Pesan tentang Kekuatan Cinta

Abdillah M Marzuqi
14/1/2018 09:37
Pesan tentang Kekuatan Cinta
(MI/ABDILLAH M MARZUQI)

PULUHAN sosok perempuan yang muncul dalam lukisan itu bukan hanya simbol kosong. Sosok itu merupakan simbol dari jumlah penduduk Indonesia yang jumlah populasinya kian bertambah dan tak terbendung lagi. Karya berjudul Suara Rakyat dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia (2017) itu ialah karya Gigih Wiyono. Ia ingin menggambarkan banyaknya kompleksitas persoalan masyarakat. Jumlah penduduk Indonesia yang semakin banyak, keadilan sosial pun harus diterapkan. Itu idealnya. Padahal banyaknya penduduk juga pasti berimbas pada pemenuhan perut rakyat.

Pertanyaannya, apakah mungkin keadilan sosial terwujud jika perut masih kosong? Gigih Wiyono tentu menjawab keadilan sosial akan terwujud jika perut tidak kosong. Itulah cuplikan dari Pameran Dua Kutub di Galeri Nasional Indonesia pada 10-21 Januari 2018.

Bukan tanpa alasan pameran itu diberi tajuk dua kutub. Menilik dari makna kata, kutub berarti ujung poros atau sumbu bumi atau ujung batang magnet yang mempunyai sifat tarik-menarik.

Pameran Dua Kutub bermakna bertemunya dua sisi yang bisa jadi sangat berbeda. Titik persinggungan yang diisi dua jalur yang berlawanan tetapi saling melengkapi. Dua kutub merupakan pemikiran yang berangkat dari dua seniman yakni Masdibyo dari Tuban Jawa Timur dan Gigih Wiyono dari Sukoharjo Jawa Tengah.

"Secara garis besar karya yang saya tampilkan dalam pameran dua kutub kali ini berbicara tentang berkah, ibu, daun, dan simbol-simbol kehidupan lainnya. Hal tersebut menyiratkan tentang pengorbanan dan ketulusan memberi juga kekuatan kasih. Ini saya yakini sebagai bentuk darma yang kelak pasti tumbuh, seperti pada prinsip dan keyakinan petani, siapa yang menanam akan menuai," terang Gigih Wiyono.

Dalam pameran Dua Kutub ini, Masdibyo menyajikan 30 lukisan yang dibuat pada kurun 2007-2017, sedangkan Gigih Wiyono menyajikan 23 lukisan dan 9 patung yang diproses pada 2013-2017.

Keunikan pada karya-karya yang mereka ciptakan sangat berbeda. Perbedaan latar belakang studi maupun proses penciptaan menjadikan Dua Kutub memiliki arti penting untuk dipresentasikan dalam pameran bersama sebagai pengungkap spirit yang mereka angkat dalam karya.

Dua Kutub Masdibyo dan Gigih Wiyono, hadir membawa pesan tentang kekuatan cinta. Mereka menghadirkan spirit yang membawa energi perdamaian dan kasih sayang. Tentang manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam dan manusia dengan Tuhan. Tentang mikrokosmos-akrokosmos, yin-yang, lingga yoni, vertikal-horizontal, positif negatif, kekuatan, dan kelenturan. Kekuatan saling berpasangan yang tak mungkin bisa tercipta tanpa saling ada dan melengkapi.

Proses kreativitas

Mengenai kesatuan, harmoni, dan keseimbangan dihadirkan melalui proses kreativitas yang panjang secara individu. Masdibyo berproses di daerah pesisiran sedangkan Gigih Wiyono bereksplorasi di daerah pertanian.

Secara sosio kultural mereka sangat berbeda tetapi hasil kreasi mereka penuh energi. Seperti energi garam dan ikan laut dengan energi asem dan padi, namun mereka saling melengkapi dan memperkuat. Yang satu berbicara mengenai kesendirian, kontemplatif, dan kekuatan tunggal, yang satunya berbicara tentang komunalitas, keramaian, dan kebersamaan.

Kehadiran mereka bersumber pada kekuatan hati yang ingin menebarkan benih cinta dengan harapan menjadi kesadaran kolektif masyarakat dalam melihat sisi kehidupan yang heterogen. Menurut mereka, sejak mulai adanya peradaban manusia di bumi, seni, dan budaya telah terbukti ampuh menyatukan berbagai persepsi sehingga perbedaan ialah rahmat yang patut disyukuri dengan cara saling menghargai.

Mereka sepakat hadir bersama dengan kekuatan dan kreativitas yang berbeda namun saling menebarkan energi positif. Energi dua kutub memiliki arti harfiah sebagai ujung poros atau sumbu bumi. Ujung magnet yang mempunyai sifat saling menarik. Secara genetik sumber ide penciptaan mereka memang berbeda, sehingga pendalaman subyek memiliki karakter yang cenderung berlawanan.

Dalam tata letak juga menagnut konsep dua kutub, karya keduanya ditata saling berjajar. Hal itu dilakukan untuk memunculkan karakter saling melengkapi antara minimalis dan kompleksitas, antara warna cerah dan kelembutan.

Masdibyo sebagai perupa yang menggawangi kutub utara sudah cukup lama menggarap persoalan rakyat tentang kearifan lokal, cinta kasih, dan kelembutan, sedangkan Gigih Wiyono yang tumbuh berkembang di wilayah pedesaan dan pertanian sebagai penjaga kearifan lokal Kutub Selatan. Ia mencitrakan mitos simbol padi dan kesuburan yang menjadi tumpuan kaum agraris. Ia banyak memasukkan mitos-mitos kesuburan seperti huruf Jawa dan motif tradisi. Semua itu dihadirkan secara kontemporer.

Dalam pameran ini, mereka melebur dalam satu tema Dua Kutub, sebagai harmonisasi yang tersublim dalam karya-karyanya. Kehadiran mereka sebagai bentuk ekspresi estetis, cinta kasih, dan bahkan tentang kegelisahan.

Menurut Guru Besar ISI Yogyakarta Dwi Marianto, kedua perupa itu memang beda karakter, Masdibyo mengekspresikan ide-ide yang muncul dari dunia batin dan alam bawah sadarnya melalui figur-figur manusia. Kebanyakan dengan figur-figur jamak, sedangkan Gigih Wiyono, nampak melalui judul dan materi subjek karyanya, banyak mengambil ide dari lingkungan alam dan budaya yang melingkupinya. Ide-ide dari lingkungan itu dicernanya, jadi tafsir yang ditransformasikan menjadi karya.

"Karya kedua perupa ini memang berbeda. Cara pandang dan ideologinya pun berbeda. Mungkin karena berbeda itulah mereka dapat berkolaborasi, saling melengkapi, dan mengontraskan," terang Dwi Marianto.

PAMERAN DUA KUTUB: Pengunjung sedang memperhatikan Pameran Dua Kutub di Galeri Nasional Indonesia pada 10-21 Januari 2018. Dua Kutub merupakan pemikiran yang berangkat dari dua seniman, yakni Masdibyo dari Tuban Jawa Timur dan Gigih Wiyono dari Sukoharjo Jawa Tengah.(M-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya