Ali Sukri Tampil tanpa Basa-Basi

Usman Iskandar
04/8/2018 15:05
Ali Sukri Tampil tanpa Basa-Basi
(MI/Usman Iskandar)

DENTUMAN alat berat beritme pelan terdengar dari atas panggung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), cikini, Jakarta Pusat Jumat (3/8) malam. Sejenak kemudian delapan penari muncul dari lorong tengah panggung, disusul lampu spot yang menyeruak mengiringi gerakan para penari dari samping kiri dan kanan Teater Kecil.

Sejurus kemudian para penari membuat barisan. Satu per satu mereka bergerak teratur, seolah berdialog di antara mereka. Sehimpun koreografi karya Ali Sukri, 31, itu mengawali babak awal dalam pertunjukan tari kontemporer yang berjudul Margin of Our Land.

Karya koreografi dari dosen Institute Seni Indonesia (ISI) Padang ini mengisahkan polemik proyek reklamasi yang selalu menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat. Peraih penghargaan aktor dan penari terbaik dalam acara Dewan Kesenian Padang, Sumatera Barat pada 2002 silam itu menggambarkan polemik ini dengan simbol-simbol gerakan, suara, serta tata cahaya yang cenderung minimalis.

Pertunjukan yang berdurasi 30 menit ini bisa dibilang suguhan tari yang dikemas tanpa basa-basi, langsung pada pesan yang akan disampaikan koreografer. Padahal, jamaknya, pertunjukan koreografi biasanya dibumbui dengan prolog yang bertele-tele.

Pertunjukan ini merupakan penutup rangkaian Postfest 2018 yang diinisiasi ISI Padang bekerja sama dengan Institute Kesenian Jakarta (IKJ) yang telah berlangsung selama sepekan. Sebelumya telah digelar berbagai karya para seniman tari yang ambil bagian dalam kegiatan seni pertunjukan kontemporer.

Salah satu koreografer eksentrik Toni Broer menampilkan karyanya sendiri berjudul Tubuh Kata Tubuh yang disuguhkan di tangga Teater Jakarta hingga di bantaran Kali Ciliwung di kawasan Kali Pasir, Cikini, area kampus IKJ. Seperti biasanya Toni Broer tampil dengan gaya meditasi selama beberapa menit, dengan berdiri terbalik, kepala di bawah dan kaki menyilang di atas.

Selain mereka, sejumlah koreografer dan penari turut ambil bagian dalam ajang temu seniman tari yang terwadah dalam Postfest 2018. Pertunjukan yang dikemas secara rally dalam sepekan itu, merupakan untuk pertama kalinya yang digagas seniman tari yang lahir dari rahim dua akademi ISI Padang dan IKJ. (M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Zubaedah Hanum
Berita Lainnya