Mengukur Kebahagiaan Diri

(Zuq/M-2)
12/8/2018 04:20
Mengukur Kebahagiaan Diri
(MI/BARRY FATAHILLAH)

MUNGKINKAH berbenah rumah hanya dilakukan sekali seumur hidup? Pertanyaan itu mungkin bagi sebagian besar dijawab dengan ‘mustahil itu bisa dilakukan’. Namun, bagaimana jika hal itu bisa benar-benar dilakukan? Rasa penasaran itulah yang menghinggapi salah satu perempuan, yang kemudian menjadi salah satu anggota Komunitas Konmari Indonesia.

“Oh, ternyata bisa ya, aktivitas berbenah itu dilakukan sekali seumur hidup, bagaimana caranya? Itu yang membuat saya tertarik,” ujar Tiara Astari, pada Jumat (10/8). Metode Konmari memang pada awalnya hanya tertuju pada kebendaan, tapi pada taraf lebih lanjut bisa dipakai dalam aktivitas, sikap, dan pola pikir. Tiara mengaku, telah merasakan manfaat dari metode Konmari itu.

Dari yang semula hobi belanja, ia mengaku, menjadi lebih selektif.

“Kalau manfaat Konmari secara keseluruhan itu, dia mengubah pola pikir saya. Jadi, yang sebelumnya, saya termasuk boros juga beli barang. Aktivitas sortir barang itu juga cukup sering, jadi kayak rutinitas. Untuk beli dan membereskan itu saya anggap rutinitas. Ternyata, menurut Konmari, itu bisa dibikin menjadi aktivitas satu kali seumur hidup,” terang Tiara, yang juga menjadi fasilitator kelas pelatihan Komunitas Konmari Indonesia, untuk kelas 1 level 2.

Setelah bergabung dengan Komunitas Konmari Indonesia, Tiara juga menyadari bahwa KonMari mendewasakan orang-orang yang berbenah. Jadi, rumah rapi itu hanya efek samping. Dia tahu apa yang dibutuhkan dan tidak,  apa yang harus dibeli dan tidak, dan termasuk barang yang harus disimpan atau yang harus disingkirkan.

“Jadi, orang yang menguasai Konmari ini, dia akan lebih dewasa, dalam arti dia kenal tujuan hidupnya,” tegas perempuan berusia 31 tahun itu.

Menurutnya, dengan kemampuan Konmari, orang bisa menilai sebe­rapa senang dan bahagia sebuah barang bagi diri. Ia akan bisa lebih memilih aktivitas yang benar-benar penting dalam sehari-hari.

“Kalau orang-orang yang bisa mendapat esensi dari Konmari,” tandasnya.

Yang diunggulkan oleh metode Konmari ialah mengubah hidup. Caranya, dengan menilai barang apa yang membuat hidup seseorang menjadi lebih hidup. Anggota komunitas KKI lain, Te­guh Suwartono, juga merasakan perubahan besar dalam hidup. Ia menjadi lebih menghargai dan sadar dengan barang yang dimilikinya. Sebelumnya, ia gampang untuk belanja barang seperti pakaian, yang hampir selalu setiap bulan dibeli.

“Yang aku lebih menghargai barang-barangku, lebih sadar dengan apa yang aku miliki,” terang Teguh.

Pria berusia 36 tahun itu, juga mengaku mendapat lebih banyak pengayaan karakter dan wawasan dalam komunitas itu. Ia mendapat banyak pembelajaran, seperti bagaimana ia harus ramah terhadap alam dengan mengurangi pemakaian plastik dan kapas.
“Pengayaannya banyak, enggak cuma Konmari. Bagaimana kita menghargai alam dengan mengurangi konsumsi kapas,” tegas Teguh. (Zuq/M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya