Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEDUA kaki lelaki berambut ikal bertelanjang dada itu terbuka lebar. Otot-otot dada dan tangannya mengeras. Tangan kirinya mengepal dan tangan kanannya pun bersiap menghunuskan tombak. Patung ‘Penombak’ karya perupa Roberto Capurro pada 1903-1971 itu menyambut para pengunjung yang datang ke Pameran Benda Seni Koleksi Istana Kepresidenan Republik Indonesia Tahun 2018 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat.
Patung perunggu yang sebelumnya berada di Museum Seni La Boca Argentina itu begitu dikagumi Presiden pertama RI Soekarno. Mengetahui hal ini, Presiden Argentina Dr Arturo Frondizi pun menawarkan edisi patung itu sebagai kenangan-kenangan, saat Soekarno ke Argentina pada 1959.
Baginya, sosok penombak yang digambarkan Capurro sangat sesuai dengan semangat perjuangan yang ingin disampaikan kepada masyarakat Indonesia yang sebenarnya juga merupakan bangsa pelaut. Amir Sidharta, kurator pameran tersebut mengatakan, patung Penombak milik Capurro ditempatkan paling depan karena mewakili semangat juang yang tercermin dari 45 lukisan dan seni kriya koleksi dari lima Istana yang ditampilkan kali ini.
Pameran bertajuk ‘Indonesia Semangat Dunia’ yang dihelat hingga 31 Agustus 2018 itu ditujukan untuk memperingati HUT ke-73 RI, sekaligus menyambut penyelenggaraan Asian Games ke-18 di Indonesia. Gelora semangat juang juga terpancar dari lukisan Memanah karya Hendrik Henk Hermanus Joel Ngantung atau yang lebih dikenal Henk Ngantung. Dalam lukisan itu, Soekarno bahkan menjadi model yang memeragakan bagaimana seharusnya pose memanah yang benar.
“Soekarno sangat menyukai lukisan atau kriya bertema memanah. Menurutnya, memanah adalah lambang kesatriaan dan keterampilan yang mengkristal dalam budaya Jawa serta kosmologi wayang,” ujar kurator Watie Moerany. Dari Belanda, Indonesia juga pernah dihadiahi lukisan oleh Ratu Belanda Juliana. Salah satunya, lukisan Raden Saleh berjudul Perkelahian dengan Singa pada kanvas berukuran besar yakni 194 cm x 271 cm.
Lukisan yang dibuat 1870 itu memperlihatkan seekor kuda hitam berguling di tanah dengan sorot mata panik dan ngeri. Ototnya tampak menegang karena punggungnya diterkam seekor singa. Penunggangnya, seorang Badawi ikut terjatuh ikut terjatuh. Namun, berusaha menembakkan senjata api dari jarak dekat ke arah singa. Kemungkinan antara hidup dan mati yang tercipta dari adegan dramatis inilah yang menjadikan karya Raden Saleh istimewa. (Wan/M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved