Menolak Seluloid sebagai Tren Semata

Fathurrozak
15/7/2018 02:00
Menolak Seluloid sebagai Tren Semata
(MI/FATHURROZAK)

SEMASA SMA, lelaki yang kini berprofesi sebagai disc jokey (DJ) ini, akrab dengan kamar gelap, dan kamera analog. Ia menyukai momen saat harus menunggu hasil jepretannya tercetak di studio. Begitulah memori 27 tahun lalu, saat rol film mudah ditemui.

Sayangnya, memasuki era milenium awal, rol film mulai susah ditemui, dan membuat hobi fotografi manualnya mandek. Kini, setelah era kamera digital merangsek pasaran, DJ ini justru kembali membawa memori semasa SMA-nya. Kamera analog, seluloid, dan cairan kimia ia akrabi kembali untuk menghidupi gairah minat fotografinya.

Begitulah sekelumit kisah Fadhli A'at, salah satu pemilik Lab Rana, di Kemang, Jakarta Selatan. Bersama dua temannya, Wahyu mantan jurnalis, dan Ve, yang berprofesi sebagai asisten sutradara, mereka mengisi ceruk kebutuhan fotografi analog yang kembali ngetren.

Mulanya, Wahyu merupakan pemasok rol film bagi A'at dan Ve. Kemudian, di luar kesibukan mereka, Lab Rana menjadi fokus baru, yang dibangun atas hasil patungan. Tidak ada kamar gelap lagi. Sekotak mesin putih yang disebut mesin developer, di sudut ruang menjadi amunisi utama untuk para Muda mencuci foto. Total, ada lima orang yang bekerja di lab yang baru berusia satu setengah bulan ini.

"Sampai sejauh ini, surprisingly amazed ya, yang dateng ke kita banyak banget. Di luar ekspektasi. Artinya, mereka mau nerima kita sebagai pilihan," ujar A'at saat ditemui Media Indonesia di labnya, Rabu, (27/06).

Mulanya, punggawa Diskoria Selekta ini menginginkan para pelanggan yang mencetak fotonya di lab independennya bisa menunggu. Namun, rupanya Lab Rana merasa kewalahan melayani, hingga para kustomer harus menunggu sampai beberapa hari untuk dikirim hasil pindai foto mereka. "Untungnya mereka pada mau ngerti," tukas lelaki berkacamata itu.

Pantauan Muda sesiang di Lab Rana, para Muda memang bergantian datang untuk mencetak foto. Ada yang datang sendiri, berdua, atau rombongan. Siang itu saja, ada 16 customer yang silih berganti. Suatu fenomena yang cukup bagus untuk tren analog. Hanya, A'at tak menginginkan labnya sekadar sebagai tempat cuci foto. Ia justru menginginkan para customer-nya mau berdiskusi dan belajar lebih luas lagi, bukan cuma datang lalu pergi.

"Teringat dulu saat saya nyuci di Adorama, saat masih amatiran. Ya cuma dateng terus pergi. Padahal, saya lihat para fotografernya ada diskusi sama tukang labnya. Saya enggak mau hal yang menimpa saya terjadi di sini (Lab Rana)."

 

Bermula dari studio laba-laba

Berbeda dengan A'at, pegiat analog lainnya, Aditya Martodihardjo justru malah sempat bosan saat menggunakan kamera analog. Perkenalan pertamanya ialah kamera milik pamannya, saat Adit masih SMA dan kamera digital sudah jamak dikenal, medio 2005.

"Sempat make 5-10 rol dari SMA sampai awal kuliah, lama-lama bosen enggak nemu serunya, kayak moto aja biasa, hasilnya enggak bisa langsung dilihat harus kirim ke lab dulu. Akhirnya ditinggalin tuh kamera, enggak disentuh lagi. Selang tujuh tahun, ketemu temen Lab Laba-Laba," cerita Adit yang aktif di Lab Laba-Laba, saat Muda menjumpainya di Kinosaurus, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (27/06).

Pada masa itu, baginya kamera analog prosesnya sama saja dengan digital akhirnya. Hingga kemudian terlibat dengan Lab Laba-Laba, saat menemukan pita film kartun Si Titik. Film ini diproduksi dalam era yang sama dengan Si Unyil pada 1982, produksi Perum Produksi Film Negara (PPFN).

Aditya intens kembali pada seluloid mulai 2015, ketika bekerja sebagai periset sejarah sehingga visinya dalam ranah merekam pun juga turut berkembang. Ia menemukan sensasi kembali saat berada di kamar gelap. "Sempat ada teman dari Australia yang ngasih lokakarya proses kerjanya, ngolahnya, dan ternyata kemungkinan yang terjadi lewat medium seluloid enggak sekadar merekam gambar, treatment mediumnya lebih luas lagi. Ternyata bisa bikin film tanpa kamera, bisa membuat realitas menjadi abstrak, menurut saya menarik banget."

Walaupun sebenarnya digital pun bisa diandalkan sebagai medium, Aditya terpukau pada sensibilitas seluloid yang lebih organik, proses yang jauh lebih panjang sehingga lebih bernilai tambah.

"Analog ada proses, dari ide awal hingga hasilnya butuh waktu panjang, di antara waktu menunggu hasil itu, ide jauh lebih mateng," ungkap lelaki yang Jumat (29/06) ini berkesempatan menampilkan karya bersama para pegiat seluloid asal Perancis, yang tergabung dalam komunitas Atelier MTK juga Sutradara Anggun Priambodo, di Pusat Kebudayaan Perancis, IFI, Thamrin, Jakarta Pusat.

Ketekunan itu berbuah residensi selama 20 hari di Paris, dalam forum Film Lab Meeting yang mempertemukannya dengan 160 orang dari belahan dunia yang juga menekuni ranah seluloid. Ia mengakui, saat itu pikirannya menjadi semakin terbuka.

 

Dark lab circle

Kini, dengan medium rekam gambar analog yang kembali tren, paling tidak diakui Adit cukup memberinya dampak ke usaha rintisannya, Binatu Cahaya Mandiri. Usaha itu berwujud studio gelap yang ia jalankan untuk menerima jasa cuci cetak seluloid, sejak akhir tahun lalu. Namun, lelaki lulusan ITENAS Bandung ini tetap memberi catatan pada menggejalanya tren analog.

Agaknya, mereka yang sudah menggeluti ranah seluloid, juga yang baru merambah, harus memiliki kemauan melakukan eksplorasi medium seluloid. Bukan sekadar berhenti di permukaan dan riuh dalam komoditas.

Salah satu upaya untuk memfasilitasi para gerilyawan analog ini, beberapa waktu lalu digelar dark lab circle, yang dimotori Batavia Strut, kelompok yang berfokus pada musik elektronik eksperimental. Mereka menggabungkan konsep pesta sekaligus getok tular bagi para gerilyawan analog. Acara ini sekaligus untuk merespons komunitas Atelier MTK yang tampil bersama Adit dan Anggun Priambodo di IFI Thamrin.

"Anggap saja ini sebagai gathering teman-teman yang gemar analog, jadi bisa tukar informasi," jelas Irvin Domi, punggawa Batavia Strut, saat ditemui di Gudang Sarinah, Pancoran, Jakarta Selatan, (28/06).

Lebih lanjut, ia mengharapkan para pengguna analog lebih peka dan mau mengulik lebih dalam ke mediumnya. Sementara itu, Rio Tantomo, yang juga bersama Domi, melanjutkan, baginya dark lab circle menjadi salah satu wahana yang mengombinasikan antara analog dan digital.

"Awalnya kita (Batavia Strut) memang fokusnya musik elektronik, yang mencerminkan suatu masa depan. Kemudian, bercampur dengan budaya kontemporer, nah semuanya akan kayak gitu (digital), tapi jangan lupa juga ada kontemporer, budaya-sejarah, kenapa bisa sampai digital, kan ada prosesnya. Suatu yang paling dasar dalam milestone buat masa depan, ya dari analog tadi." (M-1)





Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Msyaifullah
Berita Lainnya