Awas, Kita pun Bisa Jadi Pelaku Kekerasan

SURYANI WANDARI
05/8/2018 01:25
Awas, Kita pun Bisa Jadi Pelaku Kekerasan
(MI/WANDARI)

KELAS dengan tema ‘Pacaran Sehat’ dan ‘Anak Korban Terorisme’ menjadi salah satu yang paling menarik perhatian bagi siswa yang datang dari berbagai sekolah se-Jakarta. Mereka ramai-ramai menghadiri Jambore Kreativitas Generasi Z, Minggu (29/7), di SMK Negeri 26 Jakarta. Penamaan ‘Pacaran Sehat’ saja sudah menggelitik di telinga mereka.

“Aku penasaran dengan kelas itu, memang pacaran tidak sehat itu seperti apa, lalu mengapa bisa ada tindakan kekerasan, seperti apa, ya?” ucap Arta, kelas 12 SMAN 11 Jakarta Timur.

Di kelas itu, kemudian diurai berbagai risiko dan aksi dalam hubungan yang bisa mengarah pada kekerasan fi sik maupun seksual. Tak hanya itu, kelas informasi Anak Korban Terorisme pun mengundang banyak siswa memenuhi ruangan. Pasalnya, peristiwa bom Surabaya pertengahan Mei silam meninggalkan banyak kesedihan, terutama terdapat anak yang dikorbankan menjadi pelaku bom bunuh diri, yang kemudian diputuskan merupakan korban.

“Radikal dalam hal positif itu sebenarnya bagus, tapi menjadi terlalu radikal malah membuat hilang nilai intoleran, dan menilai dirinya lebih baik, sehingga bahkan bisa menyakiti orang lain,” kata Ika, pengisi kelas informasi.

Jambore Kreativitas
Tak hanya 2 kelas informasi isu anak, masih ada 8 kelas lainnya yang telah dipetakan sesuai dengan kebutuhan penghentian kekerasan pada anak sebagai bentuk memperingati Hari Anak Nasional (HAN) 2018 yang jatuh pada 23 Juli. Andhiya Nathasya Tjusila, siswa SMAN 76 Jakarta sekaligus Ketua Panitia Jambore Kreativitas Generasi Z, mengatakan kekerasan anak memang harus dihentikan.

Hal ini pun harus dilakukan bukan hanya oleh orang dewasa, melainkan anak-anak. “Kekerasan anak masih saja terdengar dari berbagai media. Kekerasan itu pun bisa bermacam bentuknya, tak hanya kontak fi sik, tetapi mental juga,

” kata perempuan yang akrab dipanggil Thasya ini. Oleh karena itu, Thasya bersama Forum Anak DKI Jakarta Timur dan didukung Wahana Visi Indonesia dan Pemerintah DKI Jakarta ini merancang kegiatan Jambore selama 2 hari, pada 28-29 Juli 2018, dengan mengundang ribuan siswa Jakarta agar berperan aktif menggalakkan penghapusan kekerasan terhadap anak, salah satunya dengan membuat kelas informasi.

 “Isu kekerasan ini kami rangkum dalam 10 isu yang dibuat kelas informasi. Menurut kami, 10 isu itu yang paling banyak dialami anak, yakni perkawinan anak, pacaran sehat atau kekerasan dalam pacaran, pornografi , internet sehat, bahaya rokok, hinggaperdagangan anak, dan sekolah ramah  anak,” kata Thasya. Dalam setiap kelas, ribuan siswa yang bergantian masuk itu diberi pemahaman mengenai masing-masing isu oleh orang yang ahli di bidangnya.

Luka di masa kecil
Isu kekerasan ini sengaja dipilih karena berdasarkan Penelitian Komisi Perlindungan Anak Indonesia, sepanjang 2011-2016 terdapat 22.109 kasus perlindungan anak. Hampir 50% dari kasus ialah kekerasan fi sik dan seksual dan angka itu terus menanjak tiap tahun. Pada 2011-2014 ditemukan 1.022 kasus kekerasan terhadap anak yang dipicu media sosial dan internet. Studi kekerasan terhadap anak pada 2013 yang dilakukan Komisi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak menemukan bahwa ada hubungan antara kekerasan yang dialami seseorang pada masa kecil dan tindak pidana pembunuhan, pemerkosaan, dan penyalahgunaan narkoba.

Ya, apalagi seorang anak yang terkena kekerasan, dapat memicu orang tersebut melakukan kekerasan lagi di masa depan seperti rantai yang terus berhubungan. Anak-anak membutuhkan lingkungan aman dan penuh kasih sayang untuk mendapatkan manfaat di bidang pendidikan. Ini menjadi harapan semua orang untuk dapat mencegah kekerasan, bukan hanya orangtua, melainkan juga anak-anak mereka.

Anak genius
Thasya bersama teman sebayanya membuat kegiatan ini sebagai pembuktian bahwa citra anak Generasi Z yang sering dipandang hanya bisa bermain gadget ini dapat dipatahkan lewat kegiatan positif atas kreativitas generasi mereka. Generasi Z memang sering diartikan sebagai generasi yang tidak lepas dari perangkat elektronik bahkan dibilang buku teks tak lagi berarti.

Sejak kecil mereka telah mengenal komputer, handphone, hingga internet. Meskipun memiliki kemampuan lebih dalam untuk mencari informasi secara cepat sejak usia mereka kecil, gadget tak selamanya bagus buat kita. “Anak Indonesia sekarang sepertinya memang banyak yang enggak peduli dengan lingkungan bahkan budayanya. Karena akses internet dan pergaulan yang tak ada batasnya, mereka malah hanya menyukai K-pop dibanding budaya sendiri,” kata Vazia, kelas 11 SMKN 14 Jakarta

Rehat dari gadget
Menurut Vazia dan Thasya, kebiasaan itu memang harus diberhentikan. Kita harus sedikit lepas dari gadget dan membuat suatu perubahan dan kontribusi khususnya untuk anak y a n g menjadi penerus memimpin Indonesia. Salah satunya dengan apa yang ereka lakukan saat itu, ada pertunjukan unjuk bakat dan permainan tradisional yang rupanya masih digemari Generasi Z.

 “Kegiatan ini tentu membuat kami melupakan gadget dan lebih banyakbermain dan berkreasi di luar. Tak semua dari kami hanya bisa bermain gadget, kami punya kreativitas yang dituangkan untuk kepentingan bersama,” ucap Thasya. Senada dengan pernyataan Thasya, Doseba Tua Sinay, Direktur Nasional Wahana Visi Indonesia, mengatakan hal yang sama, terutama keberanian mereka untuk membangun dan
berkontribusi menghentikan kekerasan pada anak dengan kegiatan semampu mereka.

“Kegiatan ini sangat bagus. Panitia dari forum anak ini mengusungtema dan konsep kegiatannya sendiri sehingga partisipasi anak sangat ditekankan. Hal ini pun sejalan dengan tema Hari Anak, yakni Anak Indonesia, Anak Genius, yakni Gesit Empati Berani Unggul Sehat,” tutup Doseba. (M-1)

 





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Dedy P
Berita Lainnya