P Kamyaka

Ono Sarwono
05/8/2018 03:30
P Kamyaka
(Dok MI)

BERULANG Kali terungkapnya penyelewengan lembaga pemasyarakatan (LP) membuat pemerintah merencanakan akan memindahkan LP ke sejumlah pulau terluar. Letak LP yang berada dekat atau dalam perkotaan membuatnya lepas kontrol sehingga kehilangan fungsinya.

“Kita sudah memilih beberapa pulau terluar, tapi tidak terlalu di luar, untuk kemungkinan memindahkan para penindak kriminal. Orang-orang yang terlibat narkoba, koruptor, dan terorisme, untuk masuk ke lapas khusus,” kata Mengko Polkam Wiranto, Senin (23/7).
Menurut data, Indonesia memiliki 17 ribu pulau. Dari jumlah itu, baru 11 ribu pulau yang dihuni sehingga masih ada 6.000 pulau yang tidak berpenghuni. Jadi, Indonesia tidak kekurangan tempat untuk membuat LP dan ini sekaligus solusi atas kasus kelebihan daya tampung yang melanda di hampir seluruh LP di Indonesia.

Dalam konteks ini ada kisah menarik dalam dunia wayang. Untuk memenuhi ambisi kekuasaannya, Raja Astina Prabu Duryudana (Kurawa) membuat ‘lembaga pemasyarakatan’ yang terasing dari peradaban, yakni di Hutan Kamyaka. ‘Warga binaan’ yang menghuni penjara tersebut adalah Pandawa.

Sesungguhnya, Kamyaka sengaja disiapkan Kurawa untuk melenyapkan Pandawa. Namun, LP itu justru membuat Pandawa menjadi orang-orang kaliber super. Kelima putra Pandudewanata-Kunti/Madrim itu menjadi kesatria terpandang di penjuru jagat setelah ‘terbina’ di Kamyaka.

Pandawa bangkrut
Alkisah, Duryudana ingin menguasai Amarta (Indraprastha). Alasannya, istana dan negara itu berada di wilayah Astina yang ia kuasai. Jadi secara de facto, itu masuk kekuasaannya. Patih Sengkuni kemudian mengkreasi strategi keji guna mengeksekusi keinginan sang raja.
Berdasar skenario Sengkuni, Duryudana mengajak Puntadewa (raja Amarta) bermain dadu. Puntadewa, sulung Pandawa, sebenarnya telah lama meninggalkan kesukaan masa kecilnya itu. Tapi, pantang baginya untuk membuat orang lain kecewa karenanya. Apalagi, Duryudana adalah kakak sepupunya yang ia hormati. Maka, ia dengan senang hati meladeni.

Awalnya tanpa taruhan sepeser pun. Namun, setelah beberapa babak, Duryudana menawarkan perlu ada taruhan agar lebih gayeng. Puntadewa kembali pantang menolak. Maka, permainan dadu itu disertai taruhan.

Semula kecil-kecilan, tapi lama-kelamaan taruhannya bernominal besar. Dalam permainan itu Puntadewa selalu kalah. Akibatnya, semua uangnya ludes, istana dan negara pun lepas. Setelah semuanya amblas, Puntadewa mempertaruhkan istrinya, Drupadi, atas desakan Kurawa.

Sebelum bangkrut, Werkudara sempat mengingatkan dan menyarankan kakaknya, Puntadewa, agar tidak melanjutkan permainan. Itu karena ia tahu Kurawa melakukan tipu muslihat. Namun, Puntadewa menolak saran adiknya meski ia tahu Kurawa telah mencuranginya.
Akhirnya, Puntadewa kehilangan segala-galanya, bahkan harkat dan martabat serta kehormatannya. Tidak sampai di situ, karena kalah, ia bersama keempat adiknya--Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa--masih harus menjalani hidup selama 12 tahun di Hutan Kamyaka yang telah disiapkan Kurawa. Bila lolos, ia masih harus hidup menyamar satu tahun.

Permainan dadu yang berakhir di belantara Kamyaka itu memang menjadi rencana besar Kurawa. Ini langkah memusnahkan Pandawa dari muka bumi. Politik bumi hangus ini dilakukan karena Kurawa menganggap Pandawa pengancam hak kedaulatan mereka atas Negara Astina. Padahal, sejatinya Pandawa ahli waris takhta Astina.    

Laku prihatin
Hutan Kamyaka terletak jauh dari kota atau pusat pemerintahan Astina dan Amarta. Wilayah itu terpisahkan dari daratan kedua negara itu oleh Sungai Saraswati. Sebelumnya, Kamyaka tidak pernah dijamah manusia dan sangat angker. Penghuninya berbagai binatang liar serta makhluk halus.

Pandawa masuk ke Kamyaka tidak berbekal apa pun karena semua harta benda ludes. Pakaian pun hanya yang melekat pada badan. Mereka pun tidur beralaskan daun dan berselimut langit. Makanan yang dikonsumsi pun hanya tumbuhan dan buah di belantara tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, Kurawa yakin Pandawa tidak akan bertahan hidup lama. Pandawa dipastikan mati pelan-pelan karena kelaparan dan penyakit. Dengan demikian, Kurawa bakal langgeng memegang kekuasaan Astina dan Amarta tanpa ada yang mengusik.
Namun, Kamyaka yang diharapkan Kurawa menjadi pintu gerbang neraka penjemput ajal Pandawa, ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Kamyaka malah menjadi gelanggang bagi Pandawa menggeladi diri menjadi manusia berjiwa seminau dan sakti mandraguna. Insan-insan yang siap kembali ‘terjun’ ke tengah-tengah masyarakat memperbaiki peradaban.

Ibarat lembaga pemasyarakatan, Kamyaka berhasil menjadikan warga binaan sebagai manusia-manusia yang baik. Warga yang siap kembali ke masyarakat dengan wajah anyar. Insan-insan yang bersih. Tentu dalam hal ini Pandawa bukan manusia penuh dosa yang kemudian dipenjara di Kamyaka untuk memulihkan kehinaan. Kelima kesatria itu merupakan korban kriminalisasi Kurawa. Namun, justru di Kamyaka, Pandawa mencapai puncak kualitas jiwa kesatria.

Itu semua berkat kegenturan menjalani laku prihatin. Mereka mengisi hari-hari dengan mesu budi, menggulawentah batin dan jiwa. Waktunya dihabiskan untuk mendekatkan diri kepada Sanghyang Widi.

Sejajar dewa
Di antaranya laku prihatin mereka yang paling monumental ialah ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila. Dalam pakeliran, kisah ini tersua dalam lakon Begawan Ciptaning atau Begawan Mintaraga. Karena ‘kiprahnya’ yang gemilang, Raja Kahyangan Jonggring Saloka Bathara Guru memberikan anugerah berupa senjata panah pasopati.

Bukan itu saja, Arjuna juga mendapat kesempatan hidup di Kahyangan untuk sementara waktu dan beristri Bathari Supraba. Itu berkat jasanya kepada dewa dengan mengenyahkan Raja Manimantaka Prabu Newatakawaca yang menjamah kahyangan. Diterimanya dirinya sebagai warga Kahyangan merupakan simbolisasi kualitas jiwanya sekelas dewa.

Setelah lulus dari LP Kamyaka, Pandawa menyempurnakan laku dengan hidup menyamar di Wiratha selama satu tahun. Di negara yang dipimpin Prabu Matswapati inilah kemudian Pandawa mengawali perjuangan suci memayu hayuning bawana, memperbaiki peradaban dunia. Perjuangan itu diwujudkan dalam perang Bharatayuda. Ini pertempuran Pandawa melawan Kurawa.

Akhirnya, Pandawa yang berjaya, sedangkan Kurawa lenyap di medan Kurusetra. Dalam makna lain, Pandawa sukses menegakkan peradaban dunia setelah keluar dari LP Kamyaka. (M-3)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya