Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RUMAH mungil sekali pun dapat terasa lapang dan nyaman. Begitulah yang langsung menyapa ketika berkunjung ke rumah pasangan Aang Hudaya dan Khoirun Nikmah di Kompleks BPN di Tajurhalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Seluas 36 meter persegi, rumah mereka terasa nyaman bukan hanya barang-barang yang minimalis melainkan juga penataan yang superrapi, dari teras hingga dapur.
Di rak, buku-buku tertata bak di toko. Sementara itu, di kontainer plastik, pakaian tertata bak untuk katalog pemotretan. Jika Anda akrab dengan video maupun unggahan foto tentang cara melipat baju ala konsultan kerapian asal Jepang, Marie Kondo (Konmari), maka suasana rumah Aang ibarat perwujudannya. Nyatanya, Aang dan istri memang praktisi metode Konmari, sekaligus pendiri Komunitas Konmari Indonesia (KKI).
“Kami memang hobi berbenah dan sudah mencoba beberapa metode berbenah. Lalu, kami mengenal metode Konmari dari internet pada akhir 2016 dan puas,” tutur Aang kepada Media Indonesia di rumahnya, pada Rabu (8/8). Metode Konmari merupakan metode berberes-beres yang diciptakan Marie Kondo. Ternyata, metode itu begitu cepat menyebar dan banyak digemari masyarakat di seluruh dunia. Melihat banyak masyarakat Indonesia yang juga menggemari metode itu, Aang dan istri mendirikan Komunitas Konmari Indonesia (KKI).
Aang mengaku, telah mempelajari dari metode berbenah yang diperuntukkan bagi pabrik, ruang kantor, hingga berbenah secara minimalis ekstrem. Hatinya jatuh pada metode Konmari karena merasa kebutuhan terpenuhi dan ada kepuasan yang lebih dari sekadar berberas dan menyingkirkan barang.
“Kalau Konmari itu lebih ke feel (perasaan) dan personal. Jadi, cocok untuk semua tipe orang, bagaimana pun dia karena diawal ditentukan, kita maunya bagaimana sih untuk hidup. Jadi, berbenah itu, ya, menata diri,” lanjut ibu satu anak ini.
Jika metode berbenah lain menyamaratakan barang kenangan dan barang biasa, metode Konmari sebaliknya. Barang kenangan diizinkan disimpan ataupun barang bernilai. Itulah yang menjadikan Metode Konmari dipilih dan dilakukan Aang dan Nikmah. “Sebelumnya, kita udah pernah coba (metode lain). Ini udah final,” terang Khoirun.
Tiga prinsip
Metode Konmari bertumpu pada tiga prinsip. Pertama, spark joy atau barang yang disimpan hanya yang disukai. Sebab itu pula, barang tersebut dianggap barang yang membuat bahagia. Kedua, barang masih bisa digunakan. Ketiga, titik pas atau sesuai kebutuhan. Tiga prinsip tersebut menafikan jumlah item yang bisa disimpan karena setiap orang mempunyai perbedaan dalam menerapkan ketiga prinsip.
“Dia gak ada batasan untuk kita menyimpan berapa potong karena setiap orang mempunyai kebutuhan beda-beda,” tambah Aang. Pria berusia 28 tahun itu menjelaskan, proses pemilahan barang pun sangat mengandalkan perasaan atau hubungan personal antara pemilik dengan barang yang dimiliki. Awalnya, semua barang harus digelar terlebih dahulu, barulah satu-persatu barang dipegang untuk menimbang apakah barang itu termasuk spark joy atau tidak. “Kalau Konmari itu semua harus ditaruh di satu titik lalu kita sentuh satu-satu. Jadi, kita bisa tahu, ini spark joy enggak? Harapannya, kita hanya menyimpan barang-barang yang positif, tidak menimbulkan beban berantakan lagi,” tegas Khoirun.
Selain itu, metode berbenah Konmari juga bermanfaat untuk membuat hidup lebih fokus sebab metode ini akan membuat para praktisinya tahu yang menjadi fokus dan minat, berdasarkan barang-barang yang bernilai spark joy tadi. KKI berdiri pada Oktober 2017, hingga kini komunitas itu telah berhasil melibatkan 3.000 orang yang tertarik dengan Konmari. Aang dan Nikmah mengawali langkah dengan membuat grup di media sosial. Dari grup itu lalu berkembang menjadi kelas, dengan jumlah peserta hingga lebih dari 1.800 orang.
Ternyata, kuantitas tidak berbanding kualitas. Sedikit demi sedikit, anggota kelas berguguran. Akhirnya, mereka mengenakan uang komitmen sebesar Rp100 ribu, untuk 3 level, selama satu tahun. Gelombang pertama tahun ini, diikuti 160 peserta. Jumlah itu naik dua kali lipat pada gelombang berikutnya, yakni 380 peserta.
Selama tiga bulan, 12 kali pertemuan, peserta diberikan materi pada awal pekan. Setelah itu, peserta diberikan penugasan. Akhir pekan, peserta mengunggah gambar hasil kerja mereka. Level kedua, selama enam bulan, peserta diarahkan untuk materi menata diri, untuk membangun kebiasaan positif. Sebab meski mereka telah berhasil menerapkan metode Konmari, mereka yang masih punya kebiasaan negatif dapat kembali ke sebelumnya. Level kedua memakan enam bulan.
Sementara, level ketiga bertema menata negeri. Level itu didesain untuk mempersiapkan anggota komunitas agar bisa berbagi dengan orang lain. Sesuai dengan semangat KKI, yakni menata diri menata negeri. “Marie Kondo kan awalnya kan pada barang-barang, tapi setelah spark joy kita pakai pada kebendaan, nanti itu, spark joy dipakai dalam aktivitas, sikap, dan pola pikir kita. Jadi, lebih luwes,” pungkas Khoirun. (M-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved