Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KESIBUKAN Inayatul Miskiah, Almarizal, dan Fatchur Rahman, pada empat pekan pertama sekolah itu bukan cuma di kelas, praktik di dapur bagi siswa tata boga atau di laboratorium komputer bagi siswa Multimedia dan Bisnis Daring serta Pemasaran. Ketiga siswa itu menjadi bagian dari tim Kakak Matriks yang beranggotakan murid-murid kelas 11 yang bertugas mendampingi adik-adiknya yang baru bergabung di SMK Wikrama, Sindangsari, Bogor, Jawa Barat.
“Kami membantu guru dan adik-adik, misalnya tadi, dalam pelajaran bahasa Inggris, mereka kan lagi belajar soal vocabulary, saya bantu mereka mengoreksi pelafalan kata-kata, jadi satu per satu saya tes, sebelum nanti dites guru,” kata Inayatul ketika ditemui Muda di sela kesibukannya, Rabu (8/10).
Matriks, kata Sarwono, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, serupa dengan program matrikulasi yang berlaku di jenjang kuliah. Sekolah mengupayakan seluruh siswa memenuhi tingkat kemampuan akademis sesuai standar, sekaligus menjadi awal dari rangkaian kolaborasi siswa antartingkat yang kemudian mengikis senioritas, perundungan, dan mengasah keterampilan memimpin. “Karena di sini banyak keunikan, seperti sistem rayon yang berlaku mulai kelas 10 hingga lulus nanti, kami dikelompokkan berdasarkan kedekatan rumah sehingga punya satu guru pembimbing yang terus memantau dari awal hingga jadi almuni, maka kami yang membantu menjawab jika siswa baru ada pertanyaan,” kata Fatchur.
Pekan pertama yang memantapkan
Aneka sistem dan aturan yang berlaku di Wikrama, disebut Muslih, Wakil Kepala Sekolah Bidang Hubungan Industri terbilang istimewa. Matrikulasi serupa sistem the fi rst weeks yang diberlakukan di sekolah-sekolah negara maju, untuk memantapkan kesiapan akademik dan mental, sebelum memasuki proses pembelajaran selanjutnya.
Pun, dengan manfaat tambahan, melatih siswa antar tingkat berkomunikasi dan berkolaborasi. Pembeda lainnya, sistem rayon, untuk memastikan siswa termonitor secara intens, tak terputus. Sarwono memaparkan pantauan, komunikasi, dan kolaborasi itu menghubungkan orangtua, anak, dan sekolah. “Karena di sekolah kami, rapot dibagikan bukan di sekolah, tapi di rumah siswa.
Secara teknis ini juga membantu karena domisili murid kami tersebar hingga wilayah yang jarak tempuhnya bisa satu jam. Kami ingin memudahkan orangtua, tetapi manfaat yang paling besar, dengan bertemu di rumah, komunikasi lebih lancar, segala keluhan dan masalah terungkap dan kami jadi tahu secara nyata, kondisi anak-anak dan keluarganya langsung,” ujar Sarwono.
Pertukaran informasi dan kiat antarorang tua, yang kemudian membantu mereka kian termotivasi dan berdaya, juga dipastikan terjadi karena rayon beranggotakan 40 hingga 60 siswa dan terdiri dari kelas 10, 11, dan 12 dari tujuh jurusan berbeda. Pun, bertemu di luar dinding sekolah, yang meruntuhkan sekat-sekat komunikasi antara guru, orangtua, dan siswa membuat orangtua bisa memvalidasi informasi yang diperlukan terkait dengan tantangan yang dialami murid tertentu.
“Di awal, kami melakukan wawancara, bukan tes sebenarnya, dilakukan terpisah antara orangtua dan siswa, untuk menggali informasi yang dalam, dengan teknik tertentu sehingga kadang apa yang ditutupi orangtua terungkap oleh anak, sebaliknya begitu. Itu menjadi bahan kami menentukan metode terbaik untuk mendukung anak. Tapi, dengan teknik khusus itu pun , kadang ada yang terlewat, nah dengan perjumpaan di rumah itu, kami banyak dapat temuan baru,” ujar Sarwono yang mengaku sempat membonceng pulang siswanya yang terbilang istimewa karena kerap enggan pulang langsung ke rumah, untuk mengantisipasi ia mampir-mampir dan terpapar pengaruh negatif kian dalam.
Buku Kejar Prestasi
Wahana buat berkomunikasi antara anak-anak muda yang dipahami sekolah tengah bertarung dengan perubahan fi sik, hormon, dan otak itu, kata Muslih, juga berwujud Buku Kejar Prestasi. Buku bersampul kuning ini bertuliskan aneka target yang ditetapkan dari tiap-tiap pelajaran, hingga sanksi dan apresiasi yang dikonversi dalam bentuk skor dan kode, mulai keterlambatan, pengumpulan tugas, hingga aksi yang paling lazim jadi tantangan anak muda, merokok. “Tapi, khusus untuk yang kasus sangat istimewa, misalnya, anak yang kerap tak sampai ke sekolah padahal sudah diantar hingga gerbang, kami pun punya buku khusus yang mencatat jam pulang dan pergi siswa yang ditandatangan orangtua,” kata Sarwono.
Aneka motivasi orangtua
Ikhtiar-ikhtiar untuk menjalin kolaborasi rumah dan sekolah itu, kata Muslih, menjadi salah satu prioritas, karena Wikrama punya banyak wajah. Setiap tahun, puluhan orangtua, bahkan dari luar Bogor mengirim anaknya, bahkan hingga meminta mereka tinggal di asrama, karena percaya dengan alumninya yang tuntas terserap industri.
Kepercayaan itu pun datang dari sebagian siswa yang datang karena kabar tentang kebun jamur tiram yang dikelola siswa, kafe hingga unit usaha pengembangan perangkat lunak yang dikembangkan sekolah, yang memastikan praktik dilakukan sejak di kelas. Namun, yang kemudian menjadi pekerjaan rumah ialah citra yang berawal dari jejak sekolah sekolah yang berusia 22 tahun ini, yang sukses menangani anakanak yang punya kisah suram saat SMP.
“Selain ada desa di Cibedug Bogor yang sampai disebut kampung Wikrama, karena banyak sekali alumni dan siswa di sana, ada juga label, anak masuk bermasalah masuk ke sini, nantinya beres. Faktor lainnya, input kami memang enggak bisa dibilang prima, sebagian besar menengah ke bawah dan sebagian lainnya akademik dan perilakunya bermasalah.
Dengan segala metode agar orangtua yang kemudian kami bimbing dengan kelas pengasuhan, dengan kondisinya yang berbedabeda, output-nya bisa terbukti dari pencapaian alumni di dunia kerja dan pretasi yang diraih sekolah,” kata Ono di antara ratusan piala dan piagam yang dipajang, yang terakhir, penghargaan anugerah pendidikan kategori Sekolah Inspiratif dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tingkat Kota Bogor 2018. Rangkaian upaya menjalin kerja sama rumah dan sekolah, juga berlanjut hingga ke digital. Ada aplikasi Kejar yang menjadi wahana pemantauan bersama atas pencapaian siswa pada setiap materi, yang dibagi setiap tahapnya sesuai rujukan Pusat Kurikulum, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Orangtua berdaya
Kisah tentang ikhtiar orangtua mendukung anaknya, secara akademik dan mentalnya, belajar berdaya dengan didukung sekolah, dikisahkan Nani Rahmawati, 41, orangtua Septio Surya. Enam bulan pertama yang penuh tantangan, jangka waktu yang disebut Sarwono, kurun waktu paling menentukan proses belajar anak selama tiga tahun, sukses dilalui.
“Kami menyebutnya keroyokan, ada pelatihan untuk memberi pemahaman, karena sebagian orangtua kami belum menjangkau pengetahuan cara mengasuh ini, dari Pak Dedoy Sudjarwanto, turun juga tim kesiswaan, guru Pembina Akhlak Mulia dan sistem rayon, pertemuan di rumah hingga sistem pelaporan,” ujar Sarwono. Septio yang kini tengah pratik kerja lapangan di Nutrifood, berkisah, keinginan untuk menjadi lebih baik muncul seiring dengan dukungan dan kepercayaan orangtua, pun guru, dan teman sekolahnya yang tak surut memberi semangat.
“Saya bahagia dipercaya banyak orang terutama oleh keluarga. Saya bisa belajar bertanggung jawab saat berada dalam masalah, teman pun mendukung saya dan mengarahkan saya kejalan yang lebih baik lagi.” (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved