Ume Kbubu Rumah Penjaga Mata Air Fatunausus

Fathurrozak
15/7/2018 02:20
Ume Kbubu Rumah Penjaga Mata Air Fatunausus
()

ILALANG bertumpuk tebal di atap rumah berbentuk bulat melingkup. Ilalang itu menjuntai hingga ke lantai tanah, menutupi cacahan bambu sebagai dinding. Dari sisi depan, terdapat pintu kecil yang mengharuskan kepala menunduk untuk bisa masuk.

Di dalamnya, terdapat jagung-jagung yang menggantung di atas perapian untuk dikeringkan. Biasanya, jagung itu dimasak bersama bahan makanan biji-bijian lain yang diolah menjadi jagung bose, ditumbuk untuk memisahkan kulit arinya.

Dari tengah ruang perapian itu pula, seringnya dongeng-dongeng yang turun-temurun menderas sebagai tradisi tutur lisan. Terkadang, masuk pula hewan ternak, seperti babi ke dalam rumah bulat itu.

Seperti itulah, Ume Kbubu, rumah bulat orang Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Ume artinya rumah dan kbubu berarti bulat. Rumah yang menghangatkan saat menjelang puncak musim dingin di benua Australia menyambangi daratan Timor. Namun, seketika menyejukkan saat kemarau singgah.

"Setiap orang yang masuk ke Ume Kbubu harus menundukkan kepala dan itu bermakna filosofis. Tamu yang datang harus menghormati tuan rumah," sebut sastrawan dan pegiat budaya lokal, Dicky Senda, dalam sebuah diskusi bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jakarta, di Jakarta Selatan, pekan lalu.

Di dekat Ume Kbubu, lanjut Dicky, biasanya juga ada bebatuan, atau berada tak jauh dari sumber air, seperti sungai maupun hutan. Ilustrasi Ume Kbubu terlihat dalam corak tenun Mollo. Motif garis-garis putih merah berarti aliran sungai, hijau kuning berarti hutan, lalu di tengahnya terdapat lingkaran dengan bentuk belah ketupat, menandakan permukiman mereka yang tak jauh dari sumber air, atau batu maupun hutan.

Elemen batu memang lekat dengan sosiokultural Mollo, yang memiliki moyang Suku Atoni (Atoin-Meto) yang berarti manusia kering, atau manusia darat, hidup di pegunungan. Mereka berada di lereng Gunung Mutis, yang punya puncak Fatunausus. Fatu berarti batu dan nausus/sus ialah susu atau payudara.

Arsitektur Ume Kbubu yang juga menyerupai gua itu bisa dianalogikan sebagai tonggak kehidupan selanjutnya setelah para moyang Mollo tinggal di gua. Interior di dalam Ume Kbubu yang memasukkan semua barang kepemilikan, termasuk penghuni, benda berharga hingga hewan ternak mereka ini, disinyalir sebagai pengaruh pada masa lalu moyangnya di era kehidupan gua.

Ume Kbubu biasanya memiliki pola mengelompok dalam permukiman. Beberapa rumah melingkari satu rumah adat milik sang raja, atau pemimpin klan. Dalam rumah adat itulah, biasanya tersimbol totem marga mereka, juga tersimpan barang berharga, dan terdapat tiang altar penyembahan, Ni Enaf.

Mollo, yang secara kronik historis berarti saudara perempuan dari gunung oleh penyebutan saudara laki-laki mereka Suku Amanuban dan Amanatun, berasal dari daerah pesisir atau daratan yang lebih rendah daripada Mollo, termasuk orang Boti.

Dicky mengungkapkan, orang Mollo memiliki tugas menjaga gunung daratan Timor, Gunung Mutis, yang memiliki posisi sentral sebagai sumber air bagi 12 sungai besar hingga Waikusi, bagian Timor Leste yang bersinggungan dengan Indonesia.

Gunung Mutis juga menjadi tempat berpulangnya arwah para leluhur. Tugas kebudayaan ini kemudian dihidupkan selaras dengan filosofi orang Mollo yang menganggap alam sebagai bagian dari manusia.

"Filosofi orang Mollo, hutan adalah rambut manusia, batu itu sama dengan tulang manusia, tanah adalah kulit kita, dan air adalah darah manusia. Elemen-elemen ini diibaratkan seperti kami manusia, merusak gunung berarti memotong tangan atau tulang kami, membabat hutan berarti mencukur habis rambut kami," tuturnya.


Fatu bian

Relasi terhadap alam begitu lekat bagi cucu Melus Kenurawan, orang pertama yang tinggal di Pulau Timor, sebelum kedatangan invasi orang kulit putih Malaka, yang mengharuskan sebagian besar orang dengan ciri rambut keriting, pendek, dan hitam ini hijrah ke Alor, atau Maluku Tenggara.

Salah satu cerminan relasi alam-manusia penjaga Fatunausus ini tercermin saat medio 90-an hingga medio pertengahan 2000, muncul perlawanan Mama Aleta Baun yang ingin mengusir para pengepras puncak sumber air mereka. Fatunausus yang tadinya memiliki dua puncak ini, harus kehilangan salah satunya.

Mama Aleta beserta perempuan Mollo lainnya berhasil mengusir penambang marmer pada 2007, mencegah Fatunausus hilang dari semua puncaknya. Wakaf kebudayaan yang sudah diturunkan sejak raja Sonbai ini berhasil diemban dengan baik para keturunannya.

Apalagi orang Mollo juga memiliki keyakinan yang dinamakan Fatu Bian. Mereka memercayai, arwah mereka yang sudah meninggal menetap di batu-batu sekitar Ume Kbubu, rumah tinggal mereka.

"Kalau sudah meninggal, arwah ada di balik batu, di sebelah kami, batu (gua) yang dulu nenek moyang tinggali, dan akan pulang kembali ke sana. Bentuk Ume Kbubu yang menjadi rumah bagi kita setelahnya, juga seperti tempat tinggal nenek moyang kami dulu, batu (gua)," tutur Dicky.

Selama 40 hari pertama setelah meninggal itu, arwah akan ada di batu-batu sekitar Ume Kbubu dan 40 hari kemudian akan menuju puncak Gunung Mutis menuju Nirwana. (M-4)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya