Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ALIRAN listrik terputus disusul retaknya kaca-kaca rumah di Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB), tak lama setelah suara gemuruh itu datang, Minggu (29/7). Ratusan orang ketakutan dan berlarian ke tanah lapang. Gempa bumi 6,4 skala Richter (SR) yang mengguncang Nusa Tenggara Barat pada Minggu (29/7) dan 7,0 SR Ahad (5/8), meninggalkan duka mendalam. Gempa yang berpusat di lereng sebelah utara timur laut Gunung Rinjani itu terjadi di kedalaman 24 km dan meluluhlantakkan wilayah Lombok Timur serta Utara.
Sedikitnya 386 orang meninggal dunia hingga Jumat (10/8), ratusan orang terluka, ribuan bangunan runtuh, dan puluhan ribu jiwa harus mengungsi. Sebagian besar korban meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan permanen. Keberadaan banyaknya bangunan permanen di Lombok itu membuat miris karena secara tektonik, Lombok ialah kawasan seismik aktif. Lombok berpotensi diguncang gempa karena terletak di antara dua pembangkit gempa dari selatan dan utara.
Dari selatan terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Flores back arc thrusting). Bangsa ini pun kembali belajar dari musibah gempa ini. Indonesia yang berada di jalur ring of fire tidak akan terhenti dalam sekali dua kali peristiwa alam seperti gempa. Kita harus hidup berdampingan dengan hal tersebut antara lain dengan membangun rumah yang bersahabat dengan alam.
“Yang perlu dipelajari ialah pemahaman substansi. Melestarikan nilai. Tradisi itu, kan, piranti untuk menjaga nilai,” ujar arsitek sekaligus pendiri Rumah Intaran Bali, Gede Kresna, kepada Media Indonesia, pekan lalu. Gede mengambil contoh, rumah adat Suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah, yang masih menggunakan struktur bangunan lama. Atap jerami dan kayu yang menopang bangunan rumah menyerupai balai itu, dianggap mampu mengakomodasi peristiwa alam seperti gempa.
Seperti rumah-rumah tradisional lainnya, rumah adat Suku Sasak menggunakan pola tiang yang tidak ditanam langsung ke tanah. Namun, ada semacam fondasi umpak, yang menengahi tiang dengan tanah. Ini berkaitan dengan teknik membangun. “Bangunan rumah tradisional di Bali dan Lombok pada prinsip dasarnya sama. Menggunakan struktur kayu di dalam, di luarnya dibuat dengan dinding yang terpisah. Tiang tidak menancap di tanah, dilantasi dengan sendi (umpak) batu, yang berada di antara tiang dan tanah,” jelasnya saat dihubungi lewat telepon.
Kelonggaran bergerak
Tak hanya di Lombok, Gede menjabarkan, struktur bangunan rumah tradisional Bali yang menggunakan struktur beberapa tiang penyangga Bale. Suatu struktur bangunan yang fleksibel dan tidak terikat mati dengan tanah. “Bale Jajar, saka (tiang)-nya enam buah, Bale Meten 8 buah, dan Bale Jait tiangnya 12 buah. Ada juga yang tiangnya 9, 13, dan 16. Tergantung daerah dan peruntukannya. Semuanya merupakan struktur yang sangat fleksibel jika ada gerakan tanah karena bagian bawah tiangnya ditopang umpak, tidak terikat mati dengan tanah,” bebernya.
Selain keberadaan umpak, imbuhnya, sambungan-sambungan kayunya juga ‘hidup’. Setiap pertemuan disumbat dengan lait yang masih bisa bergerak sehingga struktur utama tidak patah. Jika ada gerakan tanah yang lebih besar, lait akan jatuh dan setiap pertemuan kayu punya kelonggaran untuk bergerak.
“Umumnya dinding rumah tradisional adalah tanah polpolan atau bata mentah. Yang menarik adalah semua pondasi rumah-rumah tanah di Bali (dan juga di tempat lain di Indonesia) diangkat dengan ketinggian tertentu. Dinding di bagian luar juga dibuat miring membesar ke atas agar saat terjadi guncangan besar yang merubuhkan bangunan, dinding-dinding ini jatuh ke luar bangunan, bukan ke dalam bangunan.”
Menurut Gede, rumah tradisional menunjukkan puncak pengetahuan arsitektur pada masanya. Melewati rentang masa yang panjang sehingga menemui kejeniusan lokal, yakni melakukan banyak kesalahan, tetapi juga melakukan banyak perbaikan setelahnya.
Saat mempelajari ketradisionalan arsitektur leluhur, Gede menyarankan jangan berhenti di kenampakan karena substansi dan yang tak terlihat belumlah terungkap.
“Setiap kali yang terjadi merupakan ujian karya. Karya kita diuji. Oleh karena itu, konsepsi jenius dunia barat dan timur berbeda. Kejeniusan lokal menurut kita, ialah banyak melakukan kesalahan. Namun, banyak melakukan perbaikan setelahnya.” (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved