Siasat Orang Gila Berebut Kuasa

FATHURROZAK
12/8/2018 05:40
Siasat Orang Gila Berebut Kuasa
(MI/PIUS ERLANGGA)

KOTAK-KOTAK suara bergembira ria menari diiringi musik rampak dan latar penuh warna. Tak lama, seorang anak pejabat politik yang tengah latihan menyanyi diminta bapaknya menjadi kader penerus. Meski si anak perempuan (Ina­yah Wahid) gemar menyanyi, sang Bapak (Marwoto) melarang hobi anaknya. Ia meminta agar Inayah masuk ke medan pertempuran politik, mengambil peluang dalam momentum tahun politik.

Di kubu lain, pejabat yang tengah main golf gusar menentukan siapa yang akan  mewa­ki­li­nya sebagai pemimpin. Beserta sang ajudan setia (Akbar), pejabat (Cak Lontong) seperti mendapat ilham saat seorang misterius (Bedu) yang nampak kurang waras ikut bermain golf.

Bagi Cak Lontong, dialah sosok yang sesuai untuk maju kontestasi menuju kursi kuasa. Ketimbang ajudan loyal yang rupanya juga punya hasrat maju sebagai calon penguasa. Di tengah simpang siur pembicaraan koalisi, lewat bawahan masing-masing, yang tidak berujung kesepakatan, membuat kedua kutub memutuskan untuk maju pemilihan calon penguasa sesuai nafsu masing-masing. Marwoto mengajukan dirinya, dan Cak Lontong mencalonkan Bedu, si sosok misterius setengah kurang waras sebagai jagoan.

Nalar kegilaan
Keberadaan para aktor lawas menjadi kekuatan lakon Brigade Orgil produksi Indonesia Kita, yang dipentaskan Jumat (10/8) malam di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Pertunjukkan ini digawangi Butet Kartaredjasa, Agus Noor, Djaduk Ferianto, dan Gandung Bondowoso sebagai tim kreatif.

Daya improvisasi yang mampu memperluas kemungkinan yang ada dari naskah garapan Agus Noor ini, sekaligus menampar kita dari sederet peristiwa politik belakangan yang ramai publik saksikan. Mulai transaksi mahar, pemilihan kader yang berada di ujung tenggat, atau kekacauan diksi elite parpol. Keriuhan suasana bangsa diinterpretasikan menjadi ‘Negeri Gilabeh’ yang kacau oleh para elite pejabatnya.

“Saya mohon jangan dikaitkan dengan Indonesia. Semua pejabat kita berjiwa negarawan. Kalau ada yang brengsek, biar di ‘Negeri Gilabeh’. Kalau ada yang gila kekuasaan, sampai nyewa billboard, itu cuma di ‘Negeri Gilabeh’. Itu fitnahnya,” sindir Butet dalam prolognya sesaat sebelum pentas.

Marwoto punya dimensinya sendiri untuk tampil sebagai aktor senior yang konsisten sejak mula ia hadir di atas panggung hingga titik akhir skenario. Dia seolah terlahir dengan DNA humor. Cak Lontong juga patut mendapat kreditnya, untuk tampil sebagai dirinya yang memang selalu menggelitik nalar kita. Seakan subtitle, suatu kewarasan dengan kegilaan.

Selain aktor, musik rapi arahan Djaduk juga menjadi kekuatan Brigade Orgil. Mengisi ruang panggung yang minim tata artistik sehingga penonton tak perlu lagi memedulikan unsur set. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya