Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEJAK belia Abiyasa sudah gemar membaca dan mendalami kitab suci serta gentur teteki (menjalani laku prihatin). Kebiasaannya yang tidak biasa bagi anak seusianya ini secara langsung terpengaruh oleh ayahnya, Resi Palasara.
Bapak-anak itu hidup dalam kesederhanaan duniawi di Pertapaan Ratawu yang berada di lereng Gunung Sapta Arga.
Ketika menginjak dewasa, Abiyasa berketetapan hati menjadi ‘ulama’. Setiap hari lakunya mendekatkan diri kepada Sang Maha Suci. Kiprah kemasyarakatannya, memberikan pepadhang (pencerahan) dan membimbing siapa saja yang membutuhkan ke jalan yang diridai-Nya.
Namun, perjalanannya tidak mulus. Abiyasa harus menjemput kodratnya menjadi raja di Astina. Artinya, ia terpaksa bersentuhan dengan kekuasaan yang notabene urusan nafsu. Ini bagian ujian yang mesti ia arungi dalam upaya menggapai derajatnya sebagai ‘orang suci’.
Durgandini memanggil
Alkisah, Dewi Durgandini masygul. Dua buah hatinya, dari pernihakannya yang kedua dengan Raja Astina Prabu Sentanu, meninggal dunia di usia muda. Kedua putranya itu, Citrangganda dan Wicitrawirya, tidak memiliki keturunan. Jadi, pupuslah ahli waris Sentanu.
Di tengah kemurungan, terbesit ingatannya kepada Abiyasa, anaknya dari pernikahannya dengan Palasara. Perkawinan mereka kandas karena tidak direstui ayah Durgandini, Raja Wiratha Prabu Basuparicara. Keduanya terpaksa berpisah dalam suasana pilu. Abiyasa yang masih kanak-kanak ikut bapaknya pulang ke Ratawu.
Menurut konstitusi negara, bila tidak ada keturunan raja, hanya ‘orang suci’ yang diizinkan menduduki singgasana. Berdasarkan apugeran itulah kemudian Durgandini mengutus nayaka praja tepercaya menjemput Abiyasa di Ratawu dan diminta segera menghadapnya. Durgandini mendengar kabar bahwa Abiyasa menjadi ‘orang suci’ di Ratawu.
Hanya berselang satu hari, Abiyasa sowan ibundanya di istana Astina. Pertemuannya berlangsung kaku penuh haru. Kenapa demikian, karena sudah lama antara ibu dan anak itu tidak bersua dan tidak saling memberi kabar. Mata ibu dan anaknya itu pun tampak berkaca-kaca.
Durgandini pangling melihat putranya yang sudah dewasa dengan jenggot menjuntai. Kulitnya yang hitam dengan sorot mata yang tajam, tidak jauh berbeda dengan bapaknya. Sebaliknya, Abiyasa semula sempat ragu bahwa permaisuri mendiang Prabu Sentanu itu ibu kandungnya.
Setelah sejenak melepas rindu, Durgandini mengatakan bahwa singgasana raja Astina sedang komplang (kosong). Tidak ada lagi trah atau ahli waris Sentanu untuk meneruskan kepemimpinan negara. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan keberlangsungan pemerintahan Astina, Durgandini memerintahkan Abiyasa menduduki takhta kerajaan.
Abiyasa, dengan segala hormat matur bahwa dirinya tidak siap menjalankan amanah itu. Akan tetapi, Durgandini kukuh, hanya Abiyasa satu-satunya pilihan yang bisa menyelamatkan kehormatan takhta Astina. Negara tidak boleh jatuh ke genggaman pihak-pihak yang berisiko.
Setelah terjadi perbincangan cukup ‘alot’, demi kebahagiaan ibunda, Abiyasa bersedia menjadi raja. Namun ia minta syarat, sewaktu-waktu diperkenankan turun takhta manakala sudah ada keturunan yang bisa menggantikannya. Durgandini menerima persyaratan tersebut.
Prabu Kresnadwipayana
Pada hari yang telah ditetapkan, Abiyasa dinobatkan sebagai penguasa Astina bergelar Prabu Kresnadwipayana. Atas perintah ibunda pula, untuk sempurnanya syarat sebagai raja, Abiyasa menikahi janda kedua saudaranya lain ayah (Citranggada dan Wicitrawirya), yakni Dewi Ambika dan Dewi Ambalika. Selain itu, sang raja juga menikahi dayang Datri.
Ketika itu Abiyasa memang tidak memiliki bekal ilmu pemerintahan dan tata negara. Namun, dalam waktu singkat ia mampu menguasainya sehingga tidak nak-nuk (canggung dan bingung) memegang kendali negara. Revolusi mental-spiritual menjadi salah satu program prioritasnya demi mengakselerasi bangsa Astina yang berkualitas, unggul, dan kompetitif.
Di bawah kepemimpinannya, meski belum makmur benar, rakyat hidup rukun, ayem, dan tenteram. Nayaka praja yang korupsi berkurang drastis, kejahatan terkikis. Pada sisi lain, banyak negara lain yang senang menjalin hubungan bilateral dengan komitmen saling menghormati dan menguntungkan. Singkatnya, Astina menjadi negara yang kuncara.
Waktu terus berjalan. Tidak terasa tiga putra Kresnadwipayana dari ketiga istrinya sudah menginjak dewasa. Mereka adalah Drestarastra, Pandu dan Yama Widura. Kresnadwipayana merasa sudah saatnya mengakhiri ‘pengembaraannya’ dalam dunia kekuasaan yang membuatnya pengap.
Pada suatu hari yang baik, Kresnadwipayana menyatakan lengser keprabon (meletakkan jabatan raja) dalam sebuah pasewakan agung. Ia menyerahkan kekuasaan kepada Drestarastra. Namun, putra sulungnya itu menolak karena alasan tidak bisa melihat. Kondisi ini akan mengganggu laju kepemimpinannya bila menjadi raja. Ia memohon kepada ayahanda agar memberikan takhta kepada adiknya, Pandu, yang pintar dan sakti serta jangkep (lengkap) panca inderanya.
Setelah yakin bahwa Drestarastra benar-benar legawa tidak menjadi raja, Kresnadwipayana kemudian melantik Pandu menjadi raja bergelar Prabu Pandudewanata. Estafet kepemimpinan berjalan mulus tanpa onak. Pascalengser, Kresnadwipayana melucuti diri dari segala asesori kebesarannya sebagai raja dan fasilitas yang melekat. Setelah ‘bersih’, ia pamit kepada keluarga, sentana dalem (kerabat) serta nayaka praja dan rakyat Astina, untuk kembali ke Sapta Arga.
Abiyasa menolak perjalanannya ke tanah leluhurnya dilepas dan diantar dengan seremoni kerajaan. Ia memilih menjadi dirinya sendiri sebagai rakyat biasa. Pun ia tidak perlu membawa bekal pangan berlebih.
Kemuliaan hidup
Abiyasa pulang dan tinggal di Ratawu untuk melanjutkan nawaitu hidupnya menjadi ‘ulama’. Ia memahami benar bahwa ‘jati dirinya’ memang di sana, bukan di jagat politik praktis dan kekuasaan pragmatis yang hukum alamnya penuh dengan penggembalaan nafsu duniawi.
Kekuasaan yang sempat mampir dalam genggamannya sejatinya memang bukan karena keinginan atau kehendaknya. Itu semata kenyataan yang mesti ia jalani dan dirasakan begitu berat. Maka, tidak aneh bila Abiyasa begitu mudah dan enteng melepas kekuasaan, yang bagi sebagian besar titah di seluruh pelosok marcapada merupakan candu.
Hikmah yang bisa digarisbawahi dari kisah ini adalah bahwa sebagai ‘ulama’, Abiyasa merasa bahwa kekuasaan duniawi bukan habitatnya. Kekuasaan adalah jagat kotor yang berpotensi menjerumuskan. Dunianya adalah dakwah memayu hayuning bawana, membangun peradaban dunia yang bermuara pada kemuliaan dan keluhuran hidup. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved