kegiatan seperti ini perlu dilakukan setiap hari. “Lebih bagus apabila dilakukan setiap hari di seluruh pantai Indonesia atas kesadaran masyarakatnya.

Tentunya akan mengurangi sampah yang bisa merusak laut, terutama plastik yang sulit diurai alam,” ucap Febrio. Menurutnya, temuan sampah paling banyak berasal dari plastik pembungkus makanan, karena penggunaan botol plastik sudah dikurangi dengan Perda Bitung yang melarang warganya membeli botol kemasan plastik.

Ancaman itu nyata
Ancaman plastik itu memang nyata! Data BPS dan Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik Indonesia (INAPLAS), produksi sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun, sebanyak 3,2 juta tonnya merupakan sampah plastik. Sementara itu, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85 ribu ton kantong plastik, dan 32% sampah plastik itu  mengotori lingkungan.

Tak hanya itu, data dari World Economic Forum 2016 pun mengungkapkan sampah plastik yang masuk ke laut dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3–5 milimeter. Microplastics ini sangat mudah dikonsumsi oleh hewan-hewan laut sehingga sangat membahayakan kita, sebagai konsumen ikan-ikan itu.

Oleh karena itu, Pandu Laut Nusantara menargetkan Indonesia bisa merdeka dari sampah plastik. “Pemerintah harus lebih serius dalam melarang penggunaan plastik sekali pakai. Kegiatan hari ini adalah upaya membangun gerakan kerelawanan untuk merdeka dari sampah plastik. Keswadayaan masyarakat hari ini dalam bersama merawat laut adalah bagian dari kekuatan bersama merawat Indonesia,” ucap Ketua Umum Pandu Laut Nusantara, Bustar Maitar.

Di seluruh Indonesia
Hari itu, masyakarat Bitung pun berhasil mengumpulkan sampah sebanyak 1.143,7 kg, terdiri atas karet 45.2 kg, plastik 138.58 kg, tali jaring atau tambang 144,17 kg, dan jenis sampah lainnya 815,75 kg. Tak hanya Bitung, rupanya kegiatan ini pun dilakukan serentak di 76 titik dan 24 kapal dari Sabang sampai Merauke, melibatkan lebih 50 orang dan 341 mitra.

Mereka terdiri atas kelompok masyarakat, komunitas masyarakat adat, nelayan, mahasiswa, dan kelompok-kelompok pemerhati lingkungan, termasuk seniman dan para pesohor. Jumlah ini melebihi target sebelumnya, 73 titik, sesuai usia Indonesia. “Respons masyarakat sungguh luar biasa. Mereka menciptakan kegiatan di titik lainnya meski dilakukan secara sukarela,” kata Susi yang sebelumnya juga berkampanye tentang aksi ini di media sosialnya.

Jumlah sampah yang terkumpul di tiap tempat berbeda-beda. Di Ancol, Jakarta, terkumpul sampah sebanyak 2,86 ton yang terdiri atas plastik keras 92,85 kg, plastik lunak 839,295 kg, kaca 104,30 kg, kain 852,11 kg, logam 13,1 kg, karet, styrofoam 132,615 kg, ban 192 kg dan jenis lainnya, 634,49 kg. Total dari 76 titik ini terkumpul 360 ton sampah.

Berujung ke kita
Daya rusak sampah memang luar biasa, bahkan Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke lautan terbesar kedua di dunia. Plastik dengan kandungan berbahayanya tentu jadi predator utama ikan di laut. “Jika sampah itu dimakan ikan, lalu dimakan kita, berarti sama saja zat berbahayanya kita makan bukan?” kata pekerja pabrik pengolahan ikan, Marista Dwi Hesti, di Bitung.

Marista yang setiap hari bergelut dengan ikan-ikan olahan itu, menegaskan, selain menjaga kesehatan ikan dengan menyayangi laut, pun memprioritaskan ikan sebagai makanan sehari-hari. “Kandungan didalamnya kan banyak, apalagi bisa membuat anak cerdas, masa masyarakat Indonesia tidak suka makan ikan, padahal negara lain pesan ikan sama kita,” kata Marista.

Aksi Marista, Febrio, dan anak-anak muda lainnya di Bitung, menjadi harapan Susi mengurangi 70% sampah plastik di laut pada 2025. Di akhir acara, Indonesia Raya dan Padamu Negeri dinyanyikan, dipimpin Menteri Susi, tentunya sambil menghadap laut. (M-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya