Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
RANAH kepurbakalaan dan arkeologi punya stereotipe tua dan kuno. Namun, tidak bagi Garbi Cipta Perdana, mahasiswa jurusan arkeologi Universitas Indonesia, yang memberi gaya muda lewat kontribusinya dalam ‘hari raya’ para purbakalawan. Ia menjadi jawara desain logo 105 Tahun Purbakala yang diselenggarakan Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), kini lebih dikenal Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia Pusat.
Ia menyebut kontribusinya masih kecil. Namun, tak menutup kemungkinan ini menjadi pintu berkontribusi lebih jauh di dunia arkeologi. Saat ini, ia tengah disibukkan dengan hajatan Pertemuan Ilmiah Arkeologi Mahasiswa se-Indonesia. Muda berkesempatan mewawancarainya, baru-baru ini. Simak ya!
Ceritakan dong awalnya kamu ikut lomba mendesain logo HUT 105 Tahun Purbakala?
Untuk proses pembuatannya, sebetulnya semua serbamendadak. Sebenarnya saya sudah mengetahui perihal lomba ini jauh-jauh hari. Namun, masih malas dan minder, baru setelah ada informasi lebih lanjut, saya mulai mengerjakannya.
Saya bangga dapat berpartisipasi dalam acara yang seperti lebarannya para purbakalawan. Tetapi sebetulnya, malu karena belum berkontribusi nyata, mungkin ini awal dari kerja-kerja kepurbakalaan yang masih panjang.
Ranah kepurbakalaan masih asing buat anak muda, bagaimana pandangan kamu?
Kebanyakan teman-teman saya tidak mengetahui apa itu arkeologi. Malah saat saya diterima kuliah di jurusan arkeologi kebanyakan mereka bertanya bagaimana kerjanya, menandakan ketidaktahuan.
Saya memaklumi, bahkan sampai saat ini ketika bertemu teman lama, atau berkumpul dengan saudara jauh, juga orang baru, harus terus menjelaskan.
Kebanyakan yang bertanya berkata, kenapa masuk arkeologi?
Saya pun akan berkelakar, supaya bisa menjelaskan kepada orang-orang tentang arkeologi, karena saking seringnya ditanya seperti itu. Ada pula yang telah mengetahui tentang dunia arkeologi, kebanyakan dari film-film Hollywood, yang memuat secuil kisahnya. Namun, itu juga yang menjadikan bidang ini mengasyikkan, saya seperti seorang ‘nabi’ yang memberikan pencerahan. Tetapi, sepakat sih, lembaga arkeologi perlu mendapatkan sentuhan tangan-tangan muda agar dapat menyesuaikan diri karena zaman terus berkembang.
Dari mana inspirasi logo yang kamu ciptakan?
Terinspirasi dari Candi Borobudur, warisan budaya dunia Indonesia, selebihnya sih hanya coba-coba saja, disesuaikan dengan keinginan.
Lalu, menurutmu, apa pentingnya arkeologi buat anak muda?
Menurut saya, keterkaitan anak muda dan minatnya pada arkeologi masih minim. Mungkin itulah ciri-ciri masyarakat negara berkembang, lebih terkesima dan mengagung-agungkan sains dan teknologi sehingga mengabaikan bidang sosial, budaya, dan humaniora. Itu terlihat dari keketatan penerimaan mahasiswa. Padahal di bidang budaya khususnya, dengan arkeologi, kita justru dapat mengetahui teknologi masyarakat terdahulu.
Apa yang paling esensial dalam arkeologi?
Sejauh yang saya pelajari dan maknai, hal yang penting dari arkeologi ialah mengetahui diri sendiri yang terbentuk dari diri orang-orang di masa lalu, atau lebih mudahnya, mengetahui manusia. Dengan begitu, fenomena yang berkembang akhir-akhir ini dapat kita mengerti dan ketahui jalan keluarnya. Karena sejarah biasanya terulang, walau dengan tokoh, tempat, dan waktu berbeda. Arkeologi adalah ilmu yang sangat luas cakupannya. Contohnya, jika ada yang bercita-cita menjadi dokter, namun terjerumus ke arkeologi, ada bio-arkeologi.
Bagaimana upaya kamu berkontribusi sebagai mahasiswa arkeologi?
Mencoba memasyarakatkan arkeologi dengan mengadakan acara Pertemuan Ilmiah Arkeologi Mahasiswa se-Indonesia ke-18. Sebagai ketua acaranya, saya berupaya memperbesar keterlibatan publik. Selain itu pada gelaran ke-18 ini, yang menjadi tema bahasan ialah Pemanfaatan cagar budaya bagi kepentingan bangsa yang dipilih karena cagar budaya menyimpan banyak hal bermanfaat dan menguntungkan jika dikelola baik dan benar.
Rencana ke depan, berkarier di bidang arkeologi?
Saya sebenarnya seorang yang tidak memiliki cita-cita atau rencana ke depannya, tapi jika ditanya apakah akan berkarier dalam bidang arkeologi, mungkin iya, karena itulah kemungkinan paling mungkin saya lakukan di masa depan.
Bagaimana proses pembelajaran selama di lapangan?
Sebagai mahasiswa arkeologi tentunya saya wajib mengunjungi situs-situs arkeologi. Itu disebabkan pengetahuan di kelas tidak akan lengkap tanpa kunjungan langsung. Untuk riset, sebenarnya sama saja, ada tahapan pengumpulan, pengolahan data, analisis atau eksplanasi, dan pelaporan atau publikasi. Hanya saja, dalam pengumpulan data ada teknik khas yaitu, ekskavasi, melakukan penggalian tanah yang dilakukan sistematik. Saya sendiri pernah mengikuti dua kali kegiatan ekskavasi, pertama kegiatannya di kampus, sebagai latihan, yang kedua, di Muaro Jambi, di sana menampakan dinding bata Situs Candi Kedaton. Kegiatannya dua minggu dan merupakan Praktikum Arkeologi Lapangan yang wajib diikuti.
Apa sih, kaidah selama proses di lapangan?
Tentunya tidak diperbolehkan mencuri temuan, tidak boleh juga memperjualbelikan temuan yang bernilai ekonomis tinggi. Tidak boleh juga merusak benda dan situs tanpa alasan kuat.
Peneliti diperbolehkan ‘merusak’ karena teknik ekskavasi merupakan kegiatan merusak, sehingga harus dilakukan sistematis juga diimbangi pendokumentasian yang baik dan benar.
Beberapa situs purbakala juga menjadi objek wisata, apa sih, yang perlu diperhatikan pelancong?
Itu bagus dan akan menghasilkan pendapatan ekonomis dari tiket dan transaksi ekonomi dengan masyarakat sekitar. Yang perlu diperhatikan ialah kesiapan masyarakat menjadi pengelola, karena jika masyarakat belum mengerti dan siap pada perubahan, akan ada gesekan kepentingan di sana. Sekali lagi, harus melibatkan masyarakat sekitar situs. Itu menjadi keharusan! Orang awam juga tentunya dapat terlibat dalam penelitian arkeologi, malah kebanyakan situs-situs ditemukan oleh orang awam yang merupakan masyarakat asli. Dalam beberapa kegiatan ekskavasi, orang awam pun dilibatkan, tentunya dalam pengawasan arkeolog dan diberi pembekalan. (M-1)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved