Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
INDONESIA memiliki beragam budaya, salah satunya kain nusantara. Bukan semata batik loh. Ada juga tenun. Seperti tenun asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menarik dengan corak, warna, dan desain yang kharismatik.
Kini masyarakat bisa memiliki dan mengenakan tenun Lombok kapan saja. Namun dulu kain tenun rangrang Lombok hanya digunakan sebagai pakaian adat. Seperti di hari-hari besar, upacara adat, atau kegiatan keagamaan.
Jika berkunjung ke Mataram, Ibukota NTB, dengan mudahnya anda menemukan toko-toko yang menjual kain tenun rangrang itu. Salah satunya di sepanjang jalan Kaharuddin. Ratusan toko menjual aneka kain tenun dengan warna yang mencolok. Harga yang ditawarkan cukup bervariasi antara Rp250ribu dan Rp800ribu.
Menurut salah satu penjual kain, Lilis, harga kain tenun tergantung motif kain. Pasalnya kreasi motif menentukan tingkat kesulitan pembuatannya dan waktu penyelesaiannya. Paling cepat satu kain tenun itu butuh waktu seminggu.
"Satu kain rangrang paling cepat diselesaikan dalam waktu satu minggu. Dasarnya memang memiliki motif zig-zag dengan kombinasi warna-warna cerah tetapi ada juga yang berwarna lembut,” sebutnya.
Bila ingin berkunjung ke pusat kerajinan tenun rangrang, kata Lilis, tersedia di tiga desa adat. Yakni Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Desa Sade dan Desa Pringgasela, ketiganya berada di Lombok Tengah, NTB.
Ketiga desa itu memiliki ciri tersendiri. Kain tenun dari Desa Sukarara kebanyakan berbahan benang kapas. Sedangkan pewarnaannya ada yang menggunakan bahan alami dan ada juga menggunakan pewarna pabrikan.
“Dari Sukarara terkenal motif pengantin untuk pajangan, motif rangrang untuk bahan pakaian, motif keker dan motif gecko untuk tenun panjang dan ukuran bahan pakaian,” sebutnya.
Koleksi tenun di Desa Sade sayangnya tidak selengkap Desa Sukarara. Tetapi mereka lebih mengikuti tren dan perkembangan yang disukai pasar, di antaranya motif bianglala, motif M, motif wajik, atau motif alami.
“Motifnya sering update terutama motif-motif tenun selendang atau syalnya. Desa Sade banyak dikunjungi wisatawan sehingga menyesuaikan kebutuhan pembeli,” terangnya.
Sedangkan di Desa Pringgasela, terkenal dengan motif tenun bergaris. Tentunya dengan keunikan tersendiri.
Apalagi perwarnaan kain tenun rangrang masih mempertahankan bahan alamiah. Seperti penggunaan kunyit untuk warna kuning, warna unggu dari ekstrak kulit manggis, dan warna merah dari lengkuas.
Tingginya pemintaan kain tenun rangrang berbanding lurus dengan kebiasaan masyarakat Lombok yang masih mempertahankan tradisi nenek moyang. Melestarikan warisan budaya sembari bergantung hidup dari penjualan kain tenun tersebut. (M-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved