Eksotisme Kuliner Suku Dayak

Fathurrozak
30/7/2018 17:05
Eksotisme Kuliner Suku Dayak
Rahung Nasution menyajikan hidangan khas Suku Dayak kepada peserta Open Lab di Sukanda Djaya Kitchen, Melawai, Jakarta Selatan, Minggu (29/7) malam.(MI/Fathurrozak)

AROMA harum menguar mengisi ruang dapur Sukanda Djaya. Di meja dapur, sudah tersaji ikan-ikan asap, beragam olahan sayur, dan jenis makanan yang jarang dijumpai.
Salah satu yang jarang ditemui ialah jambu hutan yang dibawa langsung dari hutan adat suku Dayak Iban di Sungai Utik, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Jambu ini diolah seperti semur tapi tidak berkuah. Rasanya sedikit masam dengan tekstur yang lunak. Menghadirkan sensasi yang baru untuk lidah.
Sedangkan ikan yang dipilih untuk diasapkan ialah ikan lais. Ikannya renyah tanpa diasinkan. kita bisa menyantap tanpa terganggu tulang. Tidak hanya ikan Lais, ada juga Ikan Jelawat, yang kulitnya seperti kerupuk.
"Ikan Lais ini sudah diasapi dari sana. Kita di sini tinggal panasin lagi aja. Kalau aroma harum, ya itu sebenarnya dari semua bahan yang ada di sini. Enggak ada yang dominan. Kami juga buat beberapa eksperimen sambal sendiri," ujar sang juru masak Rahung Nasution di Sukanda Djaya Kitchen, Melawai, Jakarta Selatan, Minggu (29/7) malam.
Belum lagi, Buah Kepayang yang diolah seperti rendang. Semakin purna, buah Bunsi yang berwana jingga seperti Jeruk, berukuran kecil, diramu bersama Gin Tonik untuk merilekskan tubuh seusai bersantap.
"Buah kepayang enggak dimasak seperti yang di sana. Kita coba olah seperti rendang. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan cara memasak, karena pasti akan tergantung dari karakter orang masing-masing," ungkap pria bertato itu.
"Kita juga gunakan Kacang Keminting, ini mirip seperti Kemiri, mengeluarkan banyak minyak. Ada juga daun pengganti MSG," imbuhnya.
Rahung dan seniman cooking section dipertemukan dalam proyek Open Lab. Suatu proyek garapan Okvideo Festival dalam sub Ok pangan, bertajuk Resistant Forest Food. Kurator program, Bellina Erby menjelaskan konsen mereka terhadap pangan yang tidak berhenti pada bumbu dan sajiannya. Melainkan sisi geopolitik, juga sejarah, menjadi segi yang digarap lewat kuliner yang tersaji.
"Pertama kali saat pilih Cooking Section, karya-karya mereka selalu ngomongin isu geopolitik, geografikal, isu lingkungan wilayah, seni rupa dan arsitektur. Lalu mikir, siapa yang bisa ditabrakin. Menurut gue enggak ada yang lain selain bang Coki (Rahung Nasution) karena chef yang juga punya konsen dengan tribe," jelas perempuan yang akrab disapa Erby.
Dayak Iban di Sungai Utik tinggal dalam Rumah Betang (rumah panjang) yang terdiri dari 28 kepala keluarga. Pemilihan kekayaan kuliner Dayak Iban sebenernya berangkat dari pengalaman Rahung yang beberapa kali berkunjung ke Dayak Iban Sungai Utik. (M-3)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya