Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PLASTIK-PLASTIK menggulung bersama lumpur yang hampir menjebol kaca bening dan besi sebagai penahannya. Seolah tak kuasa menahan luapan jejak laku manusiawi yang tercecer di sepanjang alur sungai.
Wajah muram itu menjadi representasi Sungai Citarum, sungai paling tercemar di 'Tanah Priangan' yang disajikan Tisna Sanjaya, dalam pameran tunggalnya Potret Diri Sebagai Kaum Munafik, di Galeri Nasional, Jakarta Pusat, hingga 21 Juli 2018 mendatang.
Isu relasi manusia pada alam memang menjadi salah satu konsen lelaki lulusan Seni Rupa ITB (1986) itu dalam pameran yang khusus merayakan 60 tahun kiprahnya.
Jejak penyertaan unsur alam bukan hanya muncul dalam pernyataan karya, melainkan juga melibatkan material pembentuk karya. Biji-bijian, empon-empon, bukanlah sesuatu yang asing bagi laki-laki kelahiran Bandung, 28 Januari 1958 itu.
Seperti saat Tisna memajang Imah Budaya (IBU) di Jakarta Biennale tiga tahun silam yang mendemonstrasikan sekumpulan biji-bijian berwarna dalam tampah, yang juga menjadi substitusi cat untuk menghadirkan lukisan. Unsur-unsur alamiah juga hadir dalam karya utama dalam pameran ini yang mulanya menjadi performa Tisna di Museum Macan setahun silam.
Cetakan gestur tubuhnya tertinggal dalam 33 lembar sajadah, bersama taburan kunyit, kayu manis, dan goresan arang yang mengering. Bersama baju dan celana yang digantungkannya.
Satu karya yang memiliki karakter sama, 99 Sajadah Merah menggunakan material sejenis, juga meninggalkan gestur-gestur tubuh dengan proporsi lima lembar sajadah mengalasi satu tubuh utuh.
Instalasi lain yang juga menyoal keagamaan, tetapi berkelindan dengan ranah lain, Tisna eksposisikan dengan 'bilal' seorang dengan topeng hidung panjang, tertindih bantalan-bantalan bertulis seni, agama, demokrasi, politik, saling bertumpuk hingga hampir menyundul langit-langit galeri pamer A Galeri Nasional.
Hidung panjang itu bak Pinokio, boneka kayu yang bila berbohong akan memanjang hidungnya. Padahal, bilal dalam agama Islam diartikan sebagai orang yang mengumandangkan azan.
"Agama Islam yang saya pahami itu kebersihan sebagian dari iman. Islam rahmatan lil alamin, yang tidak hanya untuk manusia, tapi juga untuk alam, sosial politik, cuma sekarang ini menuju ke arah yang banyak tantangan," ujar penerima Anugrah Adhikarya Rupa untuk kategori personal pada 2014.
Agama dan perdamaian
Lelaki yang menyulap tempat pembuangan sampah menjadi rumah kebudayaan yang ia namai Imah Budaya di Cigondewah, Bandung Selatan, Jawa Barat, tetap tak meninggalkan karakternya lewat teknik etsa sebagai cirinya dalam teknik grafis. Tisna melakukannya dalam gestur-gestur 'sujud' yang tercetak di 99 plat tembaga, juga dalam karya Dzikir.
Teknik etsa yang menggunakan larutan asam kuat dilakukan untuk mengikis bagian permukaan logam yang tak terlindungi, hingga menciptakan desain pada logam.
Di tengah berjejerannya plat logam yang melingkar, ada bangunan kaca untuk menyimpan mesin etsa, dan di dindingnya tertulis 'Agamaku Agama yang Salah'. Hal itu menjadi negasi bagi kaum yang gemar mengafirkan sekaligus peneriak 'agama kami agama yang paling benar dan direstui Tuhan'.
Tentu pada sajian karya-karyanya kali ini, dalam usia Tisna yang menyentuh kepala enam, menjadi suatu muhasabah, bagi dirinya, atau mungkin juga suatu panggilan bagi kita untuk merendah diri, seperti yang ia lakukan dalam sujudnya sembari merapalkan 99 nama baik ilahnya.
"Nilai utamanya adalah untuk menyampaikan nilai-nilai yang indah dari agama Islam, yaitu spirit untuk bareng-bareng menyampaikan kedamaian di dunia," tutur Tisna.
Ketauhidan, keilahian, suatu nilai sufistik yang dimiliki para kaum peladang, petani, kembali Tisna simbolkan lewat benih padi yang baru tertanam, di tanah lumpur yang masuk ke dalam perahu, yang berlayar di atas tumpukan kelapa. Ini menjadi bagian karya Takbir yang menampilkan patung sang seniman sembari mengangkat kuasnya dengan raut tersenyum. Suatu simbolisme terhadap realitas kontemporer yang bila kita mendengar seruan takbir kini, kebanyakan justru menyeruak amarah yang menyertainya.
"Bagi Tisna, beragama dan menjalani praktik adalah sama-sama menyenangkan. Agama baginya akan menjadi lebih humanis ketika seni hadir di dalamnya," ucap Hendro Wiyanto, salah satu kurator. (M-4)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved