Wujud Cahaya dan Piksel dalam Dimensi Visual

*/*/M-4
15/7/2018 03:55
Wujud Cahaya dan Piksel dalam Dimensi Visual
(DOK.GNI)

PINTALAN kain menggulung di sudut jendela yang tersinari cahaya matahari. Sorot itu mewujud bayang gelap terang di bidang lantai, sekaligus mempertegas lekuk kain yang nampak digunakan untuk menutup sebuah kursi.

Di bidang lain, wujud kursi lebih terlihat hanya tertutup kain tipis di atasnya. Sementara itu, kain-kain yang nampak seperti kelambu itu berada di sisi yang tak menutup permukaan kursi. Namun, kali ini justru saturasi yang dimainkan hingga menampilkan dimensi antara ada dan ketiadaan, mengawang.

Dua lukisan milik Windi Apriani yang dipamerkan di Gedung D, Galeri Nasional, Jakarta Pusat, hingga 13 Juli 2018 itu, memainkan proyeksi cahaya lewat arsir-arsir tebal tipis bolpoin. Windi mampu menyuguhkan proyeksi tata cahaya hanya dengan mengeksploitasi tiga obyek utama, jendela, kain, dan barang-barang seperti kursi. Seolah keadaan tersebut merupakan keadaan yang jamak dijumpai setiap orang, meski kemudian menjadi suatu pengalaman personal.

Sementara itu, realitas yang lebih imajinatif disuguhkan Agung Fitriana yang juga suami Windi Apriani lewat sejumlah karyanya. Agung bermain dengan rona dan gradasi.

"Agung Fitriana tertarik menjauhi hasil gambaran yang realistik, lukisan-lukisannya mengaburkan penjelasan tentang segala sesuatu yang bisa dianggap alamiah," ujar kurator Rizki A Zaelani, beberapa waktu lalu.

Karya Agung sebenarnya bermain dengan unsur-unsur yang sekilas ada di dalam fotografi. Hanya, bentangan kanvas-kanvas Agung seperti hasil proses pencampuran bahan kimia dalam mencuci seluloid film.

Tidak ada bentuk objek yang solid, justru kita menemukan suatu komposisi warna yang membawa kita menerka-nerka dimensi ciptaan Agung.

Visible Form of Feeling, pameran yang menampilkan 11 karya pasangan suami istri itu seolah menawarkan kita sebagai yang melihat, menerawang pemaknaan dari suatu bentuk yang terlihat, menggali lagi yang tak terlihat di dalamnya, merasai suatu pengalaman yang memancing kita untuk berdialog dengan karya.

"Karya-karya kami menunjukkan bagaimana sebuah lukisan akan tetap membutuhkan kekayaan dimensi 'rasa' selain tentang maknanya. Lukisan kami bisa kita baca dalam maknanya sebagai dimensi ingatan kita akan hal 'bahasa visual,' ungkap Agung.

 

Kekuatan piksel

Kenikmatan visual dengan rasa yang berbeda ditawarkan pelukis asal Boyolali, Azhar Horo, yang mengambil kekuatan piksel sebagai inspirasinya. Azhar mengaku inspirasi piksel itu diperoleh saat nyawanya hampir terenggut karena bencana gempa bumi.

Situasi rumahnya yang terporak-porandakan karena gempa bumi itu divisualisasikan Azhar dalam bentuk lukisan dengan menggunakan teknik piksel. "Kekuatan piksel untuk menutupi identitas seseorang dalam foto media massa menjadi inspirasi saya mengolah kembali visual dalam lukisan saya sehingga dapat menjadikan tertata sesuatu bentuk-bentuk yang saya inginkan", jelas Azhar.

Salah satu karyanya yang menarik perhatian pengunjung ialah lukisan berjudul I Catch You yang berdimensi 200 cm x 300 cm. Dalam lukisan itu, Azhar menggambarkan puing-puing piring dengan makanan lengkap yang berantakan tak beraturan. Azhar dapat melihat suatu ketidakaturan tidak menjadi masalah. Ia berhasil menerjemahkan keacakan tersebut menjadi suatu yang artistik.

Kurator Frigidanto Agung mengatakan, Azhar berhasil mengeluarkan sisi artistiknya untuk menyuarakan imajinasi dalam pikirannya dalam bentuk visual yang mudah dipahami. Karya Azhar yang bertajuk From My Eyes itu dapat disaksikan di Gedung B, Galeri Nasional, hingga 22 Juli 2018.





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya