Social Ride yang Penuh Adrenalin

ABDILLAH MARZUQI
05/8/2018 02:40
Social Ride yang Penuh Adrenalin
(MI/ADAM DWI)

WARNA pertanda ufuk bahkan belum nampak, tetapi seke­lompok orang telah siap di atas sepeda mereka. Sepeda dengan ban tipis, crank besar dan frame ringan tersebut menandakan bahwa mereka ialah pesepeda yang biasa melaju cepat di jalanan.
Tidak butuh waktu lama, setelah sesi penjelasan singkat soal rute yang akan dilalui rombongan tersebut segera bertolak dari pelataran kedai kopi Cyclo Coffee di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pagi Rabu (1/8/2018), regu atau peleton pertama segera melesat cepat. Sementara itu, regu kedua berangkat dengan kecepatan yang tidak terlalu tinggi.

Tidak hanya dari gaya melaju, penampilan mereka pun sudah selayaknya atlet. Maka hanya dengan melihat, adrenalin ikut tergelitik. Itulah kegiatan social ride yang rutin digelar Rapha Cycling Club (RCC). Dalam seminggu, mereka juga menggelar social ride pada Jumat.
Meski bernama social ride, kegiatan mereka memang bukan seperti sepeda wisata yang melaju santai. Di sisi lain, melaju cepat di jalanan Ibu Kota itulah yang jadi daya tarik kegiatan ini.

Melesat bukan berarti menantang risiko. Untuk keamanan, mereka melaju dengan formasi dua sepeda yang bersisian rapat di setiap baris. Selain itu, mereka juga menggunakan pengawalan motor di belakang rombongan. “Kalau peleton bisa, kita biasa dua-dua selalu, rapat. Biasa ada pengawalan motor di belakang untuk jaga-jaga. Ya, kalau lampu merah kita berhenti,” terang Benny Yahya, 58.

Sementara itu, Simon Pasaribu, 49, meng­ungkapkan, meski dengan pengawalan dan berada dalam rombongan, setiap pesepeda harus sadar kemampuan diri. “Kita harus tahu kemampuan diri kita sendiri. Kalau memang kita gak mampu speed-nya sama yang lain, kita jangan dipaksakan. Bahaya juga itu,” tegas Simon.

Mereka juga saling mengingatkan untuk tidak langsung memacu kecepatan jika belum melatih ketahanan (endurance). Benny Yahya menjelaskan, latihan ketahanan itu berfungsi menguatkan jantung. Meski telah mencapai tingkat ketahanan tinggi, pesepeda juga harus tetap memperhatikan kondisi fisik mereka sebelum mengendarai sepeda. Bersepeda di saat kondisi tidak fit atau kurang tidur ialah kesalahan.

“Akhir-akhir ini banyak orang dibuat ngotot, gak cukup tidur. Sepedaannya gila-gila latihan. Akhirnya badannya gak kuat, kolaps,” tambah Simon. Bagi para anggota RCC, ‘pakem-pakem’ bersepeda itu sangat diperhatikan karena mereka menyadari bahwa tujuan bersepeda ialah kesehatan. Bukan sekadar mencari adrenalin. “Saya kalau sudah kurang tidur saya gak mau sepeda, saya tidur saja. Kan, jantung kita dipacu,” tambah Simon.

Jumat didominasi perempuan
RCC merupakan kependekan dari Rapha Cycling Club. Rapha adalah salah satu merek dari produsen perlengkapan sepeda. Nama klub itu diambil dari merek tersebut. “Jadi, RCC itu kepanjangan dari Rapha Cycling Club. Rapha itu sebenarnya merek baju internasional, yang mana merek ini punya klub-klub di seluruh dunia. Salah satu di Indonesia, di Jakarta itu kami,” terang Shandy Tengkano, 36.

Tak heran, RCC ada di hampir seluruh kota besar dunia, di antaranya Amsterdam dan London. Biasanya nama kota akan disematkan di belakang kata RCC. Meski demikian, RCC Jakarta mengaku kalau komunitas mereka tidak terafiliasi secara resmi.
“Tapi, kalau dibilang dari kami langsung dari Rapha sih, gak. Jadi, kita ini gak langsung dari Rapha sendiri, tapi kita berkumpul orang-orang yang mencintai produk Rapha,” tambah anggota RCC yang lain, Sylvia Novie­ta, 39.

Komunitas RCC Jakarta berdiri sejak 13 Mei 2017. Jika social ride pada Rabu diikuti semua anggota, sesi hari Jumat lebih diperuntukkan bagi pesepeda perempuan. “Kalau hari Rabu kita ada social ride, ka­yak gini. Kita hari Jumat ada women peleton, cowok boleh ikut juga, tapi lebih ke cewek-cewek,” tambah Wita Arisani, 51.

Mereka juga punya alasan menjadikan halaman Cyclo Coffe sebagai titik kumpul yakni lokasinya yang gampang dijangkau sebagian besar anggota. “Strategis, semua bisa ketemu di sini,” terang Debora Kumajas, 36. Titik strategis itu juga menunjukkan keterbukaan komunitas tersebut. Setiap penggemar sepeda jalanan boleh bergabung dalam komunitas tersebut dan kegiatan social ride. Syaratnya hanya satu yakni memahami kemampuan tubuh tadi. (M-2)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya