Menebar Manfaat Secara Struktural, Lebih Berdampak

FERDIAN ANANDA MAJNI
05/8/2018 04:20
Menebar Manfaat Secara Struktural, Lebih Berdampak
(DOK PRIBADI)

SOSOK Muhammad Zainul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) keluar dari Partai Demokrat, berlanjut pada spekulasi sosoknya masuk daftar calon wakil presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019. Dibalik semua kehebohan itu, ikhtiarnya selama memimpin Nusa Tenggara Barat (NTB) dua periode pun patut dikupas, kiprahnya identik dengan ekonomi syariah dan wisata halal. Pekan lalu, ia hadir dalam Konferensi Ulama Internasional di Hubbul Wathan Islamic Centre, Mataram. Berpeci hitam, ia fasih berbicara dengan bahasa Arab di depan delegasi dari 21 negara Arab itu. Media Indonesia menjumpainya di sela kegiatan itu, Sabtu (29/7), untuk mengupas dukungan pun komentar nyinyir yang riuh mendatanginya. Berikut kutipan wawancaranya.

Bagaimana perasaan Anda jelang masa-masa terakhir sebagai gubernur?
Penuh kesyukuran karena mudah-mudahan bisa mengakhiri dengan khusnul khatimah, akhir yang baik. Insya Allah tidak ada masalah terkait dengan kasus hukum, kemudian juga pencapaian-pencapaian tidak hanya indah atau bagus secara statistikal, tetapi juga dirasakan masyarakat, termasuk soal infrastruktur.

Ada program yang belum tuntas dan harus dilanjutkan?
Yang perlu diintensifkan adalah pembangunan sosial atau manusia, khususnya indeks kesehatan. Walaupun NTB mendapatkan predikat provinsi terbaik untuk pencapaian Milenium Development Goals, tetapi faktual kita masih punya agenda terkait dengan peningkatan kualitas kesehatan. Ini inline dengan SDGs (Sustainable Development Goals) dan tentunya menuntaskan program peningkatan potensi wilayah. Ada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Global Hub di Lombok Utara, dan Samota di Pulau Sumbawa. Nah ini tiga kawasan unggulan yang jika ketiganya tuntas maksimal, akan bisa mengontribusikan tambahan pertumbuhan ekonomi 1% sampai 1,5%, kemarin kan, tumbuh 7,1% tanpa tambang.

Dua periode menjadi pemimpin di NTB, kesan Anda?
Memimpin itu mengerakkan dan memanusiakan. Jadi, bagaimana ketika amanah kepemimpinan itu ada, kita bisa mengajak orang bersama-sama bergerak satu cita-cita. Memanusiakan, dalam arti interaksi saya selama 10 tahun dengan masyarakat menunjukkan yang mereka butuhkan tidak hanya sekadar ekonomi membaik, kesehatan bisa ditingkatkan, tetapi juga bagaimana mereka merasa pemerintah ini mengorangkan mereka. Mereka dihargai, suara mereka didengar dan dirangkul. Hal seperti ini saya rasakan sangat berkesan.

Konsep kepemimpinan yang Anda terapkan sehingga sukses membangun NTB?
Kalau kesuksesan relatif, tetapi intinya yang pertama, membangun politik ikhlas. Jadi, ada hal-hal yang merupakan fakta sosial, kita coba transformasikan menjadi moda sosial seperti masalah keberagaman. Jadi, yuk, keislaman kita ini diwujudkan dalam bentuk karya nyata, kerja-kerja positif dan konstruktif agar terbangun kolektivitas. Sangat penting membangun kepercayaan secara politik, dulu NTB ini rakyatnya atau masyarakat sangat tidak percaya diri sehingga dipelesetkan ‘nanti Tuhan bantu’ atau semacamnya. Sekarang itu kita bangun kepercayaan diri ketika merasa mampu, lalu prestasi itu lahir secara alamiah. Pencapaianpencapaian itu lahir sebagai buah kita percaya kita bisa. Alhamdulillah itu terasa di kalangan anak-anak muda kita.

Apakah Anda berhasil menuntaskan janji kampanye?
Ada beberapa indikator Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang belum tercapai, itu bagian yang coba kami tuntaskan, walaupun mungkin sampai akhir, mungkin ada satu atau dua indikator yang belum tercapai. Di antaranya, usia harapan hidup masih lebih rendah daripada apa yang ditargetkan karena meningkatkannya secara signifi kan itu butuh effort lebih tinggi lagi daripada sekarang. Mudah-mudahan ke depan bisa ditingkatkan, Insya Allah. Saya pikir jika dilihat dari dokumen perencanaan kita, ketiganya sudah masuk sehingga pemimpin siapa pun itu, terikat dengan pembangunan jangka panjang.

Bidang pembangunan yang menurut Anda paling menantang?
Jika pendapatan dan pendidikan relatif, karena ada tiga indikator human development index, yaitu pendapatan, pendidikan, dan kesehatan. Yang paling menantang, kesehatan, karena tidak hanya bergantung pada sumber daya kita, uang atau program, tetapi terkait cara hidup, aspek kultural, bagaimana masyarakat bisa meletakkan kesehatan sebagai salah satu prioritas. Itu sangat kompleks dan menantang. Kematian ibu dan anak, kita dapat terus turunkan, bahkan sangat impresif. Tetapi, masih harus diturunkan lagi. Jika berbicara Indonesia emas 2045, ya, bahan bakunya anak yang lahir sekarang. Usia 27 itu sangat energik dan dinamis. Nah, bagaimana kita melahirkan anak-anak yang nanti pada usia 27 akan jadi sumber daya unggul mulai sekarang.

Anda pernah diganjar sebagai Kepala Daerah Penggerak Ekonomi Syariah, bagaimana strategi implementasnya di lingkup nasional?
Pertama, satukan visi, ekonomi syariah bukan berarti untungnya atau kebaikannya hanya untuk umat Islam, melainkan berusaha untuk menghadirkan pemerataan atau lebih berkeadilan. Sisi eksploitasi bisa dikurangi, untung disebarkan, juga ketika rugi, ditanggung bersama. Kemudian, spekulasi dihilangkan. Walaupun sumber dari nilai-nilainya Islam, tetapi sesuai pemanfaatannya, bisa dirasakan semua. Kedua, memperbanyak institusi, karena tidak ada artinya kita bicara ekonomi syariah punya keunggulan, tetapi institusi layanan tidak ada. Di NTB, Bank NTB akan buka unit syariah.

NTB menjadi salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi, apa strategi yang Anda terapkan?
Pertama, menentukan prioritas, penting betul kita tidak bisa mengerjakan semua dalam suatu waktu, ada tahapannya. Prioritas kami, pertanian dalam makna luas dan pariwisata. Jika dulu pertanian produktif ditingkatkan, tahap berikutnya, membangun industri-industri berbasis komunitas. Lalu, pariwisata kita kembangkan terus. Ketika masyarakat sudah punya pemahaman bahwa dua hal ini penting, mereka akan bekerja bersama sehingga dengan daya kolektif, melahirkan pertumbuhan ekonomi.

Selama dua periode menjabat gubernur, adakah hal yang belum sempat dilaksanakan?
Jalan utama atau jalan by pass dari pelabuhan Lembar Lombok Barat menuju pelabuhan Kayangan Kabupaten Lombok Timur, jika bisa ditarik kebelakang, saya berharap bisa mewujudkannya.

Apa rencana Anda setelah tidak menjabat gubernur?
Sebelum masuk pemerintah, saya bekerja di ranah kultural, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan. Kemudian 2004, masuk DPR dan sekarang, sekitar 14 tahun saya berkiprah dalam sistem pemerintahan, legislatif dan eksekutif. Setelah ini, saya banyak pilihan, bisa ke kultural atau tetap struktural. Ke mananya, persisnya hanya Allah yang tahu.

Kecenderungannya pilihan Anda?
Saya masih ingin berkiprah membangun Indonesia melalui ranah struktural, masuk dalam sistem pemerintahan karena saya merasa, berada di ranah kebijakan itu dampaknya besar. Jadi, satu formulasi kebijakan bisa menghasilkan rentetan kebaikan bagi masyarakat.

Alasan mundur dari De mo krat?
Alasan pribadi, ngobrol dengan orangtua, dari guru-guru saya, dan diskusi dengan sahabat, maka sudah, saya putuskan mundur.

Setelah pengajuan mundur, apakah Anda sudah berkomunikasi dengan pendiri Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono?
Belum ada.

Disebut-sebut sebagai salah satu calon cawapres Jokowi, apa sikap Anda?
Itu bisa dijawab pada saatnya. Menurut saya, tidak ada orang yang menolak satu ruang pengabdian yang memang memiliki nilai besar untuk Indonesia. Apakah sebagai kepala daerah? Jika dia merasa bisa berkontribusi, saya pikir semua anak bangsa harus memenuhi panggilan itu. Di mana pun itu, dalam jabatan apapun itu.

Bagaimana jika diminta menjadi timses Jokowi?
Sekali lagi itu bisa dijawab ketika ada permintaan, kan, belum ada. Tetapi, ketika saya mendukung Joko Widodo untuk bisa meneruskan pada periode kedua, semua  konsekuensi itu harus diupayakan. Kan, tidak mungkin seseorang mendukung, lalu diam. Kan, kita harus bekerja untuk meyakinkan masyarakat, kinerja presiden terus-menerus mengarah pada kebaikan, pembangunan infrastruktur maupun yang lain terus berjalan. Intinya, apa yang akan saya lakukan berdasarkan yang saya yakini, beliau pemimpin yang pantas melanjutkan
kepemimpinan di periode kedua.

Anda pernah berada di kubu Prabowo, pasti sebelumnya punya kritik terhadap Jokowi, apa saja?
Saya tidak berani menilai terlalu detail seorang pemimpin, setiap manusia ada kecenderungan, style, kelebihan atau kekurangan, tetapi Indonesia sangat heterogen, menuntut pemimpin, harus mampu menyapa komponen masyarakat dengan bahasa beragam dan memenuhi kebutuhan sesuai prioritas.

Anda juga dekat dengan para ulama, adakah upaya mengajak mereka untuk mendukung Jokowi?
Belum ada pembicaraan apa pun terkait dengan itu, tetapi komunikasi dalam konteks saya memilih mendukung Jokowi sudah. Tetapi, mengajak beliau-beliau itu, belum ada sama sekali.

Bagaimana dengan alumni Al-Azhar apakah Anda mengajak mereka?
Tidak, ini pribadi, kami tidak berpolitik, tidak berpihak secara institusional.

Saat ini ada pergerakan pembentukan tim pemenang TGB di daerah, apa tujuannya?
Saya mendengar itu dan dikirim WA oleh penggagasnya. Saya dikirim gambar ketika ada peresmian di Aceh, di Medan dan katanya akan ada di beberapa daerah lainnya. Saya doakan, berkhusnuzon saja, Insya Allah mudah-mudahan baik. Saya kira baik, karena bagian  dari ekspresi, mereka punya visi dan ingin ikut bersama membangun Indonesia. Saya pikir itu baik dan positif. (M-1)

 

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya