Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TUJUH helai kain dengan berbagai macam ukuran bertumpu pada tali-tali transparan yang menjuntai dari atap ruangan. Di atas kain itu, ada pesan kematian dalam bentuk aneka sulaman. Ada yang serupa bintang, sebentuk bunga atau acak tak beraturan. Yang serupa bintang, dibentuk dengan benang berwarna biru terang, sedangkan yang berbentuk bunga menggunakan benang sulam hijau, putih, dan merah.
Adriani S Sumantri sengaja menulis pesan kematian itu dari hasil perenungannya selama enam bulan terakhir. Pesan itu divisualisasikannya dalam bentuk karya seni rupa kontemporer yang dipublikasikan dalam pameran kolektif Proyek SKS bertajuk Titik Temu, di Gedung B, Galeri Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (7/8).
Perempuan berambut pendek itu fokus mengamati makna kematian dalam berbagai pemikiran, praktik, serta ritual. Sebagai antropolog, ia juga melakukan riset sejak 2017 hingga kini.
“Kala mendengar kata kematian, kita sering meresponsnya dengan ekspresi ketakutan dan keengganan untuk membicarakannya. Padahal, peristiwa kematian itu adalah keniscayaan.”
Dari pengalaman pribadinya, ia pun menelusuri tentang kematian. Menurut Ani, mati itu bisa berarti dua. Pertama, mati itu habis, tidak lagi ada hubungannya dengan manusia. Kedua, mati itu ialah siklus hidup-mati-hidup. Hal itu divisualkannya dengan sulaman benang berwarna emas dan manik-manik berwarna senada yang terurai sambung-menyambung, lalu putus, muncul lagi dan akhirnya benar-benar putus. “Ibarat tali kehidupan, ada yang langsung mati, dan ada juga yang mati suri lalu hidup kembali,” jelas Ani, demikian ia disapa.
Selain itu, sulaman kain dan kain batik, instalasi karya seni rupanya juga dalam bentuk buku bernapas kematian, bebauan dari daun pandan dan suara gamelan dari KGPAA Mangkoenegoro IV. Karyanya itu didasarkan pada temuan awal risetnya, mengacu pada pandangan kedua yang mengenali karma, after life sekaligus menunjukkan mati berkaitan dengan hidup.
Proyek SKS yang diikuti Ani dan sejumlah individu lainnya merupakan program belajar seni kontemporer yang digagas Erudio Indonesia pada 2016. Dikepalai oleh perupa senior kelahiran Blitar, FX Harsono, Proyek SKS bertujuan mengeksplorasi sistem pendidikan seni kontemporer.
Selain Ani, ‘sekolah informal’ seni rupa kontemporer itu juga diikuti Gloria Pearl, Ika Vantiani, Mira Balya, MS Alwi, dan Saniyyah Blesshanti. Kurator Leonhard Bartolomeus mengatakan, keseluruhan karya dalam Pameran Titik Temu sangat personal. Pameran ini berlangsung hingga 19 Agustus 2018. (Zhi/M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved