Seni Instalasi Perempuan dalam Kata

Abdillah M Marzuqi/M-2
14/1/2018 09:40
Seni Instalasi Perempuan dalam Kata
(MI/ABDILLAH M MARZUQI)

KURUNGAN-KURUNGAN itu terbalik. Kurungan yang tadinya menjadi semacam jeruji besi yang membatasi telah berubah. Memang tadinya kurungan itu jumawa dengan kemampuannya memberi batas dan memutuskan hubungan ayam dengan dunia luar. Namun semua berubah, ketika kurungan itu terbalik.

Bukan lagi sebagai penjara, melainkan menjadi sarang yang nyaman bagi sang ayam. Di salah satu bagian tertulis 'Ketika kebebasan berkata-kata, tidak lagi dikurung, tidak lagi dikungkung. Maka, berkata-katalah yang baik, yang membuat hidup kita menjadi lebih baik'.

Itu adalah karya Ary Okta yang berjudul Berkata Apa (2018). Seni instalasi itu menjadi salah satu karya yang dipamerkan dalam Artpression 16 Perempuan Memandang Dunia. Pameran itu berlangsung pada 8-20 Januari 2018 Galeri Cipta 2 Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Ary Okta bersama 15 seniman lain berturut pamer karya dalam helatan itu. Tercatat nama-nama lain seperti Aida Prayogo, Anne K Adijuwono, Elisha, Hediana Utarti, Ka NA, Lydia Poetrie, Maria Tiwi, Moendy, Naaomi Meneng S Ferrier, Reny Alwi, Revoluta S, Titis Jabaruddin, Ulil Gama, dan Wa Ode Yurijo.

Dalam catatan Pengantar, Yenti Nurhidayat mengungkap bahwa perempuan sering kali ditempatkan dalam posisi subordinat dalam banyak kebudayaan dunia. Peran-peran sosial dan reproduksi yang dibebankan di atas pundak perempuan menyebabkan Perempuan memiliki pengalaman sosial dan spiritual yang sangat berbeda dengan laki-laki.

Perbedaan pengalaman sosial dan spiritual ini juga yang menyebabkan perbedaan cara pandang perempuan dalam memandang dunia dan dirinya sendiri, cara pandang ini akan terlihat dari karya-karya yang mereka ciptakan.

Refleksi

Menurut kurator pameran Puguh Warudju, lukisan tak ubahnya sebuah studi. Karya-karya yang dipamerkan dalam helatan itu merupakan refleksi tentang yang sedang terjadi di sekelilingnya. Itu yang menjadikan karya seni juga bersifat kritik dan upaya elaboratif terhadap konsep dan praktik konstruksi sosial.

Kritik, disebabkan karya seni selalu bersikap mengambil jarak dari peleburan total terhadap rekayasa sosial sebagai realitas, ia harus mengalami proses inkubasi dan kemudian pengolahan kreatif.

"Ide kreatif bukan lahir dari keserta-mertaan terhadap konstruksi konteks sebagai pemicu gagasan seni, melainkan justru karena dalam rangka mengambil jarak," terang Puguh Warudju dalam kuratorial.

Sementara itu, elaboratif dimaksudkan bahwa melalui karya seni akan terbaca persoalan lebih subtil, detail, dan personal. Persoalan itu bisa meliputi: keluarga, ekonomi, status sosial, kesehatan jiwa raga, etika dan estetika, hubungan antarmanusia, urbanisme, dan keyakinan ataupun religi. Persoalan itu yang kadang luput.

"Kemasan-kemasan simbol yang digarap dengan pengalaman estetis dan kreatif oleh para perupa itu, benang merahnya adalah percikan-percikan penyuaraan dari bahasa hati masing-masing yang bahkan sangat personal namun ditujukan untuk orang lain agar mampu mendengar dan menjadi inspirasi dan motivasi dalam rangka memandang lebih jauh tentang dinamika dunia," tegas Puguh.(Abdillah M Marzuqi/M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya