Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
USIA republik ini kini genap 73 tahun dengan sejumlah pencapaian yang berhasil diraih. Seniman dari lintas generasi yakni, Afdhal, Gunawan Bonaventura, Butet Kartaredjasa, dan Bambang Heras menangkap ruh kemerdekaan itu dan memvisualisasikannya dalam goresan karya seni rupa yang dipamerkan di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, hingga 19 Agustus 2018.
Merujuk pada tema besar yang dipilih, yaitu Energi Seni, pelukis Afdhal mencoba menuangkan kegundahan hatinya dalam wujud sosok panglima besar Jenderal Soedirman.
Karyanya yang berjudul The Champion #1 menggambarkan sosok Soedirman yang bercahaya di antara kelamnya langit dan rerumputan di sekitarnya. Soedirman menghadap ke arah perahu yang tengah didayung oleh sejumlah orang. Soedirman memberi hormat kepada pemimpin mereka yang bediri paling depan.

"Saya ingin gambarkan energi dari Jenderal Soedirman yang sekarang mungkin memudar. Saya menghadirkan sosok itu sebagai panutan," ungkap Afdhal saat ditemui pada pembukaan pameran.
Pelukis kelahiran Sumatra Barat itu melihat Soedirman sebagai sosok yang terlupakan padahal, dia sudah membawa energi besar untuk pencapaian kemerdekaan ini.
Seniman grafis Gunawan Bonaventura rupanya menangkap kesan yang sama dengan Afdhal. Pegrafis asal Gunung Kidul, Yogyakarta itu memvisualkannya dalam bentuk hardboard cut berjudul My Idol.
Dalam bingkai berukuran 100x80 cm itu, terlihat seorang bocah mengenakan blankon, berbaju jersey dengan tulisan Messi lengkap dengan nomor punggung 10. Bocah dengan senapan kayu di punggungnya itu memberi hormat pada jaket cokelat yang menjadi metafora dari sosok Jenderal besar Soedirman. Jaket itu tergantung rapi di tembok.
Karya Gunawan itu adalah sebuah ironi lain dari kemerdekaan Indonesia yang telah mencapai 73 tahun lamanya, ketika banyak generasi muda yang sulit mendapatkan sosok pemimpin untuk diidolakan.
Pelaku teater yang juga pelukis Butet Kartaredjasa juga memaknai kemerdekaan RI yang sudah mencapai 73 tahun ini dengan sebuah ironi. "Ini kan perayaan 17 Agustus. Karena saya enggak terbiasa upacara, saya memenuhi undangan pameran Energi Seni ini. Bagaimana kita menikmati karunia yang meski sudah merdeka, tapi masih mencari keindonesiaan," sebut Butet.
Salah satu karyanya yang terbuat dari keramik resin berukuran 68 cm berjudul Kuping Tersumbat, menggambarkan sesosok laki-laki yang terus saja membuka mulut meski telinga kanannya tersumbat.
.jpg)
Sedangkan, Bambang Heras, pelukis asal Yogyakarta itu coba mengkritisi semangat kemerdekaan yang kini sudah meluntur. Ia menggambarkannya dalam karya berjudul Unity. Lukisannya yang tersebar dalam beberapa kanvas beda ukuran, menimbulkan kesan muram lewat goresan warna-warna kelam.

Dari kejauhan, 12 panel kanvas yang dilukis laki-laki kelahiran 1966 itu sudah menyita perhatian. Di dalamnya, ada potret diri sejumlah sosok pahlawan nasional yang divisualisasikan secara samar. Salah satunya terlihat seperti pahlawan asal Pasaman, Sumatra Barat, Tuanku Imam Bonjol. "Semangat kemerdekaan mulai luntur. Ini yang coba saya visualkan," ucap Bambang.
Penasaran dengan karya-karya mereka yang penuh makna dan filosofi mendalam? Silahkan datang ke Pameran Seni Rupa Energi Seni di Main Function Hall Lantai 2 Plaza Indonesia, Jakarta. Pameran ini akan berlangsung hingga Minggu (19/8) nanti. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved